
"Ada apa?"
"Aku merasa lapar," jawab Saoda yang kini langsung tersenyum membuat Sambe tertawa.
"Sabar lah, Nak. Ini tidak lama lagi."
"Sambe!!!"
Suara teriakan terdengar dari luar membuat Saoda menoleh. Ia kenal dengan suara itu.
"Itu Bapak. Bapak sudah pulang," ujar Saoda yang langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke arah pintu dengan perasaan bahagia.
"Bap-"
Langkah dan teriakan Saoda terhenti dengan cepat ketika ia melihat Bapak dan sosok bocah yang begitu sangat menarik perhatian Saoda, ya siapa lagi jika bukan Tuo. Pria si pengembala kerbau.
Mau apa dia ke sini bersama dengan Bapaknya, puang Dodi yang terlihat meletakkan cangkul tepat di samping kendi berisi air.
Saoda melangkah turun menuruni anakan tangga dan memeluk Jambe yang terlihat tersenyum menatapnya.
"Ada apa, Nak?"
Saoda mendongak. Ia menarik ujung baju Bapaknya membuat Jambe menunduk ke arah Saoda.
Saoda berbisik sambil sesekali ia menatap ke arah Tuo dan puang Dodi yang nampak sibuk mencuci kakinya yang tidak terlalu kotor itu.
"Mau apa mereka ke rumah?"
"Oh, Bapak mengajaknya makan malam di rumah dan Bapak juga membawa belut hasil tangkapan Bapak dan Paman Dodi," ujar Jambe yang kini sedang mengangkat sebuah ember ke arah Saoda.
Jambe menoleh menatap ke arah puang Dodi dan Tuo.
__ADS_1
"Ayo puang kita naik ke atas!" ajak Jambe membuat puang Dodi mengangguk.
...****************...
Saoda mengintip dari pintu masuk yang merupakan pembatas antara dapur dan ruang tamu. Dari sini ia bisa melihat Bapaknya yang kini terlihat sedang asik mengobrol dengan Puang Dodi. Entah apa yang mereka bahas, tapi yang jelas mereka terlihat sangat akrab.
Saoda melirik menatap Tuo yang kini terlihat duduk sambil sesekali menggaruk betisnya yang bergaris putih. Kulit kering karena sengatan matahari, ya pria itu sepertinya sudah nyaris hangus.
Pria itu memang pantas memiliki kulit yang kering pasalnya ia jarang memakai baju saat berada di luar rumah.
Tak berselang lama kedua mata Saoda membulat. Ia terkejut saat Tuo ikut menatapnya membuat Saoda dengan cepat menutup gorden dan berlari masuk.
"Ada apa?" tanya Sambe yang nampak sedang memegang nampang besi berisi tiga cangkir teh dan sepiring pisang goreng hangat.
"Aku tidak suka dengan anak laki-laki itu. Dia sepertinya jahat," ujar Saoda.
Sambe tersenyum.
Saoda mendengus kesa. Ia diam berdiri, kembali ia membuka gorden menatap Indonya yang kini melangkah keluar dan meletakkan tiga cangkir ke atas meja dan sepiring pisang goreng.
"Makan, ya, Nak!"
Saoda mendengus kesal saat Indonya yang terlihat mengelus kepala Tuo. Sepertinya Indo juga sayang kepada anak laki-laki itu.
Saoda kembali duduk menatap keong yang kini sudah berada di atas sebuah piring plastik berwarna pink. Wangi harum membuat Saoda tersenyum seakan kekesalannya pada Tuo kini pudar.
"Saoda!"
Saoda menoleh menatap Indonya yang kini terlihat sudah duduk di sampingnya.
"Indo, apa Saoda sudah bisa makan?"
__ADS_1
"Tunggu sebentar, Nak! Kita akan malam bersama."
"Dengan anak laki-laki itu?" tanya Saoda.
"Iya, tentu saja."
"Kenapa dia tidak makan di rumahnya saja."
"Hust! Tidak boleh berkata seperti itu. Ini, kan hanya makan malam. Bukan selalu hanya sekali. Mungkin hari ini kita bisa berkumpul dan kita tidak tahu apakah kita dapat berkumpul seperti ini atau tidak besok," jelasnya membuat Saoda kini hanya bisa terdiam.
...****************...
Suara dentingan sendok yang bergesekan terdengar ketika acara makan malam sedang berlangsung. Sepiring keong tumis, belut goreng menjadi lauk di malam ini.
"Makan yang banyak, Nak!" ujar Sambe yang kini meletakan sesendok keong tumis ke atas piring milik Tuo yang kini terlihat tersenyum.
"Terima kasih."
Sambe mengangguk dan kembali melanjutkan makannya. Saoda yang sejak tadi mengunyah nasi yang ada di dalam rongga mulutnya kini dengan perlahan ikut mengembangkan senyum di bibirnya.
Ternyata Saoda baru sadar jika makan bersama-sama seperti ini begitu sangat menyenangkan dan membuat suasana menjadi lebih indah. Rasanya ada yang berbeda.
Suara tawa terdengar membuat suasana kini menjadi sangat terasa hangat sambil sesekali Jambe melemparkan sebuah candaan kepada puang Dodi yang kini ikut tertawa.
Saoda ikut tersenyum hingga tatapannya berpusat menatap Tuo yang kini terlihat ikut tersenyum sambil sesekali menatap ke arah puang Dodi.
Dari sini Saoda bisa melihat jika anak kecil laki-laki bernama Tuo itu tidak terlalu buruk dan ia juga terlihat bahagia.
Terkadang menilai seseorang tidak bisa dilihat dari bentuk fisiknya saja, tapi dari bagaimana ia berprilaku. Karena perilaku seseorang dipegaruhi oleh hati orang itu sendiri.
Bahagia, ya itu yang Saoda rasakan hari ini dan benar yang dikatakan oleh Indonya jika kebahagiaan itu tidaklah mahal hanya saja orang yang mempersulit untuk mendapatkannya.
__ADS_1