Parakang

Parakang
75. Kembali Bermimpi


__ADS_3

"Apa kau mau terus berada di sini dan bicara dengan kerbau itu sepanjang hari?"


Saoda yang sedang bicara itu langsung menghentikan ujarannya dan membuka pintu kandang membuat anak kerbau itu langsung melangkah masuk ke dalam kandang tanpa perlu diusir.


Saoda melangkah pergi melintas tepat di hadapan Tuo yang terlihat diam. Ia melirik menatap kepergian Saoda yang malah pergi meninggalkannya sendiri di sini.


"Gadis aneh," ujar Tuo lalu menutup pintu pagar itu dengan rapat.


...****************...


Suasana malam ini seperti biasanya yang ditemui oleh suara alam. Apa lagi jika bukan suara jengrik yang berbunyi mengiringi makan malam hari ini. Makanan yang sederhana dan juga suasana yang baru, ya hari ini tak ada kesedihan yang tergambar wajah Saoda dan tak ada pula tangisan yang terdengar dari mulut gadis kecil itu.


Bahkan tadi disaat sesi mengambil makan Saoda lah yang mengambil sesondok nasi dan meletakkannya ke atas piring puang Dodi dan Tuo yang dibuat Kebingungan. Tingkah Saoda membuat dua pria itu kembali saling bertatapan dibuatnya.


"Apa kalian mau sayur?" tanya Saoda di tengah-tengah kegiatan makan malam.


Suara kunyahannya yang awalnya mendominasi suasana di ruangan dapur ini kini mendadak sunyi.


"Tidak," jawab Tuo diiringi dengan gelengannya.


"Kau juga tidak mau puang?" tanya Saoda membuat Tuo menoleh menatap Bapaknya.


Puang Dodi yang diam itu langsung menoleh menatap putranya dan Saoda yang rupanya sedang menatap serius ke arahnya.


"Ah, tidak usah!" tolaknya.


Setelah kegiatan makan malam selesai kini Saoda langsung meraih peralatan makan dan mencucinya sampai bersih bahkan dia langsung meletakkannya di rak piring.


Yah, Saoda hanya melakukan apa yang selalu ia lihat di rumah dan ini lah yang selalu dilakukan oleh Indonya.


Setelah membereskan peralatan makan dan meja Saoda kini beralih duduk di hadapan pakaian yang telah mengering setelah pagi tadi ia cuci dan menjemurnya di bawah terik sinar matahari.


Tuo yang sedang duduk itu hanya bisa diam dengan tatapan bingungnya. Entah mengapa gadis kecil ini benar-benar telah berubah. Baru saja kemarin ia mendengar suara tangisan gadis kecil itu tapi sekarang ia dibuat bingung karena gadis ini yang setiap harinya bertingkah seolah-olah ia tidak berbuat sebuah kesalahan.


Tuo yang sejak tadi diam itu langsung menoleh menatap ke arah Puang Dodi ysnh terlihat tersenyum sambil menatap Puang Dodi.


Puang Dodi hanya merasa senang saja karena ia punya seorang anak perempuan yang bisa mengurus rumah. Kursi yang selalu berdebu saat ia ingin duduk kini telah bersih tanpa ada debu sedikit pun.


Lihatlah sekarang apa yang dilakukan oleh Saoda sekarang. Dia melipat pakaian yang setiap harinya selalu ia gantung di pinggiran dinding rumah.


Dia juga yang telah mencuci peralatan makan dan juga yang telah menyediakan makanan untuk malam ini.


"Pak!" panggil Tuo.


Puang Dodi melirik.

__ADS_1


"Apa?"


"Apa dia masih sakit?"


"Sakit bagaimana? Dia terlihat baik-baik saja."


"Apanya yang baik-baik saja? Dia bersikap aneh."


"Ini bukan aneh, Nak. Dia hanya berusaha untuk melupakan semuanya dengan cara menyibukkan diri. Biarkan dia begini, Nak! Ada saatnya dia akan kembali mengingat kejadian itu lalu dia kembali menjadi gadis kecil yang paling menyedihkan."


Mendengar hal itu membuat Tuo kini terdiam. Benar juga yang dikatakan oleh Bapaknya itu. Lebih baik anak kecil ini berprilaku seperti ini dari pada ia harus menangis dan diam sepanjang malam.


Suara jengrik dan sahutan anjing hutan terdengar di luar sana. Saoda membaringkan tubuhnya di atas kasur yang kali ini telah menjadi miliknya. Hawa dingin dari permukaan bantal itu membuatnya merasa tenang dan nyaman.


