Parakang

Parakang
79. Gadis yang Tuo suka


__ADS_3

"Bapak."


Puang Dodi terlihat tersenyum sejenak lalu kembali melangkah menaiki anakan tangga dan duduk di samping Tuo yang kini memilih untuk diam.


Puang Dodi menyentuh pundak Tuo membuat Tuo menoleh menatap wajah Bapaknya yang telah sedikit beruban rambutnya serta keriput di wajahnya yang sudah bermunculan.


Dulu ia terlihat bugar namun, sekarang ia sudah tua karena telah melewati banyaknya rintangan kehidupan yang hari-harinya telah terasa membaik karena ada sosok Saoda yang dengan senang hati untuk mengurus semua pekerjaan rumah.


"Ada apa, Nak?" tanya Puang Dodi.


Tuo menggeleng sejenak. Ia tersenyum lalu kembali menghela nafas.


"Apa kau merasa bosan?"


"Bosan karena apa?"


"Karena tidak punya pendamping hidup?"


Tuo melirik lalu tersenyum kecil. Ia tertunduk lalu menggeleng pelan.


"Lalu apa?"


Tuo hanya diam.


"Aku tahu, Nak. Hidup kau memang tidak hanya seperti ini. Seperti pergi kerja dan pulang kerja saja. Kau sudah dewasa. Sudah waktunya kau menikah lalu apa kau ingin menikah di waktu dekat ini?"


"Menikah?"


"Iya. Kau mau, kan menikah?"


"Tapi menikah dengan siapa?"


Saoda yang berniat untuk melangkah pergi ke arah dapur itu langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar suara percakapan antara Puang Dodi dan Tuo.


Saoda kini memilih diam di belakang pintu berusaha untuk mendengar suara percakapan mereka.


"Tentu saja menikah dengan perempuan lalu mau menikah dengan siapa lagi?"


"Tapi siapa perempuan yang mau dengan aku?"

__ADS_1


Puang Tuo menghela nafas berat. Ia menyentuh pundak Tuo yang masih duduk di sampingnya.


"Ada banyak gadis desa yang belum menikah di desa ini."


"Tapi belum tentu gadis-gadis desa mau dengan aku, pak."


"Mengapa mereka tidak mau? Kan kan pria tampan dan juga pekerja keras, jadi tentu saja ada banyak gadis yang mau dengan kau."


"Kau belum mencoba saja. Jika Bapak memberitahu warga desa kalau kau ingin mencari calon istri pasti mereka akan berbodong-bondong datang ke sini untuk menawarkan diri."


Saoda menjauhkan telinganya yang sejak tadi bersandar di permukaan pintu. Wajahnya terlihat memasang wajah kaget setelah mendengar apa yang puang Dodi katakan.


"Calon istri?" panik Saoda sambil menyentuh dadanya.


Yah, Saoda merasa sangat tak suka jika puang Dodi membahas tentang calon istri di hadapan Tuo. Tapi apakah ini berarti Tuo ingin menikah? Pria kecil yang dulu selalu ada untuknya dan menemaninya disetiap waktu akan mencari calon istri lalu bagaimana dengan nasib dirinya?


"Aku hanya tidak yakin, Pak. Mereka semua juga tidak mungkin mau dengan aku," ujar Tuo membuat Saoda kembali mendekatkan teliganya berusaha untuk mendengar percakapan mereka yang sepertinya masih berlanjut.


"Sepertinya di sini bukan para gadis desa yang tidak mau, tapi kau yang tidak mau, Nak. Apa kau menyukai seorang gadis?"


Kedua mata Tuo membulat. Dengan wajah terkejut ia menoleh menatap Puang Dodi yang masih menatapnya sambil tersenyum.


Tuo diam sejenak. Ia tak mungkin mengatakan jika ia memang telah menyukai seorang gadis dan gadis itu adalah Saoda. Ia tak ingin membuat Bapaknya itu menjadi marah.


Yang Tuo tahu Saoda adalah seorang wanita yang telah dianggap sebagai anak sendiri oleh Puang Dodi dan ia tak mungkin menghancurkan hubungan itu hanya karena rasa sukanya kepada Saoda.


