Parakang

Parakang
28. Membujuk


__ADS_3

"Indo," ujar Raina dengan nada lemah lembut kepada Parakang itu.


"Apakah kau tidak apa-apa?" tanya Puang Tuo yang kini sedang memegang kedua bahu Erni yang begitu sangat dingin dan juga terasa bergetar karena ketakutan.


Erni hanya mampu menggeleng lalu menunduk menatap pergelangan kakinya yang telah memerah bahkan terlihat seperti luka bakar yang melingkar di pergelangan kaki Erni.


Raina menatap Saoda dengan penuh tatapan kasih sayang.


"Indo aku mohon tolong kembalilah kepada Raina!"


"Raina sangat sayang kepada Indo. Tolong kembalilah kepada Raina!"


"Raina ti-tidak ingin jika ada masalah yang terjadi kepada Indo."


"Tapi bagaimana dengan balas dendam yang selama ini aku simpan?!!" teriak Parakang itu.


Raina menghela nafas lalu mengusap wajahnya dengan pelan dengan tetapannya yang masih serius menatap Saoda. Ia tak tahu lagi bagaimana caranya untuk membujuk Saoda.


"Indo, aku mohon! Lupakan semua itu! Lupakan tentang balas dendam!"


"Balas dendam bukanlah jalan yang benar, itu hanyalah perbuatan yang sia-sia," jelasnya dengan penuh kelembutan.


"Aku mohon Indo, ini demi kebaikan Raina dan kebaikan Indo juga."


"Aku tidak ingin jika seseorang melukai Indo, aku tidak ingin."


"Aku hanya ingin kita berdua bersama dan bahagia, lupakan semua tentang balas dendam itu, Indo!"


"Asal Indo Tau, Indo adalah sumber kebahagiaan Raina dan Raina juga pasti akan menjadi sumber kebahagiaan bagi Indo.


"Aku mohon Indo, aku mohon," mohon Raina dengan pipinya yang telah basah sejak tadi hingga menetes ke dagunya.


Parakang itu terlihat terdiam, ia tertunduk sejenak lalu kembali menatap Raina dan beralih menatap Erni yang terlihat ketakutan.


Raina yang melihat sorot mata tajam Parakang membuat Raina menoleh menatap ke arah Erni begitu pula dengan Puang Tuo yang kini ikut menoleh menatap Erni yang meringis takut. Ia berlari dengan susah payah dan bersembunyi di balik tubuh Puang Tuo.


"Tapi bagaimana dengan balas dendam itu?!!" teriak Parakang dengan suara yang benar-benar melengking.


"Lupakan semua tentang itu Indo! Ingat tentang Raina, Indo! Indo, tidak perlu memikirkan tentang balas dendam itu!"


"Lupakan semuanya!"


"Aku em aku akan menyuruh Erni untuk minta maaf. Erni akan minta maaf agar Indo tidak marah lagi kepada Erni dan melupakan semua balas dendam itu."


Raina menoleh menatap Erni yang kini ikut menatap Raina. Raina mengangguk seakan memberikan isyarat agar Erni ikut bicara membuat Erni dengan cepat menggeleng ia masih merasa takut jika ia mendekati Raina dan membuat Parakang itu akan kembali menyerangnya.


"Kemari lah!" bisik Raina yang menepuk pelan permukaan papan.


Erni meneguk salivanya dengan tubuhnya yang semakin gemetar karena ketakutan. Ia menggeleng memberikan isyarat jika ia tidak mau.

__ADS_1


"Aku takut," bisiknya.


"Kemari lah!"


Erni kembali menggeleng membuat pegangan tangannya semakin erat mencengkram lengan Puang Tuo.


"Pergi lah!" ujar Puang Tuo membuat Erni melirik menatap Puang Tuo.


"Tapi-"


"Pergi lah jika kau masih ingin hidup."


Erni meneguk salivanya begitu ketakutan membuatnya dengan langkah pincang itu melangkah mendekati Raina dengan tatapannya yang terlihat memantau Parakang.


Ia takut jika Parakang itu kembali menyerangnya. Erni berlutut dan mendekati Raina ia, sesampainya ia langsung menggenggam erat pergelangan tangan Raina sembari menatap sosok Parakang yang kini masih terdiam menatapnya dengan tatapan penuh amarah.


"Apakah ini adalah Indo Saoda?" tanya Erni membuat Raina melirik.