Saoda yang berniat untuk memejamkan kedua matanya itu kini berbalik badan menatap Tuo yang mengintip di pintu masuk.


"Ada apa?" tanya Saoda dengan wajah bingungnya.


Tuo tersenyum lalu segera memunculkan seluruh tubuhnya. Ia melangkah masuk.


"Apa kau sedih?"


"Sedih?"


"Iya."


Tuo mengangguk walau sejujurnya ia tidak percaya sepenuhnya.


"Lalu apa yang lakukan di sini?"


"Tidak ada. Aku hanya memastikan saja," ujarnya lalu melangkah pergi meninggalkan Saoda yang kini mengrnyit bingung. Sekarang bukan Tuo yang selalu merasa bingung dengan sikap Saoda tetapi, Saoda lah yang merasa bingung dengan sikap Tuo.


"Pria aneh," ujar Saoda lalu segera membalikkan badannya membelakangi permukaan pintu.


Tuo yang berniat untuk melangkah pergi itu kembali melangkah mendekati pintu kamar dan kembali mengintip.


Ia diam menatap Saoda yang sudah berbalik badan membelakanginya.


"Heh!" tegur Puang Dodi yang langsung menyentuh bahu Tuo yang tersentak kaget.


Ia menoleh dengan wajah kagetnya menatap ke arah Puang Dodi yang tertawa seakan puas telah mengejutkan putranya itu.


"Bapak ini kenapa? Bapak membuat aku terkejut saja."


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Puang Dodi membuat Tuo diam sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal .

__ADS_1


Puang Dodi menoleh, ia ikut menatap ke arah Saoda yang sudah terbaring di dalam sana. Sepertinya is sudah tertidur.


"Mau mengintipnya tidur?"


"Aku hanya memastikan jika dia tidak menangis. Dia kan gadis kecil yang suka menangis," jelasnya lalu melangkah pergi meninggalkan Puang Dodi yang kini terdiam dengan wajah bingungnya.


Saoda yang berada di atas tempat tidurnya itu kini menghela nafas panjang. Ia diam menatap permukaan dinding kamarnya yang dihalang oleh kain kelambu.


Tak berselang lama Saoda memejamkan kedua matanya. Ia ingin tidur sekarang. Tak sabar rasanya ia menunggu pagi dan kembali melakukan kegiatan yang hari ini ia lakukan.


Saoda mengernyitkan dahinya ia mendengar suara teriakan orang banyak yang tak tahu berapa jumlah orang itu.


Kedua mata Saoda terbuka dan kedua matanya itu membulat menatap banyaknya orang yang ada di hadapannya.


Saoda mengernyit bingung. Ia melirik menatap telapak tangannya yang menyentuh permukaan tanah yang kotor. Kepalanya juga menyentuh permukaan tanah.


Dimana ia sekarang? Dan apa yang ia lakukan di tempat ini. Saoda yang menoleh ke kiri dan kanan itu kembali mengingatkan pada kejadian pembakaran itu.


Apa ia kembali bermimpi atau waktu yang malah mundur?


"Sekarang mari kita bakar dia!!!" teriak puang Sae sambil mengangkat jerkin ke atas membuat semua orang ikut berteriak.


"Ya, bakar dia!!!"


"Bakar!!!"


"Bakar!!!"


Mendengar hal itu membuat kedua mata Saoda membulat. Apa yang mereka katakan? Siapa yang ingin mereka bakar?


Kedua mata Saoda kini menyipit menatap satu persatu orang yang ada di depannya. Mereka semua adalah orang yang telah membakar Indo dan Bapaknya.


Saoda menoleh menatap sosok Indonya yang kini telah terbaring bersimpah darah di atas tanah. Ada banyak batu di sana.


"Indo," ujar Saoda.


Puang Sae melangkah melintasi Saoda yang kini menoleh menatap Puang Sae langsung menyirami tubuh Sambe dengan minyak tanah yang berasal dari jerkin itu.


"Jangan!!!" teriak Saoda yang langsung berlari berniat untuk meraih jerkin minyak tanah itu berusaha untuk mencegahnya.


Saoda terkejut bukan main saat jari-jari tangannya berhasil menembus jerkin minyak tanah itu.


Ada apa ini?


Saoda mengangkat kedua tangannya dan menatapnya dengan wajah heran. Apa yang sedang terjadi kepadanya.

__ADS_1


"Tidaaaaaaak!!!"


__ADS_2