Parakang

Parakang
33. Masuk!!!


__ADS_3

"Sepertinya ada yang ganjal di sini," ujar Puang Edi.


Sunyi, tak ada yang bicara lagi.


"Tadi kau mengatakan jika Erni sakit keras tapi-" Kedua mata Puang Edi menatap dari ujung atas sampai ujung rambut Erni yang langsung menelan salivanya.


"Kau mengatakan jika Erni sakit keras tapi mengapa ia terlihat baik-baik saja?"


"Sudah aku katakan jika Erni butuh bacaan Al-Qur'an agar kesehatannya dapat stabil," jawab Erni cepat.


"Tapi sakit apakah itu yang bisa sembuh jika mendengar bacaan Al-quran?" tanya Puang Edi sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Puang Edi mungkin ada kurang mengerti tentang kesehatan. Tubuh ini memiliki kebutuhan jasmani dan rohani, jika kebutuhan jasmani tidak terpenuhi maka tubuh kita akan sakit seperti berolahraga jika tidak berolahraga maka kita akan sakit seperti juga dengan rohani jika rohani kita tidak terpenuhi maka tubuh ini juga akan sakit."


"Kau tidak mungkin mengerti dengan masalah ini, Puang karena mungkin kau tidak peduli dengan kesehatan rohani kau," jelas Puang Tuo.


Puang Edi kini terdiam dengan wajah datarnya.


Puang Tuo menghela nafas lalu melanghkan turun menuruni anakan tangga membuat Raina dan Erni saling bertatapan.


"Jadi sekarang kembalilah ke rumah masing-masing dan cukup tak perlu ada yang mencurigai tentang sosok Parakang yang ada di rumah ini."


"Karena sejujurnya tidak ada Parakang di dunia ini dan kenyataanya itu hanya pandangan kalian semua."


"Pandangan kalian tentang kepercayaan sosok parakang itu salah. Sekarang kembalilah ke rumah kalian masing-masing dan beritirahatlah!"


Semua para warga saling berbisik sambil mengangguk seakan termakan oleh penjelasan Puang Tuo. Hal ini membuat Puang Edi mulai merasa kesal ia tak mungkin membiarkan semua para warga mendengar dan terhasut dengan apa yang Puang Tuo Katakan. Ia tak boleh membiarkan Semuanya Pergi sebelum ia memastikan jika rumah ini tidak ada Parakang, yah seperti itu yang ada di pikirnya saat ini.


Puang Edi menghela nafas.


"Baiklah sebelum kami semua pergi dari sini maka dari itu isinkan aku dan yang lainnya untuk masuk ke dalam rumah untuk memastikan jika rumah ini tidak ada Parakang bukan begitu kah bapak-bapak?"


"Ya, betul itu!!!"

__ADS_1


"Betul!!!"


"Betul!!!"


"Kira harus periksa!!!"


Suara teriakan itu terdengar begitu sangat nyaring membuat kedua mata Puang Tuo terbelalak setelah mendengar apa yang Puang Edi dan para warga katakan.


Ia tidak mungkin membiarkan puang Edi dan para warga masuk ke dalam rumah karena hal itu dapat membuat masalah baru. Jika Puang Edi dan para warga masuk ke dalam rumah itu berarti mereka akan melihat sosok Saoda yang telah berubah wujud menjadi Parakang.


Mereka sudah jelas akan membunuh dan menyiksa sosok Parakang yang telah menjadi bulan-bulanan warga selama ini. Hal yang paling Puang Tuo takuti adalah jika mereka memukulnya satu kali maka Parakang itu akan mati dengan rasa tersiksa yang terjadi perlahan tapi sangat menyakitkan akan tetapi hal yang paling berbahaya adalah ketika mereka memukul secara bersamaan dan itu berarti mereka sosok Parakang itu tidak mendapat pukulan satu kali tapi berkali-kali dan hal itu menyebabkan tidak akan ada yang bisa mengalahkannya siapa pun itu dan bagaimana pun caranya ia berusaha untuk membunuhnya.


"Bapak-bapak semuanya sekarang juga mari kita masuk ke dalam untuk memastikan jika rumah ini tidak ada Parakang!!!"


"Ayo sekarang kita masuk!!!"


"Ayo cepat-cepat!!!"


Suara teriakan mereka terdengar diiringi dengan langkah yang mendekati rumah berta para warga yang mendekati Puang Tuo, Raina dan Erni.


"Bagaimana ini Puang Tuo?" bisik Raina dengan wajah ketakutannya.


Jika seperti ini maka nyawa sosok Saoda yang berwujud jadi Parakang itu akan terancam. Raina tak mau jika ia kehilangan sosok Saoda, orang yang selama ini telah menggantikan sosok kedua orang tuanya.


Saoda yang telah merawatnya dari kecil sampai sekarang.


"Saudara-saudara, tenang dan dengar kan aku!!!" teriak Puang Tuo yang mulai merentangkan tangannya ke depan berusaha untuk menghentikan para warga yang semakin mendekat.


"Ada apa lagi?" tanya Puang Edi dengan wajahnya yang begitu sangat keherangan.


Entah mengapa ia merasa curiga dengan tingkah laku Puang Edi.


"Jika benar todak ada sosok Parakan di dalam sana mengapa engkau melarang kami untuk masuk ke dalam sana?" tanya Puang Edi.

__ADS_1


"Kau tidak boleh masuk ke sembarang rumah!!!" tahan puang Tuo.


"Memangnya ada apa di dalam sana?!!! Jika tidak ada sosok Parakang di dalam sana maka kau tidak perlu melarang kami untuk masuk ke dalam rumah itu!!!"


"Kau harus mempertahankan etika dan sopan santun. Kau tidak boleh masuk ke dalam ini!!!" teriak Puang Edi bersikeras.


"Hah, tetapi aku merasa curiga jika dalam rumah ini ada sosok Parakang karena kau telah melarang untuk masuk ke dalam sana!!!"


"Aku sudah bilang tidak ada Parakang di sini!!!" teriak Puang Tuo dengan nada suaranya yang ditinggikan.


"Oh, aku merasa jika kau menyembunyikan sesuatu dan benar ada sosok parakan di dalam rumah ini."


"Ayo semua para warga kita masuk ke dalam rumah ini!!!"


"Ya, sudah jelas jika ada Parakang di rumah ini!!!"


"Ayo kita masuk!!!"


Puang Edi berlari masuk ke dalam rumah membuat Puang Tuo menahan Puang Edi dengan tangannya yang menyentuh dada Puang Edi.


Dahi Puang Edi mengernyit menatap tajam pada kedua sorot mata tajam Puang Tuo yang ikut menatap tajam.


"Menyingkir lah!!!" teriak Puang Edi yang langsung mendorong tubuh Puang Tuo hingga tubuhnya terhempas ke tanah.


Kedua mata Erni dan Raina terkejut bukan main.


"Puang Tuo!!!" teriak Raina dan Erni secara bersamaan lalu berlari menuruni tangga dan membantu Puang Tuo bangkit dari tanah.


"Ayo periksa!!!"


"Cepat naik!!!"


"Tangkap dia jika kalian melihatnya!!!"

__ADS_1


__ADS_2