Parakang

Parakang
80. Pernikahan


__ADS_3

"Aku ingin bertanya dengan kalian berdua."


"Apa yang ingin Bapak tanyakan?" tanya Tuo.


Puang Dodi menghela nafas panjang. Ia melirik menatap Tuo dan Saoda secara bergantian.


"Aku ingin bertanya, tapi aku ingin kalian menjawabnya dengan jujur."


Tuo dan Saoda kini saling bertatapan. Rasanya ini adalah yang begitu sangat serius.


"Ada apa puang? Katakan saja! Kami akan menjawabnya dengan jujur," ujar Saoda.


Puang Dodi tersenyum lalu mengangguk.


"Kalian berdua telah besar dan sudah saatnya memilih jalan sendiri."


"Bapak tidak memaksa, tapi Bapak hanya ingin tahu saja."


Tuo dan Saoda kini saling bertatapan seakan sedang berusaha saling bertanya dengan apa yang puang Dodi katakan.


"Nak, Saoda!"


"Iya, Puang?"


"Kau sudah ku anggap sebagai anak aku sendiri. Kau sudah berbuat banyak kepada Puang. Puang sangat mengucapkan terima kasih karena selama ini kau telah mengurus dan mengerjakan semua pekerjaan rumah."


Saoda menggangguk sambil tersenyum.


"Dan kau juga sudah bisa membina rumah tangga. Adakah lelaki yang kau suka di desa ini?"


Saoda terkejut setelah mendengar pertanyaan puang Dodi. Apa mungkin ia menjawab pertanyaan dari puang Dodi.


"Saoda, ayo dijawab!"


"Aku juga tidak tahu, puang lagi pula aku hanyalah seorang wanita dan seorang wanita hanya berhak untuk menerima lamaran bukan meminta dilamar."


Itu yang Saoda katakan membuat Puang Dodi tersenyum.


"Bagus lah kalau seperti itu. Aku merasa senang. Tuo!"


"Iya, Bapak," sahut Tuo dengan cepat.


"Kalau kau bagaimana, Nak?"


"Bagaimana apanya?"


"Tentang pernikahan. Apa kau tidak ingin menikah?"


Tuo meneguk salivanya. Ia kembali lagi dihadapkan dengan pertanyaan itu. Tuo yang merasa tak nyaman itu terlihat melirik Saoda yang nampak tertunduk.

__ADS_1


"Aku ada di depan, Nak!" tegur puang Dodi lalu teesenyum kecil.


Tuo yang mendengar teguran itu langsung menatap ke arah puang Dodi yang masih menatapnya begitu serius.


"Aku ingin kau menikah, Nak."


"Tapi aku tidak memiliki seorang gadis untuk dinikahi."


"Tidak usah mencari karena aku telah menjodohkan kau dengan seorang gadis sejak kau masih kecil."


"Sejak kecil?" tanya Tuo yang begitu sangat terkejut.


Saoda yang sejak tadi hanya tertunduk itu dengan mata sayup karena telah mengantuk itu seketika membulat namun, ia berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja. Entah siapa gadis yang telah dijodohkan dengan Tuo.


"Siapa, Bapak?" tanya Tuo yang begitu sangat penasaran.


Seumur hidupnya Tuo tak pernah menyangka jika ia telah dijodohkan oleh Puang Dodi, tapi bagaimana bisa puang Dodi menyembuyikan perjodohannya itu dengan seorang gadis yang ia pun tak tahu itu siapa.


"Siapa dia, Pak? Siapa gadis itu?"


Puang Dodi tersenyum. Ia melirik menatap Saoda yang terlihat masih tertunduk.


"Gadis itu cantik, dia juga baik dan sangat rajin dalam mengurus pekerjaan rumah."


Saoda mendengus kesal. Rasanya Saoda sangat tak suka jika Puang Dodi memuji gadis itu. Siapa pun gadis itu Saoda akan membencinya.


"Dia Saoda," jawab Puang Dodi.


Kedua mata Saoda membulat karena terkejut. Ia langsung menoleh menatap Puang Dodi yang terlihat tersenyum. Apa Puang Dodi berkata jujur atau hanya sedang bermain-main.


"Apa yang Bapak katakan?" tanya Tuo.


"Ya, Nak. Kalian berdua telah Bapak jodohkan sejak kalian berdua masih kecil bahkan disaat kedua orang tua Saoda masih hidup," jelasnya.


Mendengar hal itu membuat Saoda dan Tuo saling bertatapan seakan tak menyangka jika mereka berdua telah dijodohkan.


