Parakang

Parakang
94. Pernikahan Bahri


__ADS_3

Saoda kini beranjak menuju dapur tempat dimana ia selalu melihat Indonya memasak.


Saoda duduk termenung di atas bambu yang sedikit rapuh. Tempat dimana Saoda sering duduk dan memperhatikan Sambe memasak.


Kenangan itu bermunculan membuat Saoda kini tersenyum tipis. Jujur Saoda ingin kembali menjadi Saoda kecil yang hidup bahagia bersama dengan kedua orang tuanya, tapi apalah daya, waktu telah berlalu secepat itu dan tak mungkin lagi untuk mengulangnya.


Saoda bangkit dari tempat duduknya dan melangkah keluar dari rumah.


Ia kini melangkahkan kakinya menuju ke arah belakang rumah dan menghampiri dua makam yang saling berdekatan. Saoda duduk di antara dua makam itu. Ia menoleh menatap ke arah dua sisi secara bergantian dan tesenyum.


Ini adalah maka kedua orang tuanya yang begitu sangat Saoda sayangi. Saoda menggerakkan jari-jari tangannya meraba permukaan tanah berwarna coklat dan sedikit berumput.


"Indo, Bapak. Saoda datang untuk menjenguk Bapak dan Indo."


"Saoda tidak tahu apakah Indo dan Bapak mendengar suara Saoda, tapi Saoda yakin Tuhan akan menyampaikan ini kepada Bapak dan Indo karena sekarang Bapak dan Indo sudah ada bersama Tuhan."


Saoda diam sejenak lalu ia menghela nafas.


"Aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa membalaskan dendam ini kepada mereka semua. Mereka yang telah membakar Bapak dan Indo."


"Walau pun aku tidak tahu caranya, tapi itu bukan menjadi alasan untuk tidak membalaskan dendam ini."


"Indo!"


"Mereka mengira Indo adalah Parakang walau pun sebenarnya Indo bukanlah Parakang, tapi para warga desa sudah salah paham."


"Aku minya maaf, Indo karena aku tidak bisa menolong Indo saat malam kejadian itu walau pun aku sangat ingin."


"Aku minta maaf, Indo."


Saoda mengusap aliran air mata yang menetes membasahi pipinya.


"Tapi kali ini aku sudah bertekad kalau aku, aku akan membalaskan dendam apa pun yang terjadi."


"Bahkan jika aku bisa aku ingin menjadi Parakang. Aku ingin membalaskan dendam itu dengan cara menjadi Parakang, apu pun akibatnya aku tidak peduli."


"Sudah cukup penderitaan ini! Sudah cukup!"


"Aku sudah memiliki banyak kisah pedih dan aku tidak mau hanya aku yang merasakannya, tapi mereka semua yang telah terlibat dalam kisah ini juga harus mendapatkan kepedihan."


"Ini janji aku Indo, Bapak dan janji itu akan aku tepati."


Saoda bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan dua makam kedua orang tuanya.


Saoda kini melangkahkan kakinya yang tak beralasan kan sendal itu menulusuri jalanan bebatuan. Apa ia harus pulang sekarang? Sepertinya tidak Saoda masih membutuhkan ketenangan.

__ADS_1


Saoda menghentikan langkahnya menatap sebuah tenda biru yang terpasang di salah satu rumah. Entah siapa rumah itu.


"Puang!" panggil Saoda pada sosok wanita yang sedang menjunjung baskom berisi beras.


"Iya, ada apa?"


"Sedang acara apa di situ?"


"Oh, itu si Bahri menikah."


"Menikah?"


"Iya, dengan gadis tetangga sebelah desa," jelasnya.


Saoda kini terdiam disusul wanita setengah baya itu yang kini melangkah pergi. Saoda menghela nafas panjang setelah menarik udara dengan begitu berat.


Setelah menghancurkan hidupnya pria itu, Bahri dengan santainya menggelar pernikahan tanpa memiliki rasa bersalah setelah memperkos*nya.


Dasar pria iblis, memang pantas dia dihancurkan.


