Parakang

Parakang
66. Kehidupan Baru


__ADS_3

"Apa kau tidak mau naik?"


Saoda menoleh menatap Tuo yang kini sedang mencuci kedua kakinya dari air yang berada di kendi terletak di bawah anakan tangga.


Saoda menghela nafas panjang. Entah mengapa melihat kendi ini membawanya teringat dengan kedua orang tuanya.


Ada banyak kenangan yang ia alami dan menjadi sebuah kenangan yang tak akan pernah ia lupakan.


"Kau kenapa?" Tuo kembali bertanya.


Saoda menoleh lalu menggeleng pelan. Ia ikut mencuci kakinya dan melangkah naik menaiki anakan tangga. Langkahnya kini terhenti dengan kedua sorot matanya yang kini merambah ke segala arah menatap pemandangan ruangan rumah yang terlihat berantakan.


Ada banyak pakaian yang tergantung di pinggiran dinding rumah kayu dan juga terdapat pakaian yang berada di atas kursi plastik usang.


"Ah, rumah ini agak sedikit kotor," ujar Puang Dodi yang kini melangkah masuk sambil memunguti satu persatu pakaian yang berserakan di atas kursi dan beberapa pakaian yang tergantung di dinding rumah.


Saoda hanya tersenyum. Ia mendongak menatap jaring laba-laba yang berserakan di langit-langit rumah. Tak ada yang spesial di rumah ini.


Tak berselang lama Saoda kembali menoleh menatap puang Dodi yang kini sibuk menyapu lantai papan kayu yang agak berdebu. Bahkan Saoda bisa merasakan jika papan lantai ini terasa berdebu.


"Maaf, ya, Nak. Rumah ini kotor karena kami berdua sibuk bekerja dan kalau kami pulang dari kerja kami tidak sempat untuk membersihkan rumah."


Puang Dodi tertawa sejenak.


"Yah, maklum lah, Nak. Di sini, kan tidak ada perempuan. Indo dari Tuo juga sudah meninggal jadi tidak ada yang sempat untuk membersihkan rumah," jelasnya.


Saoda hanya mengangguk. Tak berselang lama ia menoleh menatap Tuo yang kini berlari masuk ke dalam sebuah ruangan. Entah apa yang ia lakukan, tapi sepertinya ia melakukan banyak hal di sana.


Suara bunyi sapu lidi terdengar beriringan dengan suara langkah yang mondar mandir tidak jelas. Sepertinya dia sangat sibuk.


Saoda melangkah pelan menelusuri area dapur. Ia mengerakkan kain gorden yang telah usang warnanya, sepertinya ini telah lama. Itu bisa Saoda lihat dari kainnya yang telah banyak sobekan.


Saoda masuk setelah melewati gorden merah dan membuat kedua matanya kini menatap area dapur yang terlihat begitu sederhana dan tidak terawat. Ada banyak kayu yang ujungnya telah dibakar dan beberapa tumpukan kayu kering yang bahkan sudah sedikit berjamur.


Dari sini ia berdiri ia juga bisa melihat beberapa tumpukan piring kotor dan gelas serta alat masak yang belum dicuci.


Ia mendongak menatap langit-langit bagian dapur yang terdapat banyak lubang yang berjumlah tak terhitung. Nyaris seperti rumah yang tak berpenghuni.

__ADS_1


Mungkin saja mereka juga tidak mengurus bagian dapurnya. Saoda melangkah, ia menyentuh permukaan rak piring usang dan teraba berdebu seakan rak piring ini berguna lagi keberadaanya dengan empat kaki yang sudah tak lengkap lagi.


"Saoda!" panggil Tuo membuat Saoda menoleh.


"Aku ingin menunjukkan kamar kau."


Saoda mengangguk lalu segera melangkah mengikuti ke arah mana Tuo melangkah.


"Ayo sini!" ajaknya.


Saoda melangkah paling depan namun, dengan langkah cepatnya Tuo sudah berada di pintu masuk kamatr sambil memegang gorden merah.


"Sini masuk!"


