
"Raina, aku mohon!!!"
"Sudah aku katakan untuk tidak ikut campur, Erni!!!"
"Aku melakukan hal ini karena aku peduli!!!"
"Aku tidak butuh!!!" teriaknya lagi lalu beralih pergi membuat Erni menghentikan larinya.
Ia terdiam menatap kepergian Raina yang entah kemana. Erni tak bisa melihatnya karena suasana hutan yang sedikit gelap. Entah mengapa rasanya malam ini begitu berbeda dengan malam sebelumnya yang jauh lebih terang.
Raina masih berlari dengan kencang menginjakkan kakinya yang tak beralaskan sendal itu ke atas rerumputan yang entah dihiasi oleh duri atau tumbuhan lain. Raina tak peduli. Yang Raina inginkan saat ini adalah ia bisa berjumpa dengan sosok Idonya yang berubah wujud menjadi sosok Parakang sebelum Indonya lebih dulu ditemukan oleh para penduduk desa.
Suara pepohonan yang ditiup oleh angin kencang itu terdengar dan berhasil mengoyang-goyangkan pepohonan yang tinggi serta jenisnya itu tidak rata dan sama.
Cahaya kilat terpampang jelas menyambar hutan lebat yang dilalui oleh Raina membuat langkah lari Raina terhenti. Ia mendongak menatap langit gelap yang tiba-tiba saja ditutupi oleh awan gelap.
Apa mungkin akan turun hujan. Bahkan bintang-bintang tak terlihat sedikit pun di malam ini.
"Kejar dia!!!"
"Wahai Parakang, ku katakan engkau cepat berhenti!!!"
"Berhenti!!!"
Mendengar suara teriakan itu membuat Raina sedikit terkejut. Ia yang sedari tadi mendongak dengan cepat menunduk menatap ke arah bawah sana cahaya api dari obor yang terlihat bergerak semakin jauh darinya.
"Raina!!!"
Suara teriakan itu ikut terdengar membuat Raina tahu siapa pemilik suara itu. Sudah jelas jika itu suara Erni yang sepertinya masih mengejarnya tanpa ada rasa lelah.
Raina memundurkan langkahnya dan tak berselang lama ia segera berlari menuruni bukit dengan tergesah-gesah.
Raina terperosok ke tebing yang tidak terlalu curam. Niatnya untuk bisa dengan cepat sampai ke bawah sana malah membuatnya terjatuh.
Tubuh Raina terhempas ke tanah dan mengelindingkan seperti sebuah batang kayu yang menggelinding ke tebing.
Buk
"Aaa!!!" teriak Raina saat ia bisa merasakan hantaman keras tubuhnya yang menabrak batu besar.
Raina menggerakkan tangannya dan menggapai apa-apa yang ada di sekitarnya. Gelindingan itu terhenti saat salah satu tangannya berhasil menggapai batu besar yang telah menghantam tubuhnya tadi dengan sangat keras.
Kini Suasana hutan yang awalnya terasa sejuk karena hembusan hawa bercampur dengan bau tanda-tanda air hujan itu kini mendadak menjadi panas.
__ADS_1
Jari-jari Raina berpegangan erat pada permukaan batu yang teraba kasar.
"Aaaa, Indo tolong Raina," batinnya.
Jari tangan Raina kini berangsur merenggang. Ia meringis saat tak mampu untuk menahan beban tubuhnya sendiri yang begitu sangat membuatnya kesakitan dengan jari tangannya yang kini hanya bertahan satu.
Raina memejamkan kedua matanya dengan kedua bibirnya yang ia lipat ke dalam berusaha untuk tetap bertahan walau ini tak mungkin akan bertahan cukup lama.
Bruak
Tubuh Raina kembali mengelinding ke bukit yang curam itu saat pegangannya benar-benar sudah terlepas dan tak mampu lagi untuk bertahan.
Tubuh Raina terhempas ke tanah setelah mengelinding cukup jauh membuatnya bertiarap di atas tanah yang teraba dingin.
Kedua mata Raina terpejam dengan pipi kananya yang nampak menyentuh permukaan pipinya.
Raina mencoba untuk membuka kedua matanya tapi tidak bisa, ini sangat tak mudah untuk dilakukan.
Kepala Raina begitu sangat sakit membuat Raina menyentuh keningnya yang juga terasa nyeri itu.
