
"Jangan lempar Indokuuuuu!!!" teriak Saoda yang masih berusaha lepas dari pegangan Tuo yang juga ikut gemetar ketakutan.
Tuo juga tak kuasa untuk menahan ketakutan. Sesekali ia hanya bisa memejamkan kedua matanya setelah melihat kejadian kekejaman para warga desa yang seakan sudah tidak punya hati.
"Hentikan ini semua!!!" teriak puang Ambo membuat semua warga menoleh.
"Apa yang telah kau lakukan ini adalah sebuah dosa besar!!!"
Puang Ambo segera melangkah berniat untuk menghampiri Sambe yang sudah terkulai lemas di atas tanah. Sambe berniat untuk bangkit, tapi rasanya ini sangat sulit.
"Jangan mendekat puang!!!" teriak puang Sae membuat langkah puang Ambo terhenti.
"Kau tidak perlu ikut campur dengan masalah ini."
"Tapi aku adalah kepala desa di desa ini."
"Jangan ikut campur Puang! Kami bisa saja melakukan hal yang sama seperti apa yang kami lakukan kepada Sambe. Jangan sampai kami semua melupakan apa kedudukan kau sebagai kepala desa di desa ini!!!" teriak puang Sae membuat puang Ambo meneguk salivanya. Sepertinya ujaran mereka bukanlah sebuah candaan.
Merayu mereka semua yang tersulut emosi tidak akan membuat situasi menjadi baik bahkan ia hanya mengancam dirinya sendiri.
"Tapi yang kau lakukan ini semua salah," bela puang Lao.
Tak ada lagi yang mau mendengar atau nasihat dari siapa pun membuat para warga desa kembali melempari tubuh Sambe yang menjerit kesakitan saat ia bisa merasakan hantaman batu yang menimpa tubuhnya begitu sangat sakit.
"Aaaa!!!"
"Sakit!!!" rintih Sambe.
Ia memeluk kepalanya itu yang entah sudah berapa kali ia mendapatkan hantaman batu dari berbagai ukuran dan orang yang berbeda-beda juga.
Puang Ambo yang melihat itu tak kuasa. Ia juga tidak bisa menolong Sambe dan ini hanya membahayakan dirinya sendiri. Tak berselang lama puang Ambo melanglah mundur dan melangkah pergi membuat puang Lao terkejut.
"Puang Ambo!!!" panggil Puang Lao yang langsung melangkah mencegah kepergian puang Ambo yang menghentikan langkahnya.
"Puang Ambo mau kemana?"
"Aku ingin pulang saja."
"Pulang?" Tatapannya tak menyangka.
Belum sempat ia kembali bicara puang Ambo sudah melangkah pergi meninggalkan puang Lao yang langsung menoleh.
"Puang Ambo!" panggil Puang Lao lagi lalu berlari menghampiri Puang Ambo yang tak kunjung menghentikan langkahnya.
"Puang Ambo!!! Puang Ambo tidak boleh meninggalkan salah satu warganya yang berada dalam keadaan genting. Sebuah kekerasan terjadi di desa ini dan ada tidak peduli?"
__ADS_1
Puang Ambo menghentikan langkahnya. Ia langsung menoleh menatap Puang Lao yang ikut menghentikan langkahnya.
"Aku memanglah kepala desa tapi bagaimana bisa kepala desa melawan puluhan warga desa yang kini telah terbakar dengan amarah."
"Apa yang bisa aku lakukan? Membiarkan aku juga dilempari dengan batu seperti apa yang mereka lakukan kepada Sambe?"
"Aku juga ini manusia. Aku juga punya anak dan istri yang harus aku jaga."
"Aku ini masih ingin hidup. Aku bukan orang bodoh yang mau menolongnya dan membiarkan aku mati konyol di sana."
"Kalau kau mau, kau saja yang menolongnya dan aku tidak akan pernah mau menolongnya," ujar puang Ambo lalu ia melangkah pergi meninggalkan Puang Lao yang kini hanya bisa terdiam.
Puang Lao menoleh menatap sejenak sosok Sambe yang sudah bersimpah darah bahkan wajahnya pun sudah tak terlihat jelas lagi. Puang Lao menghela nafas panjang. Ia pun tak mengerti dengan apa yang harus ia perbuat sekarang.
Tak berselang lama, setelah ia lelah dengan batinnya sendiri akhirnya ia ikut melangkah pergi meninggalkan kerumunan warga desa yang masih melempari tubuh Saoda dengan batu.
