
"Kau tanyakan saja pada Bapakku! Dia tahu."
"Oh ya?"
"Iya."
Saoda yang mendengar hal itu langsung berlari meninggalkan Tuo dan menghampiri Puang Dodi yang terlihat masih terbaring di atas rerumputan persis di bawa pohon yang begitu rindang.
Tuo tersenyum kecil lalu ia kembali duduk.
"Puang Dodi!"
"Puang!" panggilnya sambil menyentuh bahu puang Dodi yang terlihat bergerak.
Ia terbangun dan melepas topi dari wajahnya yang sejak tadi menutupi wajah puang Dodi yang tertidur pulas.
Puang Dodi duduk di hadapan Saoda yang begitu serius menatapnya.
"Ada apa, Nak?"
"Aku ingin bertanya."
"Apa, Nak? Katakan saja!"
"Apa nama yang ada di bawah perut kerbau itu?" Tunjuknya sambil menunjuk ke arah kerbau yang tak jauh dari Tuo yang sudah tertawa cekikikan
"Hah?" Tatapnya yang tak menyangka.
"Kau sungguh-sungguh sedang bertanya?"
Saoda mengangguk.
Puang Dodi menghela nafas. Ia melirik menatap Tuo yang langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar suara tawanya tidak terdengar dengan jelas.
"Emmm, begini, Nak. Nanti akan aku beritahu jika kau sudah besar."
"Sudah besar? Memangnya kenapa tidak diberitahu hari ini saja?"
"Tolong mengerti lah, Nak!"
Saoda terdiam sejenak dan memutuskan untuk kembali mendekat Tuo yang sudah lelah untuk menahan tawanya.
"Bagaimana? Apa kau telah mendapatkan jawaban?" tanya Tuo yang berpura-pura tidak tahu.
"Kata puang Dodi aku masih kecil dan akan diberitahukan nanti jika aku sudah besar."
__ADS_1
"Apa menurut kau itu sangat lama?" tanya Tuo yang kini melirik menatap Saoda yang lebih tertarik memperhatikan anak kerbau yang sejak tadi membuatnya pusing untuk mencarikannya sebuah nama yang cocok.
"Menurut aku itu akan lama."
"Kenapa seperti itu?"
Saoda mengangkat bahunya dan menggeleng tidak tahu.
"Aku hanya merasa akan seperti itu. Kalau kau bagaimana?" tanya Saoda yang kini menatap ke arah Tuo.
"Aku juga tidak tahu."
Saoda mengangguk tanda mengerti dan tak berselang lama Saoda kembali fokus menatap anak kerbau itu.
"Jadi sekarang siapa nama kerbau yang cocok untuk anak kerbau itu, yah?"
"Apa kau masih ingin mencarikannya nama?"
Saoda menggangguk cepat.
"Tentu saja lagipula nanti aku takit jika anak kerbau itu akan merasa sedih karena tak punya nama."
Tuo mendecakkan bibirnya dengan perasaan yang tidak menyangka. Entah mengapa pikiran gadis kecil ini selalu saja menggabungkan perasaan dalam segala hal. Memangnya ada kerbau yang akan sedih jika tidak punya nama.
"Sekarang bagaimana? Aku ingin anak kerbau itu punya nama."
"Kau saja yang memberikannya!"
Saoda tak bicara apa-apa. Dia hanya diam merenung dengan pikirannya yang masih memikirkan satu hak yakni nama untuk anak kerbau itu. Sudah lelah rasanya ia mencari nama yang cocok untuk anak kerbau itu.
Moooooo!!!
Suara anak kerbau itu terdengar membuat Saoda menganga. Ia langsung menoleh menatap Tuo yang terlihat begitu kebingungan melihat ekspresi wajah Saoda.
Tak berselang lama Saoda langsung tersenyum penuh kegembiraan yang terpancar dari sorot matanya yang masih setia menatap Tuo.
"Ada apa?" tanya Tuo yang sedikit takut. Bagi Tuo, gadis kecil ini cukup aneh baginya.
Kadang gadis ini tertawa dan kadang gadis ini menangis. Cukup mengherankan.