Raina membuka kedua matanya dan alhasil ia bisa melihat pepohonan yang masih berada di tengah hutan itu nampak berputar dan terlihat buram. Raina tak bisa melihatnya dengan jelas.
Dengan cepat Rainab kembali menutup kedua matanya. Kepala dan seluruh tubuhnya itu terasa sangat sakit. Jujur saja Rains merasa jika seluruh tulangnya ini menjadi remuk dan menyakitkan.
Tangan Raina yang kanan merambah ke sekitarnya berusaha mencari sesuatu yang bisa ia gapai.
"Indo," ujarnya lagi namun kini suaranya telah terdengar dengan jelas.
"Apa kau sudah mendapatkannya?!!!"
"Cari dia!!!"
"Dia tidak jauh dari sini!!!"
Suara teriakan itu terdengar entah dari mana tapi Raina masih bisa mendengarnya walau suara itu samar.
"Indo, jangan tinggalkan Raina. Ra-rina akan dat-ang," ujaran Raina terhenti saat ia yang berusaha bangkit itu malah kembali terjatuh.
Kedua tangannya yang berusaha membangkitkan tubuhnya itu malah bergetar dan kembali membuat tubuhnya terhempas ke tanah.
Raina kini malah terdiam dengan kedua matanya yang terbuka dan tak pernah berkedip. Apakah hanya sampai di sini saja kisahnya? Dan membiarkan para warga desa menghakimi dan menyiksa atau bahkan bisa saja mereka semua membunuh Indonya dengan cara yang tragis.
Raina tak mengerti mengapa semuanya akan terjadi seperti ini. Sesuatu yang tak pernah ia harapkan selama hidupnya.
__ADS_1
Tiba-tiba penglihatan Raina menjadi gelap. Dahinya terasa dingin diringi cairan kental yang seakan bergerak menyentuh kulitnya. Apa mungkin itu darah yang keluar dari keningnya karena terkena batu atau rating pohon saat ia terjatuh. Raina tak mengerti bahkan sekarang kedua matanya telah tertutup rapat.
Dahi Raina mengkerut saat ia bisa merasakan cahaya yang menyilaukan kedua mataya. Raina menggerakkan kedua tangannya untuk menghindar dari cahaya silau itu.
"Raina."
"Raina."
"Kemari, Nak!"
Kedua matanya berangsur terbuka dengan perlahan setelah mendengar suara seseorang yang terasa memanggilnya. Raina sepertinya sangat kenal dengan suara itu.
Raina bisa melihat dengan jelas sosok wanita berpakaian serba putih yang nampak sedang berdiri di hadapannya agak jauh setelah bahaya menyilaukan itu berangsur menghilang.
"Indo," ujar Raina yang berhasil melihat sosok wanita tua itu.
Saoda nampak tersenyum begitu damai di depan sana seakan menyambut penglihatan Weva yang baru saja terbuka.
"Indo," ujar Raina lagi.
"Berdiri, Nak!"
"Ayo berdiri!"
"Tolong, Indo!" ujarnya membuat dahi Raina berkerut.
"Apa?"
"Tolong Indo!"
Nampak dengan jelas kedua tangan Saoda yang nampak dijulurkan ke arah Raina dengan tatapan yang begitu mengharap.
"Cepat, Nak!"
Raina dengan cepat bangkit dari tanah. Ia menyentuh permukaan dahinya yang tak berdarah seperti apa yang ia rasakan tadi. Kepalanya juga tak terasa sakit seperti saat terakhir kalinya.
Raina bangkit dengan kedua lututnya yang tak terluka dan berdarah sedikit pun. Raina mengerutkan dahinya dengan perasan bingung. Ia dengan cepat menatap sikunya yang terlihat baik-baik saja, tak ada darah dan luka seperti apa yang terjadi sebelumnya.
Raina tak mengerti mengapa luka dan darah itu malah menghilang dari tubuhnya. Entah kemana luka dan darah itu pergi.
Raina juga bisa merasakan jika tubuhnya tak sakit seperti tadi dimana ia bisa merasakan seluruh tubuhnya sakit seakan seluruh tulangnya remuk.
Raina menoleh menatap Saoda yang kini terlihat tersenyum menatapnya.
__ADS_1