Parakang

Parakang
76. Melihat Pelaku


__ADS_3

"Tidaaaaaaak!!!"


Suara teriakan gadis kecil terdengar membuat Saoda langsung menoleh menatap gadis kecil yang berwajah mirip dengannya nampak berteriak sambil merentangkan jari-jari tangannya ke arah Saoda yang begitu sangat jauh untuk ia gapai.


Boamm!!!


Suara keras itu terdengar ketika puang Sae langsung melemparkan obor ke tubuh Sambe yang langsung terbakar.


Saoda memejamkan kedua matanya dan kedua telinganya dengan tangan. Suara keras itu bahkan terdengar jelas dan ini semua terasa nyata.


"Aaaaaa!!!"


"Aaaaaaa!!!"


"Toloaaaaaaang!!! Aaaaa!!!"


Suara jeritan itu terdengar diiringi gerakan Sambe yang menggeliat di atas tanah berusaha untuk menghindar dari api yang telah membakar seluruh tubuhnya.


"Indooo!!!" teriak Saoda.


Saoda berlari berusaha untuk menghampiri Indonyam. Ia berusaha untuk menolongnya, tapi jari tangannya bahkan tak mampu untuk menyentuh tubuh Sambe yang terbakar.


Saoda menoleh menatap para warga desa yang kini hanya diam.


"Kenapa kalian semua diam saja? Ayo tolong Indoku! Ayo tolong Indoku!!!" teriak Saoda yang berteriak di hadapan para warga desa yang sama sekali tak melihatnya.


Saoda tak mengerti dengan apa yang terjadi sekarang. Ia benar-benar tak mengerti.


Suara teriakan Sambe kembali terdengar membuat Saoda menoleh menatap nanar pada tubuh terbakar Indonya.


"Indooooo!!!" jerit Saoda.


Saoda bangkit dari tidurnya dengan nafas yang ngos-ngosan. Kedua mulutnya terbuka dengan cucuran keringat yang membasahi seluruh tubuhnya. Saoda menoleh menatap ke segala arah dan membuatnya menghela nafas panjang.


Ia menyentuh kepalanya yang berkeringat itu. Rupanya ini hanya lah sebuah mimpi. Bukan hanya sekali Saoda mendapatkan mimpi ini, tapi ini adalah mimpi yang kedua kalinya.


Saoda menoleh mentap ke arah jendela setelah mendengar suara lonceng kerbau. Hal itu membuatnya langsung bangkit dari tempat tidurnya dan melangkah mendekati jendela jendela.


Dari sini Saoda bisa melihat sosok tuo dan puang Dodi yang kembali mengeluarkan puluhan kerbau-kerbaunya.


"Apa kalian akan pergi?" tanya Saoda membuat puang Dodi dan Tuo mendongak menatap Saoda.

__ADS_1


"Iya, Nak."


"Kalian ingin meninggalkan aku di sini?"


Puang Dodi dan Tuo saling bertatapan lalu tak berselang lama Puang Dodi kembali menatap Saoda yang masih berdiri di balik jendela.


"Aku tidak lama, Nak. Hanya sebentar. Tinggal lah dulu di rumah."


Saoda terdiam membiarkan Puang Dodi dan Tuo yang kini telah melangkah pergi bersama kawanan para kerbau.


Saoda melangkah menuju tangga dan diam sejenak di anakan tangga. Ia diam menyendiri hingga suara teriakan Indonya terdengar.


Kedua mata Saoda membulat. Ia langsung menutup kedua telinganya dan menutupnya dengan rapat. Suara itu begitu jelas terdengar seakan menikam gendang telinganya begitu keras.


Suara yang ia dengar itu kembali membawa Saoda pada peristiwa pembakaran itu. Kenangan buruk yang tak akan pernah mungkin Saoda lupakan selama hidupnya.


Saoda membuka matanya dan menjauhkan kedua tangannya dari telinganya. Ia menoleh ke segala arah sebelum ia bangkit masuk ke dalam rumah.


Duduk sendiri dan melamun seperti tadi hanya membawanya menginhat kenangan pembakaran yang begitu menimbulkan trauma berat bagi Saoda.


Saoda kembali menyibukkan dirinya pada pekerjaan rumah seperti menyapu, memasak, membersihkan peralatan makan dan mencuci pakaian sampai menjemurnya.


