Parakang

Parakang
44. Bakar Raina?


__ADS_3

"Apa kau lupa?" tanya Erni lagi.


Suasana kini mendadak diam, sunyi dan sepi sementara di satu sisi sosok Parakang itu kini telah berhenti memberontak. Tubuhnya terlihat gemetar hebat dengan cairan darah kental yang keluar dari kedua telinga, mata, mulut bahkan kedua lubang hidungnya.


"Apa kau lupa dengan semuanya? Indo kau itu telah membuat aku menjadi yatim pintu!!!"


"Dia telah membuat aku seperti seekor ayam yang tak punya induk, kau tahu!!!"


"Belum puas dengan hal itu Indo kau juga merebut Nenekku, Raina!!!"


"Apa itu belum puas dan cukup untuk bisa dikatakan sebagai sebuah penderitaan!!!"


"Setelah dia membunuh Nenekku, Indo kau juga berniat untuk membunuh aku!!!" teriak Erni.


"Indo kau orang jahat, Raina!!! Kau harus tahu itu dan jangan lupa jika Indo kau itu adalah sosok Parakang!!!"


"Tidaaaak!!!" teriak Raina yang langsung menutup ketua telinganya sementara Erni belum siap untuk melepas genggaman pergelangan tangan Raina.


"Kenapa tidak? Kau sekarang bisa melihat sosok asli Indo kau yang telah berwujud menjadi sosok Parakang!"


"Kau hanya tidak mengerti!!!" teriak Raina yang sudah terisak.


Raina menoleh, ia langsung dibuat sesegukan setelah menatap Saoda yang kini wajahnya sudah tak terlihat dengan jelas lagi karena terutup oleh darah.


Tak banyak pikir panjang Raina dengan cepat menghempaskan pegangan Raina dan berlari menuju Saoda.


"Rainaaa!!!" teriak Erni yang langsung berlari mengejar kepergian Raina berniat untuk kembali mencegahnya.


Langkah Erni terhenti setelah ia melihat Puang Tuo yang terlihat merentangkan sebelah tangannya ke depan seakan ia sedang memberikan peringatan kepada Erni.


"Biarkan dia pergi!!!" ujarnya.


Raina berlari membelah para kerumunan yang terlihat terdiam menatap Raina. Raina menghentikan larinya menatap sosok Indonya yang sudah terbaring lemas bersimpa darah yang memenuhi seluruh tubuhnya.


Perlahan hujan yang rintik itu kini berangsur deras menumpahkan air dari langit yang sudah sejak tadi terbebani.


Air hujan itu tumpah membasahi tubuh Raina yang kini untuk kedua kalinya jatuh tersungkur di samping sosok Saoda yang kedua matanya melotot nyaris keluar.


Raina menggerakkan tangannya berniat untuk menyentuhnya, tapi itu tidak mudah ia lakukan. Jari tangannya gemetar saat ia berniat utuk menyentuhnya.


"I-i-indo," panggil Raina dengan suaranya yang terdengar gemetar.


Ia menarik tangannya yang telah gemetar itu untuk menutup mulutnya yang ia gigit bibirnya dengan rasa takut. Tak pernah terbayang bagi dirinya melihat Saoda dengan kondisi seperti ini.


"Indo!!!" teriak Raina yang langsung menjambak rambutnya dengan keras.


Raina menghentikan jambakannya lalu menyentuh permukaan wajah Saoda yang teraba berdarah membuat tangan Raina penuh dengan darah.

__ADS_1


Bibir Raina bergetar hebat, ia tak mampu menahan kepedihan hatinya yang menyayat hatinya.


"Indooo!!! Jangan tinggalkan Rainaaa!!!" teriak Raina yang langsung memangku kepala Saoda yang langsung menumpahkan semua darah dari kepalanya yang entah dari mana keluarnya.


Sudah tak jelas lagi wajah Saoda. Raina mengangkat satu tangannya yang telah penuh dengan darah itu. Ditatapnya dengan kedua mata yang telah dibanjiri oleh air mata.


Hujan deras semakin waktu semakin bertambah deras membasahi pepohonan yang bergoyang diterpa derasnya ajar hujan di malam ini.


Tubuh Raina kini basah kuyub setelah di hujani oleh derasnya hujan yang turun di malam yang penuh kegelapan dan kepedihan ini.


"Indooo!!!"


"Mengapa Indo meninggalkan Raina sendiri di dunia ini!!!"


