Parakang

Parakang
73. Nama Kerbau


__ADS_3

"Itu namanya Partox."


"Partox?"


Suara tawa terdengar membuat Saoda menoleh menatap sosok Tuo yang kini terlihat tertawa cekikan seakan hal ini adalah hal yang lucu. Puang Dodi yang melihat putranya tertawa juga ikut terpancing membuat tawa kecil berhasil loos dari mulutnya.


"Namanya Patrox berarti dia bersaudara dengan Petrox?" tanya Saoda membuat Tuo mengernyit bingung.


"Petrox?"


"Iya, nama Kerbau yang tadi Patrox dan ini Petrox berarti dia bersaudara karena namanya yang hampir sama. Iya, kan? Apa aku salah?"


"Ah, i-i-iya kau benar. Dua memang bersaudara, jadi itu lah sebabnya namanya hampir sama."


Saoda tersenyum penuh bahagia. Tebakannya itu benar. Saoda kini menoleh menatap ke arah kerbau-kerbau yang lain.


"Puang!"


"Iya?"


"Siapa nama kerbau yang lainnya?"


Puang Dodi terkejut bukan main. Apa ia harus berbohong lagi. Bahkan ia tak punya pasokan nama untuk ia sebutkan ketika Saoda bertanya.


Puang Dodi yang sejak tadi berpikir itu kini melirik menatap Tuo yang terlihat tersenyum jahil ke arahnya.


"Aku tidak tahu, Nak. Bukan aku yang memiliki kerbau-kerbau itu, tapi Tuo."


Tuo yang mendengar hal itu membuat Tuo terbelalak kaget. Apa yang Bapaknya itu katakan? Apa ia mencoba untuk mengalihkan masalah itu kepadanya.


Saoda menoleh menatap Tuo yang panik itu langsung tersenyum kaku.


"Kau punya kerbau sebanyak ini?"


"Emmm, iya. Aku yang punya," jawabannya sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.


"Wah, kau hebat sekali punya banyak kerbau seperti ini."


Tuo hanya mengangguk lalu duduk di atas rerumputan dengan tatapannya yang menatap ke arah puluhan kerbaunya.


Saoda menoleh menatap puang Dodi yang kini menggerakkan tangannya ke arah Dodi seakan berusaha untuk menyuruh Saoda untuk mendekati Tuo.


"Ke sana saja dan bertanya lah nama kerbau kepadanya!" pintanya.


"Dia tidak tahu."


"Bukan tidak tahu. Dia hanya berbohong," jawabnya sambil menunjuk.


Saoda tersenyum lagi lalu berlari ke arah Tuo membuat Puang Dodi tersenyum lebar. Akhirnya ia bisa bebas dari pertanyaan Saoda yang menurutnya adalah sebuah pertanyaan yang menakutkan. Bagaimana bisa ada pertanyaan seaneh itu. Ia bahkan tidak pernah berpikir untuk memberikan nama pada kerbau-kerbau miliknya.


Puang Dodi membaringkan tubuhnya ke atas rerumputan sambil menjadikan tangannya sebagai bantal dan topi hitam yang ia jadikan sebagai penutup wajahnya agar cahaya terang tidak menggangu tidurnya.


"Tuo!" panggil Saoda membuat Tuo menoleh.


Ia menatap Saoda yang kini ikut duduk di sampingnya.


"Ada apa?"


"Kata puang Dodi katanya kau yang punya semua kerbau ini?"


Tuo menghela nafas pendek lalu menoleh menatap Bapaknya yang sudah terbaring terlentang di sana. Ia kembali menoleh menatap Saoda yang sejak tadi diam sambil menatapnya dengan wajah yang begitu sangat serius.

__ADS_1


"Bukan aku punya, tapi kami berdua."


"Oh, ya?"


Tuo mengangguk kecil.


"Dulu katanya Bapak hanya punya dua ekor saja dan berkembang biak menjadi banyak seperti ini," jelasnya.


"Apa dua kerbau dia itu adalah Pertrox dan Patrox?"


Tuo mengernyit bingung. Apa yang gadis ini katakan.


"Siapa?" tanya Tuo.


"Iya, kerbau yang tadi," jawabnya mengingatkan.


Tuo kembali menghela nafas.


"Iya."


"Lalu siapa nama kerbau-kerbau kau yang lain itu?"


"Yang mana?"


"Semuanya."


"Semuanya?"


