Parakang

Parakang
62. Pedih


__ADS_3

"Indooooo!!!" jerit Saoda.


Bruak


Tubuh lemas Saoda tak mampu lagi ia tahan. Ia jatuh tersungkur di atas lantai yang terbuat dari bambu itu membuat genggaman tangan Tuo seketika ikut terlepas tanpa ia sadari.


Kedua mata Saoda memerah dengan kedua bibirnya yang terbuka seakan tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Detak jantungnya seakan berhenti untuk bedetak di detik ini juga. Rasanya udara itu berhenti masuk untuk mengisi paru-parunya.


Apa yang sedang terjadi sekarang? Bahkan rasanya ini adalah sebuah mimpi yang rasanya tak sedang terjadi. Apa ini adalah sebuah kenyataan. Dimana ia telah menjadi saksi atas terbakarnya tubuh Sambe yang kini masih menggeliat dan mengelinding di atas tanah diringi suara jeritan yang begitu menyiksa batin dan perasaanya.


"Indoooo!!!" teriak Saoda yang sudah menangis sesenggukan.


Saoda diam sejenak. Memejamkan kedua matanya dengan erat membiarkan air matanya menetes membasahi pipinya.


"Indooo!!!" teriaknya lagi.


Suara tawa itu terdengar begitu sangat kegirangan seakan sangat merasa bahagia telah membakar Sambe.


Kedua mata Jambe terbuka setelah suara jeritan Sambe terdengar serta cahaya api yang begitu menyilaukan Kedua matanya. Jambe terbangun dari pinsangnya.


Ia meringis merasakan sakit pada kepalanya yang kini masih ia pegang dan ia tekan begitu kuat. Rasanya kepala ini terasa sangat sakit hingga menusuk sampai ke otaknya.


"Aaaaaa!!! Panasaasaaaa!!!"


Kedua mata Jambe kembali membulat. Ia tak lagi meringis dengan wajahnya yang langsung saja terkejut. Ia menoleh menatap ke segera arah berusaha untuk mencari suara wanita yang sangat ia kenal dan sangat ia cintai.


Kedua matanya berhenti bergerak ketika dari kejauhan ia bisa melihat Saoda yang telah selimuti dengan api yang terlihat menyala-nyala.


"Sambe!!!" teriak Jambe dengan kedua matanya yang terlihat memerah.


Ia menoleh menatap gerombolan para warga yang terlihat berdiri mengelilingi istrinya yang terbakar itu. Mereka semua terlihat tertawa seakan ini adalah sebuah tontonan gratis dan menjadi hiburan bagi mereka semua.


"Manusia jahanaaaaam!!!"


Semuanya menoleh menatap ke arah Jambe yang lannsung berlari berniat untuk memukul puang Sae.


Buk!!!

__ADS_1


Satu pukulan itu berhasil mendarat di wajah Puang Sae membuat semua orang terbelalak kaget. Puang Sae tergoyahkan dari tempatnya berdiri. Ia merabah pipinya yang telah dipukul itu oleh puang Jambe yang kini ikut terhempas ke atas permukaan tanah.


Puang Sae yang melihat hal tersebut langsung bangkit dari jatuhnya dan ikut meraih jerkin berisi sisa minyak tanah dan menumpahkannya pada tubuh Jambe.


Buaaam!!!


Sekali lagi suara api yang membakar seseorang terdengar diringi suara teriakan Jambe yang begitu sangat histeris.


"Bapaaaaak!!!" teriak Saoda.


Saoda tak mengerti dengan jalan pikiran semua orang-orang yang dengan teganya melakukan hal itu. Entah dana rasa belas kasihan mereka sehingga dengan tega ikut membakar Bapaknya.


"Aaaaa!!!"


"Aaaaaa!!! Waaaooaaaaaa!!!"


Saoda menangis sesegukan. Kedua matanya terlihat jelas pantulan cahaya apa yang bergerak kiri kanan berusaha untuk lari dari api yang telah menyelimuti tubuhnya.


Harus apa ia sekarang. Saoda bahkan tak tahu harus melakukan apa kepada kedua orang tuanya yang terlihat sangat menderita dengan panas api yang masih menyala itu.


