
"Ayo periksa!!!"
"Cepat naik!!!"
"Tangkap dia jika kalian melihatnya!!!"
"Ya, tangkap dia!!!"
Suara teriakan itu terdengar begitu sangat nyaring diiringi tatapan khawatir Raina dan Erni yang beraliran tanpa henti.
"Bagaimana ini?" bisik Erni.
Raina terdiam sejenak. Ia menoleh menatap Puang Tuo yang kini nampak merabah kakinya dengan wajah yang nampak meringis.
"Ayo Puang kita sepertinya harus cepat! Kita tidak boleh membuang waktu! Kalau kita terlambat maka mereka akan melihat Indokku!"
"Ayo Puang Tuo kita harus cepat jangan sampai mereka melihat Indok aku yang telah menjadi sosok Parakang di dalam sana!"
"Ayo Puang kita harus cepat! Aku tidak mau mereka menyakiti Indok aku," ujar Raina yang berusaha untuk menarik Puang Tuo yang masih berada di atas tanah.
Puang Tuo meringis kesakitan, ia menyentuh permukaan kakinya yang terasa sangat sakit. Ia berusaha bangkit namun itu tidaklah mudah. Sekuat tenaga ia bangkit tapi itu tidaklah mampu membuatnya bangkit.
"Bantu aku berdiri!" minta Puang Tuo membuat Raina dan Erni segera menggenggam pergelangan tangan Puang Tuo dan menariknya dengan sekuat tenaga untuk membantunya berdiri.
"Ahhh!!!" teriak Puang Tuo ketika secara bersamaan tubuhnya terhempas ke tanah.
"Aaaa!!" ringis Puang Tuo sambil menyentuh pergelangan kakinya.
"Ada apa, Puang?" tanya Raina yang menyentuh kedua bahu Puang Tuo.
Puang Tuo mendongak menatap Raina yang nampak cemas dengan tatapannya.
"Se-se-sepertinya aku tidak bisa berdiri."
"Kenapa, Puang?" tanya Erni.
"Kaki aku terasa sangat sakit," ujar Puang Tuo sambil meremas kaki kanannya yang terasa sakit.
__ADS_1
"Puang, aku mohon cepatlah! Coba sekali lagi!" harap Raina.
Puang Tuo mengangguk membuatnya mengigit bibir dan berusaha untuk bangkit dari tanah. Ia mencoba bangkit namun itu tidaklah mudah. Pergelangan kakinya terasa sangat sakit dan sangat untuk digerakkan.
"Ah, sepertinya aku tidak bisa, Nak! Kaki aku terasa sangat sakit," aduhnya dengan wajah yang meringis.
"Jadi bagaimana sekarang, Puang?" tanya Erni.
"Kalian ka-ka-kalian harus cepat masuk ke dalam sana sebelum mereka memukul Parakang itu!!!"
"Cepat pergi!!!" teriak Puang Tuo.
Pintu terhempas ketika Puang Edi menendangnya dengan keras membuatnya menoleh menatap ke segala arah sisi rumah yang terlihat gelap gulita. Ia melangkah maju mendekati dalam rumah dengan pandangannya yang meraba ke segala arah mencari sosok Parakang yang entah di mana keberadaannya para warga juga saling menatap ke segala arah mencari sosok Parakang itu dengan cahaya api di obor yang menyinari ruangan rumah membuat mereka menatap dengan serius area rumah.
Suara langkah pelan ketika ia melangkah membuat papan berbunyi kecil diiringi suasana yang begitu sangat sunyi.
Puang Edi melangkah dengan pelan lalu ia menoleh menatap tempat pintu masuk yang dihalang dengan permukaan kain gorden yang merupakan penghalang antara ruangan kamar. Ia menatap dengan wajah penasarannya mungkinkah sosok Parakang itu ada di dalam kamar.
Puang Edi meneguk salivanya lalu dengan paksa entah mengapa detak jantungnya berdetak sangat cepat seperti ini.
Ia melangkah kakinya menuju ruangan kamar dengan langkah kakinya yang bergerak dengan pelan dan tenang hingga suara papan berbunyi pelan.
Suara teriakan itu terdengar dari luar kamar membuat Puang Edi menoleh.
"Tidak ada di sini!!!" Suara teriakan itu kembali terdengar.
"Kami tidak melihat ada sosok Parakang di dalam sini!!!"
"Di dalam sini juga tidak ada!!!"
Suara teriakan yang berasal dari dapur terdengar, itu adalah suara salah satu warga yang telah memeriksa ruangan dapur.
"Coba lihat ke depan sana!!!"
"Di depan sini juga tidak ada!!!" Suara sahutan dari depan terdengar diiringi suara teriakan yang kembali bersahutan di belakang sana membuat Puang kembali menoleh ke arah depan yang berhadapan dengan ranjang kayu.
Puang Edi meneguk salivanya dengan paksa. Ia mengangkat obor yang menyala-nyala itu agar ruangan kamar terlihat dengan jelas.
__ADS_1
Jika tidak ada sosok Parakang di bagian-bagian rumah dan yang lainnya maka sudah jelas jika sosok Parakang itu ada di dalam kamar ini, yah seperti itu yang kini ada di pikiran Puang Edi membuatnya dengan penuh ketakutan menatap seisi ruangan kamar.
Ia memutar tubuhnya yang berdiri kokoh dengan tatapannya yang penuh waspada menatap ruangan kamar.
Suara burung hantu dan anjing terdengar bersahutan di luar sana membuat Puang Edi bisa merasakan jika bulu kuduknya merinding karena takut.
Siapa yang bisa tahan jika telah berada di dalam kondisi yang seperti ini. Suara kayu terdengar di atas sana membuat Puang Edi mendongak ke atas menatap permukaan bagian penyanggah atap rumah.
"Aaaaa!!!" teriak Puang Edi yang begitu sangat terkejut membuat tubuhnya terhempas ke papan kayu.
Kedua mata Puang Edi membulat menatap sosok Parakang berambut panjang dan tubuh tel*njang bulat sedang berada di sebuah pinggiran atap celah bagian kayu penyanggah atap rumah dengan kedua mata merah menyala serta menakutkan.
"Aaaaaa!!!"
"Toloooonggg!!!"
"Parakangnya ada di kamar!!!" teriak Puang Edi.
Puang Edi menggerakkan kakinya berusaha untuk menjauh dari sosok Parakang yang bisa saja melompat dan memakannya di detik ini juga.
Parakang itu akhirnya ia melihatnya setelah sekian lama ia telah cari-cari namun tak kunjung bertemu dan kini ia telah dipertemukan di dalam ruangan kamar ini.
"Kau mahluk jahanam!!!" teriak Puang Edi sambil menunjuk ke arah Parakang itu.
"Kau mahluk jahat yang telah merenggut nyawa istri dan anak aku."
"To-to-toloooong!!!" teriak Puang Edi.
Suara langkah lari terdengar mendekati ruangan kamar membuat Puang Edi menoleh menatap para warga yang kini telah berada di dalam kamar dan menghampirinya.
"Ada apa, Puang?" tanya salah satu warga.
"I-i-itu dia Parakang yang selama ini kita cari!!!" teriak Puang Edi sambil menunjuk membuat semua orang mendongak dan terbelalak menatap sosok Parakang yang langsung melompat ke arah atap, menembus atap itu dengan keras.
"Dia kabur!!!"
"Kejar dia!!!"
__ADS_1
"Cepat!!!"