Saoda kembali tertunduk. Saoda hanya terdiam. Ia berusaha untuk bersikap biasa-biasa saja walau sebenarnya ia ingin tersenyum bahagia. Saoda begitu sangat ysk menyangka jika gadis yang dijodohkan dengan Tuo adalah dirinya sendiri.


Di satu sisi kini Tuo terlihat tersenyum kecil. Apa yang dikatakan oleh Puang Dodi adalah keinginannya. Sudah lama ia menyukai Saoda dan ia juga tak menyangka jika Saoda telah dijodohkan kepadanya.


Suasana kini menjadi sunyi, tak ada kalimat yang terlontar dari Tuo dan Saoda. Mereka terlihat diam sementara puang Dodi kini memilih untuk diam sambil memperhatikan tingkah mereka.


"Jadi bagaimana, Nak. Apa kalian mau aku jodohkan. Kalau kalian mau maka aku akan secepatnya menggelar pernikahan untuk kalian berdua."


Tuo dan Saoda terlihat masih terdiam. Gugup, sudah pasti itu yang mereka rasakan.


"Saoda!"


Saoda menoleh.

__ADS_1


"Apa kau setuju menerima lamaran Tuo?"


Saoda tersenyum kecil. Pipinya kini bahkan terasa memanas karena merasa malu. Detak jantungnya juga berdetak sangat cepat seakan telah menguasai tubuhnya.


"Bagaimana, Nak?"


Saoda melirik menatap Tuo yang ikut meliriknya. Saoda kembali tertunduk sambil mengusap telapak tangannya di permukaan sarungnya.


"Seperti yang Saoda katakan kalau Saoda hanya seorang wanita dan tak berhak untuk menolak. Saoda hanya menyerahkannya pada kedua orang tua Saoda."


"Karena Saoda sekarang tak punya orang tua lagi dan puang Dodi lah yang telah menggantikan sosok kedua orang tua Saoda maka jawaban dan keputusan Saoda, Saoda berikan kepada puang Dodi."


"Setiap keputusan yang Puang Dodi berikan akan Saoda turuti."


Setelah mengatakan hal itu Saoda segera bangkit dari kursinya lalu melangkah pergi meninggalkan Tuo dan Puang Dodi yang keduanya terlihat tersenyum.


Tuo yang menatap kepergian Saoda langsung menoleh menatap Puang Dodi.


"Apa Bapak serius?" tanya Tuo yang masih tak percaya.


Setibanya di dalam kamar Saoda langsung menyandarkan tubuhnya di dinding kamar berusaha untuk mendengar percakapan Tuo dan Puang Dodi.


Saoda menyentuh dadanya yang masih berdebar itu. Dadanya juga ikut naik turun saat ia berusaha untuk mengatur nafasnya yang terasa sesak.


"Apa kau mengira aku sedang bercanda?"


Tuo tersenyum. Tak ada wajah yang memperlihatkan jika Puang Dodi sedang bercanda. Ia terlihat begitu sangat serius.


"Apa kau tidak mau menikah dengan Saoda atau kau punya gadis yang kau suka?"


"Tidak, Pak. Sejujurnya Tuo sangat menyukai Saoda, tapi Tuo takut untuk mengatakannya."


Saoda menyentuh dadanya. Ia tersenyum senang. Ia begitu tak menyangka jika Tuo juga menyukainya. Saoda pikir Tuo hanya menganggapnya sebagai seorang saudara atau adik perempuan saja, tapi rupanya itu semua tidak sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


Ternyata Tuo juga memiliki rasa seperti apa yang Saoda rasakan. Akhirnya apa yang ia harapkan dapat segera terwujud.


"Lalu kapan kiranya kau siap untuk menikah?"


Tuo meneguk salivanya. Jika ia boleh jujur Tuo ingin dinikahkan di hari ini saja. Rasanya Tuo tak sabar ingin memiliki Saoda seutuhnya.


"Apa yang kau pikirkan, Nak?"


"Ah, tidak ada, Pak. Kalau masalah hari pernikahan aku menyerahkannya kepada Bapak saja. Biar Bapak yang mengaturnya."


Puang Dodi mengangguk tanda setuju.


"Baik lah, Nak. Aku akan mencari hari yang baik untuk hari pernikahan kau dan juga Saoda. Semuanya biar Bapak yang urus."


Tuo mengangguk dan ia kembali menoleh menatap kain gorden milik Saoda. Senyum tulis itu tercipta dari bibir Tuo. Ia begitu bahagia dan tak sabar rasanya menunggu hari pernikahan itu tiba.

__ADS_1


__ADS_2