
"Mau lari kemana kau sekarang, Hah?!!!" teriak Edi.
Edi tersenyum penuh amarah dengan nafas yang ngos-ngosan. Sudah lama amarah ini ia tahan dan momen ini adalah momen yang selalu ia tunggu dalam hidupnya.
Akhirnya ia bisa dihadapkan oleh sosok Parakang yang selama ini selalu meresahkan warga desa dan juga sosok yang telah merenggut kebahagiaanya.
"Mau kemana kau sekarang? Sekarang kau tidak bisa lari kemana-mana, hahahaha."
Para warga yang mengelilingi sosok Parakang itu dibuat tertegun menatap secara langsung sosok Parakang yang selama ini hanya menjadi cerita belaka yang belum terbukti keberadaanya namun, sekarang mereka semua bisa melihat secara langsung sosok Parakang yang ternyata lebih menyeramkan dari yang mereka bayangkan.
Semuanya terlihat panik, mengarahkan obor dan benda tajam ke arah sosok Parakang yang kedua matanya melirik di balik rambut hitam sedikit beruban dan panjang.
"Harus kita apakan dia, Puang Edi?" tanya salah satu warga yang kini terlihat ketakutan.
"Tentu saja kita bunuh, mau apa lagi?"
"Sosok mahluk jadi-jadian ini harus kita musnahkan. Untuk apa mahluk ini ada di muka bumi ini jika hanya meresahkan desa."
"Sudah banyak korban yang mati karena sosok mahluk yang dengan teganya merusak kedamaian desa."
Semua warga desa saling bertatapan dan mengangguk.
"Bapak-bapak semuanya harus ingat dengan istri dan bayi aku yang telah dibunuh oleh sosok biadab ini!!!" teriaknya.
"Ya, betul itu!!!"
"Ya, betul!!!"
Sorak merdeka dengan kompak sambil mengangkat obor itu ke atas membuat sosok Parakang itu terlihat mulai panik.
Harus bagaimana lagi sekarang? Tak ada jalan keluar.
Beberapa kali Parakang itu berusaha untuk mencari celah agar bisa kabur dari tempat itu namun, dengan cepat pula mereka semua menutup jalan sambil mengarahkan benda tajam yang siap memukul sosok mahluk jadi-jadian itu.
"Mau kemana sekarang kau sekarang? Hah? Tak semudah itu kau kabur dari kami semua!!!"
"Apa kau sudah lupa dengan apa yang telah kau lakukan selama ini?!! Hah?!!"
"Beberapa orang yang telah kau bunuh apa itu semua sudah kau lupakan begitu saja?!!"
"Ya, benar!!!"
"Benar itu!!!" sorak para warga desa lagi dengan bersamaan.
__ADS_1
"Kau juga telah merenggut nyawa Puang Puang Bakri yang sangat baik."
"Apakah tugas kau hanya membunuh orang-orang baik?!!" teriak pria yang melangkah paling depan setelah membelah kerumunan.
"Lalu apa yang sekarang kalian tunggu?!! Hancurkan dia sekarang!!!"
"Bakar saja dia!!!"
"Ya, bakar!!!"
"Bakar sekarang juga!!!"
"Bakar!!!"
Teriakan para warga desa terhenti setelah Puang Edi mengangkat sebelah jarinya ke atas membuat semua orang terdiam dan menghentikan teriakannya yang bergantian bersahutan dengan raut wajah amarah yang sudah membara dan tak tertahankan itu.
"Membakar sosok Parakang itu belum bisa mengimbangi dan menggantikan apa yang telah ia lakukan selama ini."
"Bukan hanya satu orang yang telah ia bunuh tapi ada banyak. Apa perlu aku menghitung dan menyebutkannya satu persatu agar kalian semua bisa mengingatnya?!!" teriak Edi.
"Lalu apa yang perlu kita lakukan sekarang?!!" tanya salah satu dari mereka.
Puang Edi menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Ia tersenyum dengan kedua sorot matanya yang menatap tajam ke arah Parakang itu.
"Setelah itu kita bakar dia dan biarkan darahnya mendidih dengan panasnya kobaran api."
