
"Puang, dobrak saja pintunya!!!"
Puang Tuo menggangguk lalu segera mendekat ke arah pintu.
"Menyingkir lah, Nak!!!" teriak Puang Tuo membuat Raina dengan cepat menyingkir dari pintu.
Bruk
Bruk
Bruk
Suara keras itu terdengar saat Puang Tuo menabrakkan tubuhnya ke permukaan pintu yang bergerak sedikit nyaris terbuka dengan sekuat tenaga.
"Rainaaa!!! Tolong aku!!!" teriak Erni di dalam sana.
Puang Tuo menarik nafas panjang berusaha untuk mengumpulkan seluruh kekuatannya diumurnya yang telah tua renta ini.
"Aaaaaa!!!" teriak Puang Tuo lalu kembali menabrakkan tubuhnya ke permukaan pintu kayu.
Bruak
Pintu terbuka membuat tubuh Puang Tuo terhempas ke permukaan papan rumah dengan sangat keras membuat Raina dengan cepat berlari masuk ke dalam rumah.
"Puang tidak apa-apa?" tanya Raina yang dengan cepat berlari menghampiri Puang Tuo yang terlihat meringis sambil memegang lengan tangannya.
"Aku tidak apa-apa, tenang saja!" ujarnya cepat membuat Raina memegang pergelangan tangannya membantunya untuk bangkit.
"Cepat selamatkan, Erni!!!" teriak Puang Tuo.
"Erni!!!"
"Kamu dimana?!!" teriak Raina dengan kedua matanya yang telah merambah ke segala arah berusaha untuk mencari sosok Erni.
"Raina!!!! Aku di sini!!! cepat tolong aku!!!" teriak Erni dengan suaranya yang terdengar telah serak karena sejak tadi telah berteriak.
Raina menoleh menatap Erni yang berada di atas papan serta sosok Parakang yang begitu sangat menyeramkan sedang memegang kaki Raina.
Raina terdiam dengan wajah tak menyangkanya menatap sosok itu. Apakah itu benar-benar adalah Saoda? Itu yang kini terlintas di pikiran Raina.
Erni menoleh menatap sosok Raina yang kini ada di luar kamarnya. Ia bisa melihat jelas di balik genangan air matanya yang nyaris tumpah.
"Raina tolong aku!!!"
"Raina tolong aku, Raina!!!" teriak Erni.
Raina meneguk salivanya ia melangkah mundur saat ia bisa melihat sorotan mata tajam pada sosok Parakang itu yang seakan menggambarkan jika ia mengenali Raina. Apakah Saoda marah kepadanya?
Raina menoleh menatap Puang Tuo yang terlihat begitu terkejut ketika ia telah melihat sosok Parakang.
Raina berlari menghampiri Puang Tuo dengan wajahnya yang begitu sangat panik.
"Pung Tuo, apa yang harus kita lakukan saat ini?!!"
"Tolong lakukan sesuatu, Puang! Aku mohon!!!" teriak Raina begitu sangat ketakutan dengan tubuhnya yang telah gemetar.
Puang Tuo kini terdiam, ia sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Puang Tuo, cepat katakan!!!" teriak Raina dengan air matanya yang telah tumpah ruah membasahi pipinya, wajahnya pun telah memerah.
"Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Erni!!!" teriak Puang Tuo membuat Raina tersentak kaget.
"Apakah itu, Puang Tuo!!! Cepat katakan!!!" teriak Raina.
"Kau harus memukul Parakang itu dengan kayu sebanyak satu kali dan jangan memukulnya lagi yang kedua kalinya."
"Jika Parakang itu mendapat pukulan satu kali maka dia akan merasa kesakitan hingga ia bisa mati dengan rasa sakit itu."
"Jika ia mendapatkan dua pukulan maka tak ada yang bisa membunuhnya, siapa pun itu dan seberapa besar ilmu yang ia miliki maka tidak akan ada yang bisa mengalahkannya," jelasnya.
Raina terdiam ia kini tak tahu harus melakukan apa. Bagaimana mungkin ia melakukan itu kepada Saoda? Dan jika ia melakukan hal itu apakah itu berarti Saudara akan mati?
"Apa Saoda akan mati?"
"Apakah itu berarti aku tidak akan bertemu dengan saudara lagi, Puang Tuo?"
Puang Tuo menggangguk membuat Raina terdiam dengan wajah sedihnya.
"Tapi itu tidak mungkin aku lakukan, aku tidak punya keluarga lagi. Aku tidak mau kehilangan kehilangan dia, Puang."