"Aku sudah punya nama untuk anak kerbau itu," ujarnya.
"Apa?" tanya Tuo.
...****************...
__ADS_1
Suara kicauan burung-burung terdengar berkicau merdu di atara ranting-ranting pepohonan yang menghijau. Dedaunan kering nampak berguguran ke bawah mengenai rerumputan hijau yang tumbuh subur yang dijadikan makanan untuk hewan peliharaan.
Di desa ini bukan hanya puang Dodi yang memiliki Kerbau, tapi ada banyak warga desa yang memiliki hewan peliharaan seperti kerbau, sapi dan beberapa ekor kambing dari berbagai jenis bibit yang terkadang mereka beli di luar desa.
Saoda berlari melewati hamparan rerumputan dan semak-semak yang tumbuh liar.
"Ayo, Mooo!!!" teriak Saoda yang menoleh sejenak menatap ke arah puang Dodi yang kini masih sibuk menarik tali pengikat kerbau sementara Tuo yang kini sibuk mengusir kerbau agar tidak keluar dari gerombolannya.
Suara lonceng terdengar hingga memperlihatkan satu ekor kerbau kecil yang terlihat berlari keluar dari rombongan induknya yang memiliki tubuh yang lebih besar dari pada tubuhnya.
Yah, setelah berdebat dan berpikir untuk mendapatkan nama yang cocok untuk anak kerbau yang kini sedang mengikut di belakang Saoda seakan Saoda lah yang merupakan induknya akhirnya Saoda menetapkan nama kerbau kecilnya itu adalah Mooo.
Terdengar agak lucu tapi Tuo jiga setuju dengan hal itu. Bagi Tuo nama itu tidak terlalu penting toh nanti jika kerbau itu sudah dewasa akan dijual atau dipotong saat hari kurban.
Saoda terlihat memimpin kawanan kerbau sambil sesekali ia meloncat-loncat yang menunjukkan usianya yang memang masih kecil.
Cukup jauh ia melangkah dan harus melewati pinggiran kebun karena bulan ini yang merupakan musim tanam sawah sehingga tanah di sawah akan berlumpur. Mereka biasanya selalu melewati area persawahan pada bulan setelah petani memanen padi.
Tak mudah pula mereka untuk melewati pinggiran kebun milik petani karena Tuo akan berusaha untuk memastikan jika kerbau-kerbaunya itu tidak memakan tanaman yang di tanam di punggir kebun.
Kadang Tuo harus melayangkan beberapa pukulan dari kayu yang selalu ia bawa ke badan kerbau agar kerbau-kerbaunya tidak memakan tanaman milik para petani kebun.
Saoda yang sedang asik melangkah sambil mengelus kepala kerbaunya itu kini terhenti setelah melihat tanaman kangkung yang ada di pinggir kebun.
"Apa aku perlu mengambil kangkung untuk makan malam nanti?" tanya Saoda sambil menunjuk.
"Tidak usah, Nak! Bukankah kita punya tanaman kangkung yang lagi lebih subur dari pada itu," ujar puang Dodi membuat Saoda mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya tanpa memberikan protes sedikit pun.
Tak berselang lama mereka jalan akhirnya mereka tiba di halaman rumah. Saoda ikut mendekati kandang kerbau dan berlutut di hadapan kerbau kecil.
"Jangan nakal, ya! Besok kita akan bertemu lagi."
Tuo yang sedang menutup pintu kandang itu dibuat menggaruk setelah melihat Saoda yang sedang mengajak seekor anak kerbau bicara.
"Sepertinya dia sudah gila. Bagaimana bisa dia bicara dengan anak kerbau seperti itu?"
Puang Dodi menghela nafas.
"Dia sama saja seperti kau."
"Aku?"
"Iya. Memangnya aku lupa? Aku tadi melihat kau bicara sendiri dengan anak kerbau itu," ujar puang Dodi lalu tak berselang lama ia melangkah pergi meninggalkan Tuo yang kini masih menatap ke arah Saoda yang masih mengobrol dengan anak kerbau itu.
"Apa kau mau terus berada di sini dan bicara dengan kerbau itu sepanjang hari?"
__ADS_1