Tak mudah untuk melakukan pekerjaan rumah sebanyak itu diusianya yang masih kecil. Dia tetap lah gadis kecil yang masih berusia lima tahun. Bahkan kini Saoda baru menyadari jika ia sudah seperti Tuo yang tak lagi menghabiskan waktunya dengan cara bermain.


"Kau sudah pulang?" tanya Saoda lalu ia duduk.


"Iya," jawab Tuo.


Tuo melangkah masuk ke dalam dapur melewati Saoda dan meraih ember hitam yang pegangannya telah diganti dengan tali karena telah lama rusak.


"Kau ingin kemana?"


"Mencari keong," jawabnya lalu melangkah keluar meninggalkan Saoda yang kini duduk diam dengan tangannya yang masih memegang gelas.


"Keong?" tanya Saoda.


Tak berselang lama gadis itu tersenyum kecil lalu segera melangkah pergi menyusul kepergian Tuo.


"Aku ingin ikut," ujarnya.


Tuo menoleh. Ia mendongak menatap Saoda yang berdiri di pintu masuk rumah.

__ADS_1


"Apa aku boleh ikut?" tanya Saoda.


"Iya, ikut lah!" ujarnya tanpa banyak berpikir.


Mendengar hal itu membuat Saoda tesebyum bahagia. Ia segera berlari turun menuruni anakan tangga dan mengejar kepergian Tuo yang pergi tanpa menunggu Saoda.


"Apa kau juga sering mencari keong?" tanya Saoda disela-sela ia melangkah beriringan dengan Tuo.


"Hanya di musim tanam saja."


"Aku juga sering pergi. Bapakku sering mengajak aku pergi."


Tak ada jawaban dari Tuo yang memilih diam. Saoda mendecakkan bibirnya melihat Tuo yang hanya diam saja.


Saoda berlari ke arah sawah setelah ia berhasil melihat keong walau masih dalam keadaan jarak yang masih agak jauh.


"Keong itu punyaku!!!" teriak Saoda yang masih berlari.


Tuo mengernyit bingung. Gadis yang aneh. Sesampainya Tuo memunguti satu persatu keong yang ia dapatkan dan sesekali ia menoleh menatap Saoda yang berlarian ke sana kemari bahkan ia merampas keong yang ingin Tuo pungut dari pinggiran sawah air sungainya mengalir begitu jernih.


"Ayo kita pulang!" ujar Tuo lalu melangkah pergi meninggalkan Saoda yang langsung bangkit dengan keong-keong di kedua tangannya.


"Tunggu!!!" teriak Saoda.


Keduanya kini melangkah beriringan menuju rumah dengan seember keong yang telah memenuhi ember yang Saoda bawa. Sebenarnya Tuo tak ingin memberikan ember berisi keong itu dan membiarkan Saoda yang membawanya, tapi harus bagaimana lagi gadis kecil itu memaksa dan tak mau banyak berdebart akhirnya Tuo mengijinkannya.


Langkah Saoda yang begitu berat itu kini terhenti setelah dari kejauhan ia bisa melihat puang Sae yang kini sedang asik bersendau gurau dengan pria seumurannya di sebuah keramaian tepatnya di sebuah rumah warga desa yang akan mengadakan syukuran pernikahan.


Mereka semua terlihat begitu bahagia seakan-akan mereka tidak pernah berbuat kesalahan sedikit pun.


apakah mereka tidak mengingat kejadian peristiwa pembakaran itu dan melupakannya begitu saja?


Langkah Saoda yang tertahan itu kini bergetar, wajahnya juga nampak mempias dengan bibir yang terlihat bergetar. Tuo yang masih terus melangkah itu menghentikan langkahnya setelah ia tak mendengar suara langkah Saoda.


Tuo menoleh menatap Saoda yang sudah pucat. Ia yang mengernyit bingung itu dengan perlahan menoleh menatap ke arah tatapan Saoda hingga ia juga bisa melihat gerombolan pria yang nampaknya masih belum sadar jika ada dua orang anak yang sedang menatapnya.


Tuo ingat betul dengan mereka semua dan ini lah yang telah membuat Saoda jadi diam seperti ini. Wajah pucat itu membuat Tuo khawatir.


Tuo segera melangkah berniat untuk membawa pergi Saoda dari sini namun, langkahnya terhenti setelah melihat kejadian yang tidak pernah ia duga.


Bruk!!!

__ADS_1


Tubuh lemas Saoda terhempas ke tanah membuat ember berisi keong itu tumpah berantakan di atas tanah.


__ADS_2