"Iya," jawab Raina membuat Erni sedikit terkejut.


Erni tidak pernah menyangka jika Saodah, wanita yang selalu ia temui dan juga merupakan Nenek kandung dari Raina ternyata merupakan sosok Parakang yang selama ini telah menghantui warga desa.


"Apakah ini serius?" bisik Erni dengan tatapannya yang masih tak pervaya.


"Iya aku serius."


Raina menggeleng, ia pun juga tidak mengerti bagaimana bisa sosok Saoda bisa menjadi Parakang.


"Cepat minta maaf!" bisik Raina.


Erni mengangguk lalu menatap Parakang itu dengan rasa takutnya.


"Indo Saoda, ini a-a-aku Erni, tolong to- tolong maafkan aku jika aku punya kesalahan dan itu yang menyebabkan engkau ingin membalaskan dendam engkau kepadaku tidak tahu apakah kesalahan yang telah aku perbuat..."


"Dan Apa kesalahan yang telah aku lakukan sehingga engkau bisa marah kepadaku. Aku minta maaf, aku sangat minta maaf."


"Aku tidak pernah melakukan suatu kesalahan kepada orang lain sehingga aku juga tidak tahu mengapa engkau ingin menyakiti aku."


"Jika aku punya salah tolong maafkanlah aku! Aku berjanji aku tidak akan mengulangi kesalahan itu."


Kedua mata Parakang itu membulat dan menggerakkan tangannya menghantam permukaan papan membuat ketiga orang ini tersentak kaget.


"Ini tidak akan terima!!!"


"Kau tidak pernah tahu bagaimana perasaanku dan bagaimana kisah yang telah berlalu itu. Keluarga kau telah menghancurkan semua kebahagiaan dan kehidupanku!!!"


"Kau yang telah merebut semua kebahagiaan hingga aku hidup menderita seperti ini!!!" teriak Parakang sementara Raina kini terdiam heran ia menoleh menatap Erni yang kini ikut menatap Raina dengan tatapan yang tidak sama sekali mereka mengerti.


Entah apa yang dikatakan oleh Parakang. Siapa yang telah merebut kebahagiaan dan kehidupannya?

__ADS_1


Raina menoleh menatap Parakang itu yang kini terlihat begitu tajam sorot matanya.


"Apa yang Indo katakan?" tanya Raina.


"Kau tidak akan mengerti semua kisahnya Raina!!!" teriak Parakang.


"Kisah apa yang engkau sembunyikan?" tanya Raina


"Tolong ceritakan semua kisah itu!" minta Erni yang kini juga ikut penasaran.


"Semua kesedihan ini berasal dari orang-orang jahat!!!" teriak Parakang.


"Apa yang Indo katakan?" tanya Raina.


"Semuanya telah terjadi dan itu sudah cukup lama berlalu," sahut Puang Tuo membuat Raina dan Erni menoleh.


"Apa yang Puang Tuo katakan? Apa Puang Tuo tahu kisahnya?" tanya Raina membuat Pang Tuo menghela nafas.


"Bisakah engkau menceritakan kisah itu?" tanya Erni.


"Ya, aku mungkin-"


"Tidak usah ikut campur kau Tuo!!!" teriak Parakang itu membuat ketiga orang ini menoleh.


"Jika kau ikut campur maka kau juga akan kujadikan sasaran selanjutnya!!!" teriak Parakang.


Puang Tuo kini menghela nafas panjang. Ia kini tak rahu harus melakukan apa.


"Kau mengatakan itu karena kau telah tahu jika aku sudah berhenti membiru Parakang."


Puang Tuo kini terdiam mempertahankan kontak mata antara ia dan sorotan tajam mata Parakang itu.


"Ayo serang dia!!!"


"Ayo!!! Jangan sampai dia lepas dari tangan kita!!!"


"Dia yang telah melakukan semua tindak kejahatan ini!!!"


"Dia yang telah membunuh anakku dan juga istriku, dia yang juga telah merebut semua kebahagiaanku!!!"


"Serang dia!!!"


"Bunuh saja dia!!!"


"Ayo tangkap dia!!!"


Suara teriakan itu terdengar diiringi dengan suara pukulan bambu yang begitu nyaring membuat Raina, Puang Tuo dan Erni menoleh menatap ke arah luar rumah ditambah dengan cahaya paparan obor yang terlihat mendekati.


"Suara apa itu?" tanya Raina.

__ADS_1


__ADS_2