"Mengapa Indo meninggalkan Raina?!!"


"Siapa yang akan menemani Raina, Indo?!!"


"Raina!!!" teriak puang Edi yang langsung membuat Raina menoleh menatap menatap samar-samar para penduduk desa yang telah di halang oleh derasnya hujan.


Air mata yang membasahi pipi itu kini telah disapu oleh aliran derasnya hujan yang membelai lembut wajahnya membuat kedua matanya itu menjadi perih.


"Indo kau pantas mendapatkan hal itu!!!"


"Dia pantas mendapatkan semuanya!!! Semua kejahatan yang telah ia buat kini telah dapatkan hasilnya!!!"


"Ya betul itu!!!"


"Betul!!!" sahut para warga yang bergantian berteriak menyaingi derasnya air hujan.


Raina hanya bisa menangis sesenggukan. Ia tak memikirkan tentang ujaran maupun teriakan mereka semua tapi yang Raina pikirkan adalah nyawa Saoda.


"Bapak-bapak semuanya, Raina juga adalah keturunan dari Saoda dan itu berarti setelah kematian Saoda maka Raina yang akan mewarisi ilmu hitamnya!!!" teriak puang Edi membuat para warga kini saling mengangguk.


"Bagaimana kalau kita habisi saja Raina dan biarkan dia mati bersama dengan Saoda!!!" usul puang Edi.


"Lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya salah satu dari mereka.


"Kita bakar saja dia!!!" usul puang Edi.


"Ya, benar kita bakar saja!!!"


"Bakar!!!"


Puang Tuo terkejut bukan main. Ia pikir sudah tak ada masalah lagi setelah kejadian ini, tapi malah masalah baru kembali muncul.


"Ayo kita bakar!!!"

__ADS_1


"Bakar dia!!!"


Suara teriakan terdengar diiringi langkahnya yang mulai mendekati Raina yang masih belum sadar dengan niat mereka.


"Hentikan saudara-saudara!!!" teriak puang Edi sambil mengangkat kedua tangannya ke atas memberikan kode agar semuanya menghentikan langkahnya.


Puang Edi menghentikan langkahnya ketika ia berhasil berhadapan dengan Puang Tuo.


"Ada apa lagi, puang?"


"Seharusnya aku yang bertanya kepada engkau, Puang Tuo. Mengapa engkau mempengaruhi para penduduk desa untuk melakukan tindakan kejahatan yang sangat hina."


"Hina? Perbuatan apa yang kau anggap hina itu, puang Tuo. Aku hanya ingin membantu para warga desa agar semuanya bisa hidup dengan damai tanpa perlu menghawatirkan atau takut dengan kedatangan Parakang."


"Parakang itu telah musnah, puang!!!" teriak puang Tuo.


"Tapi keturunannya masih hidup!!!" teriak puang Edi sambil menunjuk ke arah Raina yang terlihat masih sesegukan di belakang sana.


"Sosok Parakang tetap akan memiliki keturunan Parakang, bukan begitu bapak-bapak?!!"


"Ya, benar itu!!!"


"Benar!!!" teriak para penduduk desa lagi.


"Jangan terpengaruh!!!" teriak Puang Tuo dengan wajahnya yang terlihat memerah karena marah.


"Dia hanya sebuah keturunan bukan Parakang. Orang yang asal usulnya memiliki keturunan Parakang belum tentu juga akan menjadi Parakang!!!"


"Anda hanya berusaha membelanya, puang!!!"


"Ya, betul!!!"


"Berikan kami semua bukti jika Raina tidak akan menjadi Parakang seperti yang dialami oleh Saoda!!!" teriak salah satu lara warga.


Puang Tuo mengangguk.


"Kalian mau bukti?!!! Hah?!!!"


"Lihat baik-baik kepala desa!!!" Tunjuk puang Tuo ke arah Bapak kepala desa yang berdiri paling belakang membuat semua orang menoleh.


"Apakah sebelum dia menjadi kepala desa di desa ini, apakah kedua orang tuanya seorang kepala desa?!!"


Semua orang kini terdiam.


"Tidak, kan. Orang tuanya bukan seorang kepala desa tapi dia bisa menjadi kepala desa."


Semua orang kini saling berbisik memang benar yang dikatakan oleh puang Tuo kalau Bapak kepala desa juga tidak berasal dari keluarga kepala desa.

__ADS_1


"Lihat juga pak Karim!!!"


__ADS_2