Parakang

Parakang
63. Balas Dendam


__ADS_3

"Indo!"


Saoda menoleh menatap Indonya yang kini sudah hangus terbakar. Ia bisa melihat wajah Sambe yang telah menghitam karena terbakar panasnya api. Wajahnya sudah tak dapat lagi memperlihatkan jika dia adalah sosok Indonya yang berparas cantik itu.


Saoda yang masih menangis itu kemudian menoleh menatap sosok Bapaknya yang kini sudah tak bergerak sedikit pun.


Saoda menunduk dengan rasa sakit di hatinya yang tak bisa lagi ia utarakan dengan kata-kata. Kata apa yang bisa ia ucapkan jika berada dalam kondisi yang seperti ini.


Ini terlalu sangat menyakitkan bahkan tak mampu air mata pun tak mampu dijadikan pelepas kesepiannya.


Saoda mengusap air matanya yang membasahi pipinya. Ia segera bangkit dari tanah. Menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari kendi berisi air yang selalu ia gunakan untuk mencuci kaki sebelum naik ke atas rumah.


Saoda berlari melewati Tuo yang kini terlihat diam dengan wajah pucat ketakutan. Saoda meraih air itu dengan wadah kecil yang terbuat dari tempurung kelapa. Setelah terisi dengan air ia kembali berlari dan menyirami tubuh Sambe yang terbakar.


Walau tak berpengaruh pada besarnya apa, tapi Saoda tak peduli. Ia hanya mencoba untuk menyelamatkan Indo dan Bapaknya dengan jari mungilnya yang hanya mampu membawa air sedikit.


Tuo yang sejak tadi melamun kini tersadar dari lamunannya dan ikut berlari. Ia mengangkat kendi berisi air itu dengan susah payah ke arah Saoda dan Jambe membuat Saoda dengan cepat menyiram tubuh Sambe dan Jambe dengan mudah.


Tuo ikut membantu. Ia ikut menyiram tubuh Saoda dan Jambe mengunakan jari tangan yang tidak mampu menampung air yang banyak.


Tuo menghentikan gerakan tangannya. Ia teringat akan sesuatu membuatnya segera menoleh menatap ke segala arah mencari sosok pria yang sangat penting baginya.


Kedua sorot mata Tuo yang sejak tadi mencari itu terhenti setelah kedua matanya berhasil melihat sosok Puang Dodi yang terlihat terbaring di atas tanah.


"Bapaaaaak!!!" teriak Tuo lalu segera berlari menghampiri Bapaknya.


Tuo memangku kepala Puang Dodi. Ia menyentuh kedua pipinya dan menepuknya dengan pelan berusaha untuk memabangungkan sosok Bapaknya yang tak kunjung sadar.


"Bapaaaaak!!! Bapak bangun, Pak! Ini Tuo, Pak!!!" teriak Tuo.


Kening Puang Dodi mengekerut ketika ia merasakan seseorang menepuk pipinya. Ia membuka kedua matanya dengan perlahan membuat Tuo segera menghentikan teriakannya.


Tuo bernafas lega. Bapaknya masih hidup. Hampir saja Tuo ingin berteriak sangat keras.


Puang Dodi bangkit dan duduk sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Ia meringis sambil menyentuh kepalanya.


"Pak! Apa Bapak baik-baik saja?" tanya Tuo yang terlihat begitu sangat khawatir.


Puang Dodi menoleh menatap putranya. Puang Dodi tersenyum. Ia menyentuh kepala putranya lalu mengangguk.


"Bapak baik-baik saja, Nak. Apa kau baik-baik saja?"


"Aku baik-baik saja, Pak, tapi-"


"Tapi?"


"Puang Jambe dan puang Sambe, Pak."


"Ada apa dengan mereka?" tanya Puang Dodi dengan firasatnya yang kini tak nyaman.


"Dia-"


"Indoooo!!!"


"Bapaaaaak!!!"


Suara teriakan itu terdengar seakan sedang melolong. Saoda mendongak ke langit. Tak berselang lama ia kembali menunduk sambil menyentuh dadanya yang terasa sesak. Rasanya ada yang menikam dadanya hingga terasa sakit dan perih.


Puang Dodi dan Tuo menoleh menatap Saoda yang kini duduk di antara jazad hangus Indo dan Bapaknya yang sudah tiada.


Kedua mata puang Dodi membulat.

__ADS_1


"Siapa- siapa yang-"


"Mereka semua, Pak."


Puang Dodi menoleh menatap puteranya yang baru saja bicara.


"Mereka semua membakar Puang Jambe dan Puang Sambe," lanjut Tuo lalu menangis.


Kedua mata Puang membulat dengan tatapannya yang tak menyangka.


"Apa?"


Tuo mengangguk.


"Mereka membakarnya."


Puang Dodi menggeleng tak percaya. Ia menoleh menatap dua jasat hitam dan sosok gadis kecil yang sedang menangis di tengah-tengahnya membuat puang Dodi percaya jika dua jasad hitam itu adalah puang Jambe, sahabat terbaiknya dan juga Sambe, istri dari sahabatnya itu.