Saoda melangkah masuk ke dalam acara yang sudah banyak didatangi tamu. Saoda menghentikan langkahnya dan berlindung di balik tiang yang diselimuti oleh kain pengantin. Dari sini Saoda bisa melihat jika Bahri kini terlihat begitu tersenyum bahagia bersama seotang wanita bergaun pengantin sambil sesekali menyalami para tamu yang memberikan selamat.


Bahri yang sejak tadi tersenyum itu melirik dan terkejut mendapati sosok Saoda yang kini sedang menatapnya dengan tatapan tajam. Tatapan tajam yang penuh dengan kebencian.


Sang pengantin wanita yang melihat wajah aneh Bahri langsung menyentuh bahunya membuat Bahri langsung menoleh menatap sang istri.


"Ada apa?"


Kedua mata Bahri membulat. Ia terkejut setelah melihat Saoda yang sudah lenyap dari tempatnya, tak ada Saoda di sana.


"Ada apa?" tanya sang pengantin yang ikut menatap ke arah pandang Bahri. Ia ikut penasaran dibuatnya.


"Apa yang kau lihat?"


"Ah, tidak ada."


"Tapi sepertinya kau sedang mencari seseorang."


"Tidak ada, itu hanya perasaan kau saja," ujarnya lalu berusaha untuk tersenyum.


Sang pengantin dari Bahri itu kini ikut tersenyum lalu kembali menatap ke arah tempat dimana Bahri menoleh tadi. Tak ada siapa pun di sana. Entah apa yang suaminya itu lihat di sana.


...****************...


Saoda melangkah keluar dari acara gelaran pesta pernikahan yang membuatnya muak. Orang seperti dirinya itu tidak pantas untuk menikah. Orang jahat seperti Bahri itu tidak pantas untuk merasakan indahnya pernikahan.

__ADS_1


Bahri seharusnya merasakan kesedihan dan penyesalan yang harus ia ingat di sepanjang hidupnya. Bahri tidak boleh memulai hidup baru bersama seorang gadis setelah berhasil merusak hidupnya.


Saoda menghentikan langkahnya tepat di bawah pohon kepala tua. Ia terdiam sejenak dan kembali mengingat senyum Bahri yang begitu bahagia.


Buk!!!


"Pria iblis!" umpatnya setelah memukul batang pohon kelapa itu.


"Aku tidak akan membiarkan kau bahagia seperti ini."


"Hari ini kau boleh saja bahagia atas pernikahan yang kau buat, tapi aku bersumpah kalau kau akan membuat kau menjadi menderita dan tersiksa."


"Aaaaaa!!!" teriak Saoda yang kembali memukul batang pohon kelapa.


"Sepertinya kau terlihat marah."


Saoda mengerutkan dahinya. Ia menoleh menatap seorang pria setengah baya dengan kain hitam usang yang melilit di kepalanya.


"Apa gerangan yang telah membuat kau merasa marah? Hem?"


Saoda terdiam. Ia menatap dari atas sampai ujung kaki pria itu. Pria berkumis hitam dengan janggut panjang sampai ke dada. Saoda tak pernah melihat pria ini sebelumnya.


"Aku sepertinya merasa jika kau sangat membenci pria itu."


"Jangan sok tahu," jawab Saoda lalu melangkah pergi.


Ia tak mau berurusan dengan pria yang sepertinya bisa membaca pikirnya.


"Tunggu!!!"


Mendengar suara itu membuat Saoda menghentikan langkahnya.


"Aku bisa melihat rasa benci dari sorot mata kau, Nak. Aku bisa tahu dan tak ada satu pun orang yang bisa membohongi aku."


"Aku tahu apa yang kau rasakan dan apa penyebabnya."


Saoda terkejut setelah mendengarnya.


"Masalah kau dan rasa dendam kau itu begitu sangat besar."


"Aku bisa membantu kau tapi itu pun jika kau mau."


Saoda berbalik menatap pria yang kini sedang menatapnya dengan serius.


"Aku adalah satu-satunya dukun di desa ini yang paling kuat dan kesaktian aku tidak dapat ditandungi oleh siapa pun."

__ADS_1


"Di sini aku hanya ingin membantu kau agar bisa keluar dari masalah ini."


__ADS_2