Yang mereka pikirkan adalah akhirnya tak ada lagi Parakang yang akan meresahkan para warga yang tinggal di desa ini. Bagi mereka keamanan dan kenyamanan tinggal di desa ini tetap terjaga walaupun apa yang mereka lakukan dapat dikatakan sebuah tindakan kejahatan ataupun sesuatu hal yang melanggar nilai kemanusiaan.


"Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Puang Sae menoleh menatap salah satu warga yang telah bertanya.


Ia menghela nafas yang cukup panjang sambil meletakkan kedua tangannya di depan dada.


"Sepertinya mereka berdua telah mati. Ayo kita pergi dari sini!"


"Tapi bagamana dengan jazadnya?"


"Apa kau yakin tubuhnya masih utuh setelah dibakar api seperti ini?"


Semua para warga desa kini saling bertatapan seakan sedang menanyakan tentang hal ini.


"Bapak-bapak semuanya, apakah pantas Parakang dan istri Parakang kita kuburkan?" tanya Puang Sae sambil menatap ke arah para warga yang kini terlihat mengangguk.

__ADS_1


"Kita tidak usah memikirkannya dan mari kita pergi dari sini. Anggap saja kita bukan membunuh seseorang tapi kita sudah menyelamatkan satu desa karena telah memusnahkan Parakang!!!"


"Ya, benar."


"Benar!!!"


Suara teriakan dari para warga desa itu kembali terdengar dan tak berselang lama para warga desa kini berangsur pergi meninggalkan dua api besar yang masih menyala itu.


Tuo yang melihat hal itu langsung mengusap pipinya yang telah basah setelah menangis tadi. Ia menunduk menatap Saoda yang kini masih menangis sesegukan.


"Mereke telah pergi," ujar Tuo membuat tangisan Saoda terhenti.


Saoda menoleh menatap ke arah halaman rumahnya yang kini telah kosong dan hanya Bapak serta Indonya yang masih terlihat terbakar dia sana dengan api yang kini telah mengecil, tak sebesar api yang tadi.


Tuo bangkit lalu menunduk menatap Saoda yang kini langsung mendongak.


"Ayo!" ajak Tuo lalu merentangkan tangannya ke arah Saoda.


Saoda menggerakkan tangannya dan meletakkan tangannya di atas tangan Tuo dan


berusaha bangkit dengan susah payah.


Saoda sesekali terjatuh namun dengan cepat dibantu oleh Tuo. Tanpa sengaja jari tangan Tuo menyentuh permukaan celana Saoda yang terasa basah membuat Tuo yakin jika gadis kecil berusia lima tahun itu baru saja buang air kecil di celananya.


Sudah jelas jika Saoda ketakutan sehingga urinenya keluar tanpa ia sadari. Tuo membantunya berjalan, menopang tubuh gadis kecil itu dengan susah payah menuruni anakan tangga yang terdapat bercak darah, ini adalah darah kaki Sambe saat diseret dengan kasar tadi.


Tuo melepaskan pegangannya dari Daoda setelah Saoda mendorong tangan Tuo memberikan kode jika ia bisa jalan sendiri.


Saoda terhempas ke tanah rerumputan yang teraba basah membuat Saoda mengangkat telapak tangannya dan menatapnya hingga air matanya kembali menetes setelah mendapati tangannya yang kini telah dipenuhi oleh darah.


Saoda kembali bangkit dari tanah dan melangkah dengan susah payah mendekati Jambe dan Sambe yang kini telah terkapar di atas tanah dengan tubuh yang terlihat hangus dengan bau darah mendidih yang menyayat hati Saoda.


Saoda terjatuh ke tanah membuat kedua lututnya itu terhempas keras ke permukaan tanah. Kedua mata Saoda telah sembab karena rasa pedih di hatinya yang tak bisa lagi ia utarakan dengan kara-kata.


Hancur hati dan pikiran Saoda, tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Ia mengharapkan jika ini adalah sebuah mimpi, tapi ini terlalu nyata dan sakit untuk diragukan ke aslianya.


"Indo!"

__ADS_1


__ADS_2