Puang Dodi benar-benar tidak menyangka jika para warga desa dengan teganya melakukan hal itu.


"Aaaaa!!!"


"Bapaaaa!!!"


"Indoooo!!!"


"Kenapa Bapak dan Indo meninggalkan Saoda?"


"Saoda tidak bisa hidup tanpa engkau berdua."


"Engkau adalah kehidupan bagi Saoda dan sekarang mengapa engkau pergi?"


"Indooooo!!! Bapaaaaak!!!"


"Bapaaaaak!!!"


"Aaaaa!!! Indooo!!!"


"Jangan tinggalkan Saoda!!!"


"Saoda mohon jangan tinggalkan Saoda sendiri di sini! Saoda mohon, Bapak, Indo!!!"


"Mengapa Indo dan Bapak meninggalkan Saoda sendiri di sini? Tanpa Saudara dan keluarga."


"Kenapa Indo?"


"Saoda tidak mau hidup di dunia ini jika tidak ada Indo dan Bapak."


"Saoda mohon, Bapak, Indo!!!"


Saoda membaringkan tubuhnya di atas tanah yang berbau darah serta hangus yang menyengat menjadi satu memenuhi rongga paru-parunya.


"Indo, jika tidak Indo lalu siapa yang akan menyuapi Saoda?"


"Siapa yang akan membesarkan Saoda?"


"Siapa yang akan menjaga Saoda?"


"Indo, siapa yang akan mengusap luka di kaki Saoda jika kaki Saoda terluka?"


Saoda menoleh menatap jasad Bapaknya membuatnya tak kuasa menahan sesegukan.

__ADS_1


"Bapaaak! Kenapa Bapak juga ikut tinggalkan Saoda?"


"Apa Bapak tidak sayang Saoda?"


"Kalau Bapak pergi tinggalkan Saoda lalu siapa yang akan mengipas Saoda selama Saoda tidur agar tidak ada nyamuk yang mengigit Saoda."


"Bapak!!! Siapa lagi yang Saoda bantu untuk mencari keong dan ikan?"


"Siapa yang akan menggendong Saoda kalau Bapak tidak ada?"


"Bapak! Indo!"


Saoda menunduk dengan kedua matanya yang terbuka dan beberapa menit kemudian kedua matanya terbuka dengan sorot matanya yang begitu tajam. Sorot mata yang begitu marah.


Kedua tangannya mengepal dengan tubuhnya yang gemetar marah.


"Ini semua karena kalian."


"Ini semua karena orang-orang jahat. Orang-orang yang tidak punya hati."


"Kau-kau semua akan merasakan pembalasan aku!!!"


"Aku bersumpah aku tidak akan membiarkan kalian semua bahagia bahkan sampai generasi ketujuh pun akan aku buat kalian menderita."


"Hari ini kalian boleh puas setelah melakukannya tapi tunggu setelah aku besar! Aku tidak akan membiarkan kalian semua bahagia."


"Kalian juga akan merasakan apa yang aku rasakan. Kalian juga harus tahu apa yang namanya kehilangan seseorang."


"Jika kalian menuduh Indoku sebagai Parakang namun, yang sebenarnya terjadi adalah Indo aku bukanlah Parakang maka aku yang akan menjadi Parakang."


"Aku yang akan menghancurkan kalian semua."


"Ini bukan janji seorang anak kecil, tapi ini sebuah janji seorang anak dari orang yang telah kau bakar."


"Ini janji aku. Ini janji Saoda!!!"


Saoda melepaskan tangisannya. Ia menggaruk tanah yang ia pegang lalu memukulnya dengan keras.


Saoda menghentikan tangisan dan teriakannya ketika seseorang menyentuh bahunya membuat Saoda mendongak menatap Puang Dodi yang terlihat memegang Tuo. Wajahnya terlihat jelas raut wajah sedih yang bisa Saoda rasakan.


Puang berlutut lalu tersenyum tipis.


"Maafkan aku karena tidak bisa menyelamatkan kedua orang tua kau."


"Sekarang kau juga sudah menjadi bagian dari aku!"


"Kau sekarang adalah tanggung jawabku."


Puang Dodi menjulurkan tangannya membuat Saoda menunduk menatap jari tangan yang terulur itu.


"Ikut lah bersama aku, Nak!"


"Aku yang akan menggantikan kedua sosok orang tua kau semampu aku."


Saoda menoleh menatap kedua orang tuanya dan tak bersalah lama ia kembali menoleh menatap Puang Dodi.


Cukup lama ia terdiam membuatnya dengan pelan meletakkan jari tangan kecilnya di atas telapak tangan puang Dodi yang kini menariknya agar bisa berdiri.


Puang Dodi, Tuo dan Saoda kini berdiri menatap ke arah jasad hitam itu lalu tak bersalang lama mereka berpaling dan melangkah pergi.


Saoda yang melangkah itu kini menoleh menatap sedih pada sosok jasad hitam itu.

__ADS_1


Apakah ini sebuah perpisahan yang nyata? Dan kisah ini akan berakhir sampai di sini saja?


__ADS_2