"Dia yang telah merawatku dari kecil hingga aku besar, dia yang telah menggantikan sosok Ambo dan Indokku."
"Aku tidak mungkin melakukannya, Puang. Aku tidak mungkin melakukannya."
"Apakah tidak ada cara lain selain itu?"
"Raina!!! Tolong aku!!! Kakiku terasa sakit!!!" teriak Erni membuat Raina menoleh menatap Erni yang terlihat begitu kesakitan.
Pergelangan kakinya telah memerah nyaris terkelupas kulitnya disentuh oleh tangan berkuku panjang Parakang itu.
"Puang Tuo, cepat katakan! Apakah ada cara lain yang bisa aku lakukan untuk menyelamatkan Erni!!!" teriak Raina.
"Tidak ada cara lain."
"Tolong berpikir lagi, Puang!"
"Tidak ada yang bisa kau lakukan selain melakukan yang telah aku perintahkan. Cepat lakukan atau kau akan kehilangan Erni."
"Tapi bagaimana dengan Saoda?"
"Dia akan mati."
Raina menggeleng.
"Tapi aku sangat menyayangi Saoda, Puang. Aku sangat menyayanginya!!!"
"Kau hanya bisa menyelamatkan satu orang!!!" teriak Puang Tuo.
"Bagaimana aku harus memilih antara Erni dan Saoda. Mereka berdua adalah orang yang sangat berarti bagi aku!!!" teriak Raina.
"Raina cepat tolong aku!!! Aku tidak tahan lagi!!!" teriak Erni yang sudah menangis sesenggukan.
Raina mengigit bibirnya, tangannya gemetar lalu mengusap kepalanya yang telah berkeringat itu.
"Indoooo!!!" teriak Raina.
__ADS_1
Sorot mata merah Parakang itu melirik menatap Raina begitu tajam seakan ia bisa mendengar suara Raina.
"Indooo!!!" teriak Raina lagi.
Raina kini mendekatkan langkahnya mendekati sosok Parakang yang kini masih menatapnya.
"To-to-tolong lepaskan, Erni, Indo."
"Tolong lepaskan Erni. Aku mohon," ujar Raina dengan penuh mohon.
Ia masih melangkah mendekati Parakang yang kini masih menatapnya. Raina berlutut dengan tangannya yang masih memohon.
"Indooo, ini Raina."
"Indo, ini Raina."
"Raina tahu kalau Indo mendengar suara Raina."
"Raina mohon Indo. Tolong lepaskan Erni!!!"
"Raina tahu kalau Indo adalah orang yang baik-"
"Jangan ikut campur Raina!!!" teriak Parakang itu dengan suaranya yang berbeda dengan suara Saoda yang sering Raina dengar.
"Indooo, tapi ini tidak baik!!!"
"Balas dendam aku tak bisa ditunda, ini adalah kesempatan aku untuk membalaskan dendam!!!"
"Dendam apa yang Indo simpan? Lupakan semua itu, Indo!!!"
"Ikutlah bersama Raina!!!"
"Siapa yang akan menjaga Raina jika Indo tidak ada?"
"Diam lah Raina!!! Aku tetap ada untuk menjaga kau jika kau tidak ikut campur!!!" teriaknya.
Raina melepaskan tangannya.
"Indo, aku tahu Indo adalah orang yang baik."
"Indo, tidak jahat."
"Tolong lupakan semuanya, Indo!"
"Memaafkan orang itu yang terbaik, Indo. Balas dendam bukanlah cara yang terbaik untuk menyelesaikan semua masalah."
"Lepaskan Erni, Indo! Raina mohon!"
"Raina mohon, Indo."
Raina menjulurkan jari-jari tangannya ke arah sosok Parakang itu yang kini terdiam.
"Kembalilah kepada Raina! Raina mohon!"
"Kembali ke jalan yang benar! Jika Indo benar-benar sayang kepada Raina."
Sosok Parakang itu kini terdiam dengan raut wajahnya yang menyeramkan itu terlihat berubah disusul sorot matanya yang kini perlahan meredup membuat genggaman tangannya dari pergelangan kaki Erni merenggang.
__ADS_1
"Ah!!!" teriak Erni yang dengan cepat menarik kakinya membuat Puang Tuo dengan cepat berlari dan membantu Erni untuk bangkit dan menjauh dari Parakang itu.
"Indo," ujar Raina dengan nada lemah lembut kepada Parakang itu.