"Katakan, Nak! Siapa nama gadis itu?"


Tuo terdiam dan itu pula yang sedang dilakukan Saoda di dalam sana. Ia juga ikut diam menanti Tuo mengatakan atau menyebut nama gadis yang Tuo suka.


Entah apa penyebabnya tapi Saoda tak suka dan rasanya ia benar-benar tak suka dengan hal ini. Jika benar nama gadis itu sampai disebut oleh Tuo maka Saoda tak akan tinggal diam. Saoda seakan tak rela jika ada yang memiliki Tuo.


Saoda besar bersama Tuo dan hari-jarinya itu selalu ia lewati bersama Tuo. Tak rela saja jika ada gadis yang mendekati Tuo nantinya jika mereka menikah nanti.


"Aku-"


"Katakan!"


Tuo menoleh menatap Tuo yang terlihat begitu sangat berat untuk mengatakannya.

__ADS_1


"Aku tidak suka dengan siapa-siapa," ujarnya lalu melangkah pergi meninggalkan Puang Dodi yang kini terlihat tetap diam melihat kepergian Tuo.


Tak berselang lama Puang Dodi terlihat tersenyum tipis. Puang Dodi memang belum mendapatkan jawaban dari Tuo mengenai siapa gadis yang ia sukai, tapi Puang Dodi telah mengetahui semuanya.


Puang Dodi telah tahu siapa gadis yang Tuo suka.


...****************...


Malam menjelang. Susana malam yang yang hening serta kegiatan makan malam yang diterangi dengan cahaya api buatan yang terbuat dari kaleng cat.


Suasana makan malam kini berlangsung seperti biasa, tak ada yang beda saat malam ini. Makanan sederhana buatan Saoda telah menjadi makanan kesukaan bagi Tuo.


Setelah kegiatan makan malam selesai Saoda kembali pada kegiatannya seperti biasa yaitu mencuci perlengkapan makannya.


Tuo yang berniat untuk melangkah masuk ke dalam dapur kini terhenti langkahnya ketika ia melihat sosok Saoda yang sedang duduk di atas bangku kecil sambil sibuk menggosok piring dengan kain.


Tuo melirik menatap bentuk lekuk tubuh Saoda yang begitu indah. Baju lengan pendek dengan sarung batik yang selalu melingkar di pinggangnya terlihat menutupi bagian paha hanya sampai ke bagian lututnya sehingga bagian pahanya terlihat sedikit.


Tuo meneguk salivanya. Entah perasaan yang muncul dalam benaknya tapi rasanya Tuo mengingkan tubuh Saoda.


Tuo memejamkan kedua matanya dan menipis jauh-jauh keinginan itu. Tak ingin larut dalam keinginan yang tak mungkin ia penuhi Tuo segera melangkah pergi.


Di satu sisi kini puang Dodi yang sedang berada di anakan tangga sambil menghisap rokoknya bisa melihat Tuo dari tadi. Dugaannya sudah sangat kuat, jika Tuo menyukai Saoda.


Memang ini yang salah. Ia memang tak mungkin meletakkan dua pria dan gadis di dalam satu rumah. Sebelum terjadi hal yang tidak baik maka puang Dodi harus berbuat sesuatu.


...****************...


"Duduk di hadapanku!" pinta Puang Dodi yang kini sedang duduk di atas kursi membuat Saoda dan Tuo kini saling melirik seakan tidak mengerti dengan apa tujuan puang Dodi menyuruh mereka untuk duduk di hadapan puang Dodi.


"Cepat duduk!" Tunjuk-nya lalu segera mematikan rokoknya di atas asbak yang terbuat dari tanah liat itu.


Tuo dan Saoda segera duduk di kursi tepat di hadapan puang Dodi yang kini terlihat diam. Puang Dodi menatap serius ke arah Saoda dan Tuo secara bergantian sementara dua orang ini terlihat terheran.


"Apa kau tahu apa tujuan aku menyuruh kalian duduk di hadapan aku seperti ini?".


Saoda dan Tuo dengan kompak saling menggeleng menandakan mereka tidak tahu.


"Aku ingin bertanya dengan kalian berdua."

__ADS_1


__ADS_2