Baginya tak ada juga gunanya ia berada di tempat ini. Suara teriakan dan kesakitan Saoda yang menjerit begitu sangat membuat batin Puang Lao tersiksa.
Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda tepatnya di atas rumah dimana Saoda yang melihat kepergian puang Lao dan puang Ambo membuatnya terbelalak bukan main.
"Berhenti!!!"
"Jangan pergi!!!"
"Tolong jangan pergi!!!"
"Bagaimana bisa kau pergi meninggalkan Indoku dalam keadaan seperti ini!!!"
"Aku mohon tolong Indokuuuu!!!" teriak Saoda yang terdengar menjerit.
Ia berusaha menggerakkan tangannya yang masih dipegang oleh Tuo yang sudah menangis sesenggukan. Ia juga tidak tega melihat sosok wanita yang begitu sangat baik bahkan telah ia anggap sebagai Indonya sendiri diperlakukan dengan sangat kasar.
"Lepaskan aku, Tuo!!! Lepaskan!!!"
"Tidak, Indo kah telah menyuruh aku untuk menjaga kau. A-aku-aku tidak akan melepaskan kau!!!"
"Kau tidak mau melepaskan aku lalu siapa yang akan menolong Indo aku di sana? Di sana dia dilempari dengan batu!!!"
"Apa kau tidak memikirkan bagaimana rasa sakitnya? Apa kau tidak tahu?!!" gertak Saoda.
"Tapi aku juga telah diperintahkan untuk menjaga kau."
"Jika aku melepaskan kau sekarang dan membiarkan kau pergi ke sana lalu apa yang akan kau lakukan? Apa? Hah?!!"
"Kau tidak akan bisa menolongnya!!? Kau dengar?!! Kau tidak akan bisa menolongnya?!!" Tunjuknya membuat Saoda tersentak kaget.
__ADS_1
"Mengapa kau masih bertanya? Lepaskan aku dan biarkan aku menolong Indo aku!!!"
"Dengan cara apa kau menolongnya?"
"Aku akan menjelaskan semuanya!!!"
"Tidak ada yang akan mendengar kau. Bagi mereka kau hanya seorang anak kecil yang hanya bisa menangis!!!" teriak Tuo membuat Saoda kini terdiam.
Ia tertunduk dengan berbagai ungkapan batinnya yang bersahutan di dalam sana. Memang benar yang dikatakan oleh Tuo. Dia hanyalah seorang anak kecil yang suaranya tak akan mau didengar oleh siapa pun.
Jika penjelasan Indo, Bapak, Puang Dodi, Puang Ambo dan Puang Lao tidak mau didengar oleh mereka maka siapa yang akan mendengar penjelasannya.
"Hentikan! Sudah cukup kita semua melemparnya!!!" teriak puang Sae membuat semua orang menghentikan lemparannya.
"Kenapa dihentikan? Ini belum cukup untuk menghukum dan membalaskan perbuatannya."
"Ya, benar. Melempar dan membuatnya berdarah tidak lah cukup dan sekarang mari kita buat dia jauh lebih tersiksa," ujar puang Sae dengan senyum liciknya.
Para warga kini saling berbisik dengan wajahnya yang terlihat tak mengerti.
"Apa yang kau katakan puang?"
"Sekarang mari kita bakar dia!!!" teriak puang Sae sambil mengangkat jerkin ke atas membuat semua orang ikut berteriak.
"Ya, bakar dia!!!"
"Bakar!!!"
"Bakar!!!"
Mendengar hal itu membuat kedua mata Saoda membulat. Apa yang mereka katakan? Apa mereka ingin membakar Indonya.
Belum selesai Saoda berpikir dan menebak, tepat di hadapan kedua matanya Puang Sae langsung menyirami tubuh Sambe dengan minyak tanah yang berasal dari jerkin itu.
"Tidaaaaaaak!!!" teriak Saoda sambil merentangkan jari-jari tangannya ke arah Saoda yang begitu sangat jauh untuk ia gapai.
Boamm!!!
Suara keras itu terdengar ketika puang Sae langsung melemparkan obor ke tubuh Sambe yang langsung terbakar.
"Aaaaaa!!!"
"Aaaaaaa!!!"
"Toloaaaaaaang!!! Aaaaa!!!"
__ADS_1
Suara jeritan itu terdengar diiringi gerakan Sambe yang menggeliat di atas tanah berusaha untuk menghindar dari api yang telah membakar seluruh tubuhnya.
"Indooooo!!!" jerit Saoda.