Parakang

Parakang
58. Lemparan


__ADS_3

Puang Lao menghela nafas panjang. Ia kini teringat dengan satu hal yakni puang Ambo yang merupakan Bapak kepala desa, ya mungkin saja ia bisa membantu mengatasi masalah ini.


Tanpa pikir panjang dan menunggu waktu lama dengan cepat Lao segera berlari melewati kegelapan malam serta kesunyian, tak ada orang satu pun yang ia lihat di sini.


Suara lolongan anjing terdengar bergantian berbunyi membuat suasana menjadi semakin mengerikan. Lao menghentikan larinya dan diam berdiri di hadapan sebuah rumah yang dibagian dindingnya terdapat sebuah cahaya dari obor yang menempel.


"Assalamualaikum, puang Ambo!!!" teriak Lao sambil menatap ke arah pintu rumah berharap seseorang keluar dari rumah itu.


"Assalamualaikum!!!" teriaknya sekali lagi.


Tak ada jawaban dan bahkan tak terdengar suara langkah dari rumah itu.


Beberapa saat kemudian Lao segera berlari naik menaiki anakan tangga yang terbuat dari bambu kuning.


Tok


Tok


Tok


Lao mengetuk pintu kayu sambil sesekali ia menoleh ke arah belakang menatap area halaman rumah yang begitu sunyi dan gelap.


"Puang Ambo!!!"


Tok


Tok


Tok


Lao kembali mengetuk permukaan pintu dengan harapan ada yang segera membukanya.


Pintu terbuka membuat Lao menunduk menatap anak laki-laki yang hanya memakai sarung sedang berdiri di hadapannya setelah membuka pintu.


"Cari siapa?" tanya bocah laki-laki itu dan dia adalah Bapak dari Edi, ya pria yang telah tumbuh dewasa itu dan dia juga yang telah dijadikan istri dan bayinya sebagai sasaran keganasan Parakang.


"Mana Bapak kau, Nak?" tanya Lao sambil sesekali ia menoleh ke dalam ruangan rumah.


"Siapa itu, Nak?"


Anak laki-laki itu menoleh ke arah Bapaknya yang kini terlihat melangkah ke arah pintu.


Puang Ambo mengernyit bingung menatap Lao yang kini sedang terlihat gelisah.


"Puang Ambo tolong cepat ikut dengan aku!"


"Ikut? Ikut kemana?"


"Puang Ambo, para warga desa mau melakukan niat jahat kepada Sambe, istri Puang Jambe."


"Istri Jambe? Berbuat jahat?"


"Iya, puang. Kita harus cepat ke rumahnya karena puang Sae bilang malau dia mau membakar istri dari puang Jambe."

__ADS_1


"Apa?" kagetnya yang begitu tak menyangka.


Puang Ambo menunduk menatap putranya yang kini terlihat ikut menatapnya.


"Masuk ke dalam dan tutup pintu dengan rapat!"


Anak laki-laki itu mengangguk setelah puang Ambo membelai kepala anaknya.


"Ayo kita pergi!"


Puang Lao mengangguk lalu segera berlari menuruni anakan tangga sembari puang Ambo yang mengikut di belakangnya.


Sesampainya di bawah puang Ambo mendongak menatap putranya yang masih berdiri sambil memegang pinggiran pintu.


"Tutup pintu!!!" teriaknya membuat putranya itu segera menutup pintu dengan rapat dan memilih untuk mengintip di celah pintu menatap Bapaknya yang kini telah berlari pergi bersama dengan puang Lao.


Puang Lao berlari sambil sesekali ia menoleh ke arah belakang berusaha memastikan jika Puang Ambo berada di belakangnya.


"Apa kau serius?"


Suara pertanyaan dari puang Ambo terdengar membuat Puang Lao mengangguk.


"Aku tidak bohong, puang. Aku mendengar sendiri kalau puang Sae ingin membakar istri Puang Jambe."


"Memangnya ada masalah apa? Apa yang sebenarnya telah terjadi?"


"Aku dengar kalau Puang Sae berpikir kalau istri dari puang Jambe itu adalah Parakang karena bayinya yang meninggal setelah digendong oleh Samne, istri dari puang Jambe," jelasnya sambil terus melangkah dengan langkah yang begitu sangat kencang.