Saoda tak menanggapi. Ia melangkah masuk ke dalam kamar yang kini terlihat telah rapi. Sebuah ranjang kayu serta kelambu pink yang terdapat bagian yang sobek serta tempelan kain yang sengaja di jahit untuk menutupi lubang kelambu itu.


"Ini adalah kamar kau sekarang. Kau boleh tidur di sini!"


Saoda tak bicara apa-apa. Ia diam seperti orang bisu.


"Apa kau lapar? Mari kita makan?!"


lima menit kemudian...


Saoda terlihat duduk diam menatap puang Dodi yang kini sibuk mendorong kayu yang terbakar itu agar semakin besar apinya. Sesekali ia juga membuka penutup panci untuk memeriksa beras yang sedang ia masak sejak tadi.


Di tempat yang sama ia juga melihat sosok Tuo yang sibuk memotong sayur kangkung berwarna hijau segar yang nampaknya tak lama lagi akan siap untuk dimasak. Hanya tinggal menunggu beras masak saja.


Saoda menghela nafas. Andai saja Indo dan Bapaknya masih hidup mungkin ia tidak akan berada di dalam rumah ini.


"Ah!!! Ulat!!!" teriak Tuo yang langsung melempar ulat hijau kangkung itu ke atas.


"Hah? Dimana?" tanya puang Dodi yang langsung menoleh.


Tuo tersenyum lalu tertawa cekikikan setelah melihat ulat hijau itu malah jatuh dan menempel di bahu puang Dodi tanpa puang Dodi sadari.


"Kenapa tertawa?"

__ADS_1


"Hahaha, bagaimana aku tidak tertawa kalau ulat itu ada di bahu Bapak!" Tunjuknya membuat Puang Dodi melirik.


"Aaaaaaa!!!" jeritnya lalu segera memukul bahunya membuat ulat itu mati terkapar dengan isi perut yang telah keluar.


"Ah, tega sekali Bapak membunuhnya."


"Bapak hanya mencoba untuk membersihkan baju Bapak," belanya membuat Tuo tertawa.


Saoda hanya diam membisu dengan tatapan sayupnya yang menatap puang Dodi dan Tuo secara bergantian. Rasanya ia sudah lelah. Baru saja is berada di dalam rumah ini, tapi rasanya Saoda tidak betah.


Saoda ingin pulang ke rumah, tapi apalah daya di rumah pun sudah tak ada sosok kedua orang tuanya. Sekarang ia mendapat sebuah keluarga baru yang kini telah menerimanya dengan sangat baik namun, sulit untuk ia terima.


Ia tak mudah untuk menerima orang baru. Ia bahkan tak mudah untuk bisa akrab dengan seseorang.


"Saoda!" panggil puang Dodi sambil menyentuh pundak Saoda yang kini menoleh.


"Apa yang kau pikirkan, Nak?"


Saoda hanya tersenyum kecil lalu ia menggeleng.


"Ayo makan! Aku sejak tadi memanggil kau, tapi mau hanya melamun."


Saoda kembali menggeleng. Ia menunduk menatap makanan yang kini telah siap untuk disantap.


"Ayo makan!"


Saoda mengangguk. Kini ia tak tahu harus melakukan apa. Kebiasannya sebelum makan adalah menanti Indonya menyiapkan makan untuknya dan menyuapinya dengan penuh cinta.


Saoda meletakkan nasi ke atas piringnya dan sesendok sayur kangkung yang dimasak begitu sangat sederhana. Saoda menoleh menatap Tuo dan puang Dodi yang kini sudah sibuk makana dengan lahap.


Saoda menelan salivanya dan segera menyuapi mulutnya dengan nasi. Air mata Saoda menetes membasahi nasi yang ada di atas piringnya.


Untuk pertama kalinya ia makan tanpa disuapi oleh Indonya yang kini entah apa yang sedang ia lakukan di sana. Sayur kangkung dengan rasa hambar. Sangat jauh dari kata nikmat dan tak sama dengan masakan buatan Indonya.


Saoda terisak karena tangannya dan segera melipat bibirnya dengan kuat. Ia menoleh menatap Tuo dan Puang Dodi yang kini sedang menatapnya.


"Ada apa, Nak?"

__ADS_1


__ADS_2