Parakang

Parakang
71. Saoda Yang Melakukannya


__ADS_3

"Aku sudah mengembala kerbau, tapi tidak pernah bicara dengan kerbau."


"Ah, anak itu cukup aneh," sambungnya.


"Hei, Nak!!!" teriak Puang Dodi membuat Tuo langsung menoleh.


"Apa kau tidak mau pulang?!!"


"Tunggu!!!" teriak Tuo.


Puang Dodi menghela nafas lalu segera bangkit dari duduknya. Ia mengusap celananya yang kotor bekas duduknya. Ia merentangkan kedua tangannya ke atas sambil menarik nafas panjang merasakan udara segar yang masuk mengisi rongga paru-parunya.


Tuo kembali menatap kerbau kecilnya. Ia kembali mengucapkan kata perpisahan sebelum ia melangkah pergi.


Suara langkah lari anak sapi diiringi lonceng kecil yang berbunyi itu terdengar membuat Tuo menoleh menatap kerbau kecilnya yang mengikutinya.


"Jangan ikut! Aku ingin pulang. Lihat di sana!" Tunjuk Tuo ke arah induk sapi kerbau yang sedang sibuk memakan rumput.


"Pergi ke sana! Itu di sana Ibu kau. Jangan ikut ke sini!" larangnya lalu kembali melangkah namun, suara lonceng kembali terdengar membuat Tuo menoleh menatap anak kerbau yang kembali mengikutinya.


"Syuh!!! Sana pergi!!!" usir Tuo namun, kerbau kecil itu sepertinya tak enggan untuk pergi.


Tuo menghela nafas. Ia menopang pinggang menatap kerbau yang kini sedang menatapnya.


"Apa kau sudah jatuh cinta dengan anak kerbau itu sampai kau tidak bosan untuk melihatnya?!!" teriak puang Dodi membuat Tuo menoleh.


"Cepat kemari! Tidak usah pedulikan anak kerbau itu!!!" teriaknya lagi lalu melangkah pergi.


Tuo yang melihat hal tersebut segera ikut berlari mengejar puang Dodi meninggalkan anak sapi yang kini berteriak seakan sedang memanggilnya dengan suara anak kerbau pada umumnya.


Tuo memelankan langkahnya setelah ia berhasil menyeimbangkan langkahnya di samping puang Dodi yang wajahnya terlihat begitu serius.


Puang Dodi melirik menatap putranya yang sejak tadi melihatnya.


"Ada apa?"


"Tidak."


"Apa kau memang suka mengajak anak kerbau bicara?"

__ADS_1


"Anak kerbau?"


"Yah, yang seperti yang kau lakukan tadi. Berbicara dengan hewan. Kalau ada yang melihat kau nanti kau disangka telah gila."


"Terus mau bicara dengan siapa lagi?"


"Ya, bicara saja dengan yang lain saja. Yang penting kau tidak bicara dengan anak kerbau."


"Bicara dengan siapa? Aku kan setiap harinya hanya bersama dengan Bapak dan kerbau-"


"Tapi, kan sekarang ada Saoda. Ajak dia saja bicara dari pada mulut kau hanya digunakan untuk bicara dengan kerbau."


Tuo menghela nafas. Bagaimana caranya ia bicara dengan Saoda, toh Saoda juga tidak pernah menjawab setiap pertanyaan yang dia berikan.


Puang Dodi yang sejak tadi berjalan kaki kini menoleh menatap Tuo yang tak lagi berujar. Sejak tadi anaknya itu kini hanya diam sambil terus melangkah.


Cukup lama keduanya melangkah hingga memakan waktu dua puluh menit untuk bisa sampai di rumah.


Dari kejauhan Puang Dodi telah dibuat terheran dengan halaman rumah yang kini terlihat begitu bersih tanpa ada sehelai daun yang berserakan mengotori halaman rumah. Biasanya halaman rumahnya ini selalu kotor dipenuhi oleh dedaunan yang berserakan dimana-mana.


"Siapa yang telah menyapu rumah?" tanya puang Dodi yang kini telah menginjakkan kedua kakinya di area halaman rumahnya yang telah bersih itu.