"Iya semuanya."


Tuo diam sejenak. Jujur saja dia sedang berpikir dengan keras untuk berusaha untuk mencari jawaban.


"Tapi semua kerbau ini tidak punya nama."


"Apa kau mau mereka sedih karena tidak punya nama?"


"Kalau mereka sedih dan tidak mau makan rumput lalu mereka akan kelaparan dan setelah itu mereka semua akan mati."


Tuo melongo menatap Saoda. Tak pernah ia duga kalimat itu akan terlontar dari mulut yang sejak kemarin tidak mau bicara dengannya.


"Kerbau itu tidak akan mati karena iri lalu sedih dan mati hanya gara-gara tidak punya nama."


"Benarkah?"


Tuo mengangguk sementara Saoda kini diam dengan wajahnya yang begitu kebingungan seakan tidak percaya dengan apa yang Tuo katakan.


"Iya yang aku katakan benar. Kau tidak tahu karena kau tidak punya kerbau."


Mendengar hal itu Saoda hanya mengangguk.


"Lalu kerbau kecil itu juga tidak punya nama?"


Saoda menunjuk ke arah kerbau kecil yang sedang sibuk menyusu pada induknya.


"Tidak, dia tidak punya nama."


"Kenapa tidak ada? Sepertinya bagus kalau dia punya nama dan sepertinya itu lucu jika diberikan nama."


"Aku tidak punya nama untuk diberikan kepadanya."


Saoda diam sejenak.

__ADS_1


"Mau aku bantu untuk memberikan nama?"


Tuo mengernyit bingung.


"Ya, kau lakukan saja!"


Mendengar hal itu membuat Saoda tersenyum gembira. Ia kini menatap ke atas sambil mengetuk-ngetuk dagunya. Kali ini ia benar-benar sedang berpikir untuk mencari nama yang cocok untuk anak kerbau itu.


"Bagaimana kalau nama kerbau itu kita beri saja dengan sebutaaaaan Arfah?"


"Arfah?"


Saoda mengangguk membuat Tuo mengernyit bingung. Sepertinya nama itu terdengar aneh.


"Kenapa? Apa namanya jelek?"


"Tidak, hanya saja itu seperti nama manusia dan itu sepertinya tidak cocok untuk kerbau kecil itu."


"Emmm, kalau begitu Sasa?"


"Sasa?"


"Iya Sasa."


"Itu juga nama yang cocok untuk manusia."


"Lalu?"


"Aku juga tidak tahu," jawab Tuo sambil menggeleng.


"Kalau begitu apa kau punya nama untuk kerbau kecil itu?"


Mendengar hal itu kini giliran Tuo yang malah diam berpikir.


"Kita beri saja namanya itu Bogong?"


"Bogong?"


"Iya, Bogong. Sepertinya nama itu lucu."


"Lucu apanya. Nama itu bahkan terdengar sangat kasar."


"Kasar?"


Saoda mengangguk membuat Tuo menghela nafas panjang. Apa nama itu memang terdengar kasar? Ia pikir nama itu sudah bagus.


"Tapi tunggu! Apa kerbau kau ini jantan atau betina?" tanya Saoda.


"Itu betina."


"Betina? Dari mana kau tahu?"


Tuo yang sejak tadi hanya diam melirik menatap ke arah Saoda langsung bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah kerbau kecil.


"Dia tidak punya ini!" Tunjuk Tuo ke arah bagian bawah kerbau jantan dan beralih untuk mengangkat kaki kerbau kecil agar bisa di lihat oleh Saoda yang kini kedua matanya menatap dengan penuh serius.


"Itu apa?" tanyanya.


Tuo yang mendengar hal itu hanya mampu menatap dengan wajahnya yang kini terlihat datar tanpa ekpresi. Bagaimana bisa gadis kecil ini bertanya apa yang sedang ia tunjuk itu.


Harus jawab apa sekarang? Bahkan ia sangat malu untuk menyebut nama itu. Tuo menggaruk kepalanya yang tak gatal itu dengan perasaanya penuh bimbang. Apa ia harus menjawab pertanyaan Saoda. Bahkan ia yang berniat berbohong itu tidak tahu harus jawab apa.

__ADS_1


Tuo menoleh menatap Bapaknya yang masih terbaring. Ia tersenyum kecil setelah niat liciknya kembali muncul.


"Kau tanyakan saja pada Bapakku! Dia tahu."


__ADS_2