"Ya, pukul dia!!!"
"Pukul!!!"
"Pukul!!!"
Suara teriakan itu terdengar membuat kedua mata tajam dan merah itu terlihat bergerak, ia masih berusaha mencari jalan keluar untuk pergi dari tempat ini.
"Tangkap dan ikat dia!!!" teriak Puang Edi sambil menunjuk ke arah sosok Parakang itu.
Para warga desa yang mendengar hal itu langsung segera mengulurkan tali yang telah ia bawa. Mereka berbondong-bondong mendekati sosok mahluk jadi-jadian itu yang terlihat sangat gelisah.
Ia menggerak-gerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari celah, tapi tak terlihat bahkan sedikit pun.
Kedua mata tajam itu menoleh menatap tajam pada salah satu warga yang memutar-mutarkan tali ke arah Parakang.
Parakang itu tanpa pikir panjang langsung berlari berusaha untuk kabur dari tempat ini. Ia tak peduli jika ia akan di hadang oleh benda tajam di depan sana.
__ADS_1
Bluak
Tak
"Aaaa!!!" teriak Parakang itu dengan kedua mata yang melotot serta lidah panjangnya yang keluar ketika tali yang di lempar itu menjerit lehernya dengan erat.
Parakang itu berteriak kencang sambil memegang tali yang menjerat lehernya dengan sangat erat. Kepalanya mendongak menatap langit gelap dengan awan gelap yang menutupi bulan sabit.
"Aaaaaa!!!" teriaknya dengan nafas yang sudah tertahan di lehernya, tak ada lagi pasokan udara yang mengalir ke paru-parunya.
Suara tawa terdengar membuat kedua mata yang tajam itu melirik menatap sosok Edi yang kini tertawa menatap Parakang yang nampak berlarian ke sana kemari seperti seekor hewan yang diikat oleh majikannya. Meronta dan berteriak, hanya itu yang mampu ia lakukan.
"Tamatlah riwayat kau sekarang!!!" teriaknya.
Salah satu dari mereka menarik keras tali itu membuat Parakang itu terseret di atas tanah. Jejari tangan yang hitam dengan kuku panjang itu mencakar permukaan tanah dan tubuhnya terpental saat ditarik oleh beberapa lelaki.
Tubuh lemas tanpa sehelai kain itu nampak terbaring di atas tanah dan tergulai tak berdaya lagi.
Puang Edi tersenyum penuh licik. Ia melangkah mendekati sosok Parakang itu sambil mengayun-ayunkan sebuah golok di tangannya diiringi tatapan tajam yang begitu begitu sangat marah. Tak akan ada kata maaf dan tunggu dari sorot dan batin Puang Edi.
"Pegang talinya dengan erat! Jangan biarkan dia lepas!!!"
"Biarkan dia mati dengan perlahan karena kekurangan pasokan udara!!!" teriak Puag Edi lalu tertawa.
Puang Edi kini menghentikan langkahnya tepat di hadapan Parakang itu yang kini sedang menatapnya dengan kedua mata merah yang telah di halang oleh air mata.
Puang Edi tersenyum licik menatap Parakang itu yang sudah di bawa kuasanya.
"Mati kau!!!"
"Hari ini adalah hari kematian kau!!!"
"Akan aku kirim kau ke neraka jahanam dan membiarkan Tuhan menghukum semua yang telah kau lakukan!!!" teriaknya lagi.
Puang Edi kini mengangkat golok itu dengan tinggi ke arah kepala Parakang itu seakan siap untuk menebas kepalanya sekarang juga.
Parakang itu dengan cepat menutup kedua matanya seakan telah siap untuk menerima pukulan itu dengan senyuman yang ditutupi oleh rambut hitam yang terlihat banyak beruban.
Mati?
Mungkin itu adalah jalan yang akan diterima oleh Saoda yang tubuhnya masih menjelma menjadi sosok parakang.
"Aaaaa!!!" teriak Puang Edi yang melayangkan golok itu dengan seluruh kekuatannya.
__ADS_1
"Berhenti!!!" teriak seseorang membuat semua orang menoleh.