...****************...


Tuo tersenyum lalu menggeleng.


"Aku sudah kenyang," jawabnya sambil mengelus perutnya yang telah membuncit ciri khas anak-anak.


"Jangan malu-malu, ya, Nak! Anggap saja rumah ini seperti rumah Nak Tuo sendiri."


"Iya, Tante," jawab Tuo yang agak sedikit malu-malu.


Sambe mengangguk lalu meletakkan kembali wadah yang berisi keong tumis itu.


"Kau mau keong juga, Nak?" tawar Sambe membuat Saoda mengangguk.


Sambe tersenyum lalu segera menyendok keong tumis dan meletakkan keong tumis itu ke atas piring milik Saoda.


"Bakar!!!"


"Ya, bakar dia!!!"


"Bakar!!!"


Suara teriakan itu terdengar membuat dua keluarga kecil ini menghentikan kegiatan makannya dan saling bertatapan dengan wajah kebingungan.


"Sambe keluar kau!!!"

__ADS_1


"Iya, cepat keluar dan jangan bersembunyi setelah kau melakukan sebuah kejahatan!!!"


Sambe meletakan wadah itu ke atas karpet plastik sambil menatap ke arah pintu rumah yang telihat tertutup rapat.


"Suara apa itu? Siapa yang teriak-teriak di malam seperti ini?" tanya puang Jambe.


"Apa mungkin ada pencuri?" tanya puang Dodi sambil menatap Jambe dan Sambe secara bergantian.


Di depan rumah itu telah banyak gerombolan para warga desa yang telah berkumpul sambil masing-masing mereka membawa obor. Mereka semua kini terdiam menanti pintu itu dibuka setelah mereka berteriak cukup keras.


"Sepertinya dia tidak mau keluar dari rumahnya," tebak salah satu dari mereka.


"Lihat Bapak-bapak semuanya. Dia sengaja tidak mau keluar dari rumahnya karena dia takut. Dia takut kalau kita semua akan membunuhnya karena kita sudah tahu kalau dia itu adalah parakang!!!" teriak puang Sae.


"Berarti benar kalau Sambe itu adalah Parakang."


"Aku kan sudah bilang kepada kalian semua kalau istri puang Jambe itu memang Parakang."


"Jadi sekarang bagaimana, Puang? Dia tidak mau keluar. Apa yang harus kita lakukan?"


Puang Sae kini terdiam dengan tatapan marahnya menatap ke arah rumah itu.


"Kalau dia tidak mau keluar berarti kita harus mengancamnya."


"Mengancamnya?"


"Iya. Bapak-bapak semuanya mari kita lempar rumah ini dengan batu agar dia segera keluar. Jika hanya berteriak seperti ini tak akan membuatnya segera keluar."


"Ya, betul!!!"


"Ayo lempar saja rumah ini!!!"


"Ayo kita lempar!!!"


Sae meraih batu kecil sebesar genggaman tangan anak kecil lalu melemparkannya ke arah rumah Sambe. Bukan hanya Sae tapi semua para warga desa yang ada pada saat itu.


Bruak!!!


Bruak!!!


Bruak!!!


Suara keras itu terdengar sangat keras membuat Sambe, Jambe, Dodi dan Tuo terpelonjak kaget sementara Saoda langsung menjerit takut serta kaget dan memeluk tubuh Indonya.


"Suara apa itu?" tanya Sambe yang langsung ikut memeluk tubuh Saoda yang gemetar.


Bruak


Kelimanya langsung menoleh menatap sebuah batu yang terhempas ke permukaan lantai bambu setelah berhasil melewati celah atap yang telah dibuat bocor karena ulah batu itu.


Puang Jambe terdiam sejenak lalu menoleh menatap Puang Dodi yang langsung bangkit.


"Sepertinya ada keributan di luar sana," ujar Puang Dodi lalu melangkah keluar disusul dengan Puang Jambe yang ikut melangkah keluar.

__ADS_1


Suara keributan dan teriakan itu terhenti ketika pintu dibuka oleh puang Dodi disusul puang Jambe yang ikut melangkah keluar dengan tatapannya yang kini merambah ke segala arah menatap para warga yang kini sedang menatapnya.


__ADS_2