"Bapak, siapa yang telah mencuci pakaian?" tanya Tuo yang kini sedang menyentuh pakaian yang masih teraba basah itu.


Puang Dodi ikut menyentuh permukaan pakaian yang juga teraba basa. Ia menatap Tuo sejenak sebelum keduanya kini menatap serentak ke arah rumah.


Puang Dodi kini melangkah mendekati rumah diikuti oleh Tuo yang juga ikut melangkah mengikuti setiap langkah Puang Dodi yang kini telah menaiki anakan tangga.


Kedua mata Puang Dodi dan Tuo kini menoleh menatap ruangan rumah yang kini telah ditata dengan rapi. Tak ada lagi pakaian bekas pakai yang bertengger di dinding rumah. Semuanya terlihat bersih.


Puang Dodi teringat sesuatu membuatnya dengan cepat menoleh ke arah ujung ruangan yang kini terlihat begitu bersih. Biasanya di sudut rumah itu terdapat banyak bekas karung yang sangat berantakan dan tak sempat bagi Puang Dodi maupun Tuo untuk membersihkannya.


Suara langkah terdengar berjalan di bagian dapur membuat puang Dodi menoleh.


"Bapak!" panggil Tuo membuat Puang Dodi menoleh.


"Tidak ada Saoda di dalam kamar,' ujarnya memberitahu.


Puang Dodi yang mendengar hal itu langsung melangkah ke arah dapur. Ia membuka gorden pintu masuk hingga ia berhasil mendapati sosok Saoda yang kini sedang terlihat sangat sibuk memeletakkan beberapa piring ke atas meja.

__ADS_1


Tuo ikut melangkah dan berdiri tepat di samping Puang Dodi. Ia ikut penasaran dengan apa yang Bapaknya lihat itu sehingga terlihat diam membisu.


Tuo diam dengan tatapan tak menyangkanya menatap gadis yang tak mau bicara kepadanya itu terlihat sedang sibuk.


Saoda menoleh lalu tersenyum menatap dua sosok pria yang kini sedang berdiri di pintu masuk.


"Kalian sudah pulang?" tanya Saoda sambil tersenyum.


Bukan malah menjawab, puang Dodi dan Tuo kini menoleh ke segala arah menatap bagian ruangan dapur yang begitu sangat bersih. Tak ada satu pun yang terlihat berantakan di indra penglihatannya.


Peralatan makan yang awalnya menumpuk kini telah bersih dan telah tersusun rapi di rak piring yang bahkan juga tak terlihat lagi sarang laba-laba yang bersarang di sana.


"Ada apa?" tanya Saoda membuat Puang Dodi dan Tuo menoleh.


"Kau yang melakukan semua ini?" tanya Puang Dodi sambil menunjuk ke segala arah.


Saoda tersenyum lalu mengangguk pelan.


"Benar kah?"


"Maafkan aku. Aku hanya bosan. Aku tidak melakukan apa pun di sini, jadi aku membersihkan rumah saja. Em, apa aku salah? Kalau aku salah tolong maafkan aku!"


"Tidak usah minta maaf! Aku tidak akan marah, Nak! Yang kau lakukan ini sudah bagus, Nak hanya saja kau kan sakit."


Saoda langsung menggeleng dengan senyum tulus yang terukir di bibirnya.


"Aku sudah sembuh, puang."


"Oh, ya?"


Saoda mengangguk.


Tak berselang lama Saoda kembali menoleh menatap meja makan yang telah dihidangkan nasi dan lauk sayur kangkung yang ia masak setelah memetik kangkung di belakang rumah.


"Apa kalian lapar? Ayo makan! Aku sudah memasak kangkung untuk lauk di siang hari ini. Ayo!" ajaknya sambil duduk.


Puang Dodi dan Tuo dengan kompak saling bertatapan dengan wajah kebingungan. Gadis kecil ini tiba-tiba saja telah berubah menjadi gadis yang telah periang, tak sama dengan gadis kecil yang ia temui kemarin. Tak ada lagi kesedihan yang ia lihat dari wajah cantik Saoda.


"Kenapa kalian diam saja?"

__ADS_1


__ADS_2