Parakang

Parakang
36. Mencoba Menyelamatkan


__ADS_3

"Lari!!!" teriak Puang Tuo.


Erni tersentak kaget setelah mendapat teriakan dari Puang Tuo membuat Erni segera bangkit dari tanah. Ia melangkah mundur dengan perasaan ragu.


"Cepat pergi!!! Apa lagi yang kau tunggu?!! Lari cepat!!!"


Suara teriakan itu kembali terdengar membuat Erni dengan cepat berlari meninggalkan Puang Tuo yang kini nampak terdiam dengan kedua matanya yang menatap ke arah Erni.


Entah apa yang harus ia lakukan sekarang? Kaki sakitnya ini tak mampu untuk menolong Saoda.


Di tempat yang berbeda dan di waktu yang sama, Raina nampak berlari dengan sekuat tenaga berusaha untuk mengejar kepergian para penduduk desa yang masih mengejar sosok Parakang yang berlari tanpa henti.


Kedua mata Raina bisa melihat dengan jelas cahaya api obor yang menyala dan bergerak menyinari bagian pepohonan.


Kedua kaki Raina terus berlari mengabaikan semak-semak yang menjadi jalannya untuk berlari. Tak ada jalan lain bahkan Raina tak memperdulikan ranting-rating yang sempat menggores betisnya yang kini hanya menggunakan sebatas rok selutut itu.


"Ah!!!" teriak Raina saat ia terjatuh ke bebatuan yang menghalangi larinya.


Tubuhnya terhemas ke tanah membuat kedua sikunya itu terhempas ke atas bebatuan dan tergores membuat darah segar mengalir begitu saja.

__ADS_1


Raina bangkit dengan susah payah, sepertinya bukan hanya sikunya yang terluka tapi kedua lututnya juga.


"Cepat kejar dia!!!"


"Dia ada di sebelah sana!!!"


"Cepat lari!!!"


Raina yang berusaha bangkit dari tanah itu langsung dibuat terkejut membuat kedua matanya membulat. Suara itu sudah jelas berasal dari teriakan para penduduk desa yang mengejar Indonknya.


"Indo, tunggu Raina!" batinnya.


Raina melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk mengumpulkan seluruh kekuatannya dan hal itu berhasil membuatnya bangkit dari tanah diiringi suara teriakannya.


"Di sebelah sana!!!"


Suara teriakan itu terdengar membuat Raina segera menoleh ke sumber suara. Suasana yang sunyi dan hening itu membuat suara seseorang bisa terdengar dengan jelas. Tak ada cahaya obor yang bisa Raina lihat tapi suara teriakan itu berhasil membuat Raina kembali berlari mencari sumber suara itu.


"Indooo!!!" teriak Raina.

__ADS_1


Entah mengapa rasanya dada Raina begitu sangat sakit. Tak tega rasanya ketika merasakan sosok Indo yang telah merawat dan membesarkannya itu dikejar oleh orang banyak.


Satu hal yang membuat Raina terasa sakit hingga tak berhasil membuatnya manahan rasa sakit dan sedih di hatinya yakni nyawa Indonya sedang terancam dan ini Raina harus bertindak cepat sebelum terlambat.


Suara burung hantu, jengkrik dan anjing itu bersahutan bergantian dan kadang bersamaan itu tak membuat Raina takut di tengah hutan dalam kondisi yang bisa dikatakan sendirian. Hanya satu yang ia pikirkan yakni keselamatan Indonya.


"Indoo!!!" teriak Raina lagi.


Raina menghentikan larinya ketika ia di halang oleh tebing tinggi yang ditumbuhi oleh semak belukar dan pepohonan besar yang menjulang tinggi ke atas sana. Bagaimana bisa para penduduk desa melewati tempat setebing dan setinggi ini?


Raina menelan salivanya. Harus apa ia sekarang?


"Pantau dia!!!"


"Dia lari semakin cepat!!!"


"Jangan lari kau Parakang!!!"


Raina mendongak menatap tebing yang tinggi itu, suara itu berasal dari atas sana dan itu sudah jelas jika mereka semua telah melewati tebing.

__ADS_1


Tak pikir panjang lagi dengan cepat Raina memanjat mengerakkan jari-jari tangannya untuk berpegangan pada semak-semak yang ada di sekitarnya.


Bruak


__ADS_2