
"Bagaimana ini, Puang?"
Puang Tuo kini terdiam beberapa saat wajahnya terlihat memikirkan sesuatu. Kini yang ia pikirkan adalah bagaimana caranya ia menyelamatkan Parakang itu dan memberikan jalan keluar untuk masalah ini.
Puang Tuo tahu jika menolong Parakang bukanlah hal yang positif karena ia sendiri sadar bahwa Parakang ini telah menjadi sosok yang membahayakan bagi warga desa.
Suara teriakan dari luar semakin terdengar jelas membuat Raina sesekali menoleh menatap ke arah luar jendela dan menatap gerombolan orang-orang yang kini sudah berdiri di depan rumah Erni.
"Bagaimana ini Puang Tuo?" tanya Raina yang untuk saat ini membuat Puang Tuo masih terdiam, ia tak tahu harus melakukan apa.
"Tolong lakukan sesuatu! Aku tidak ingin rumah ini sampai dibakar oleh mereka, Puang Tuo," ujar Erni dengan nada memohon-nya.
Puang Tuo terlihat masih terdiam, ia sedang memikirkan sesuatu.
"Keluar Kau Parakan!!!" teriak Puang Edi membuat para warga ikut bersorak.
"Keluar kau, jika tidak aku akan membakar hidup-hidup dirimu di dalam rumah ini!!!"
"Ayo cepat keluar!!!"
"Ayo keluar!!!"
"Keluar kau!!!"
"Keluar kau Parakang!!!"
Suara teriakan itu terdengar begitu nyaring di luar sana. Berteriak bergantian dengan nada suaranya yang begitu sangat keras.
"Puang Tuo, aku mohon lakukan sesuatu!" ujar Erni dengan nada sangat memohon.
"Iya, Puang. Tolong bantu kami!" tambah Raina.
Puang Tuo menarik nafas lalu tak berselang lama ia menoleh menatap ke arah Erni dan Raina secara bergantian.
"Aku tahu apa yang harus kita lakukan," ujarnya membuat Raina dan Erni saling bertatapan.
"Apa itu?" tanya Raina yang begitu penasaran.
...****************...
"Ayo keluar kau Parakang!!!"
"Iya, Keluar sekarang juga!!!"
"Keluar!!!"
"Keluar kau!!!"
__ADS_1
Suara teriakan itu semakin nyaring terdengar di luar sana seakan sedang menghakimi rumah tua yang terlihat seakan tidak memiliki penghuni.
"Bagaimana ini? Dia tidak keluar," ujar salah satu pria yang berdiri paling belakang.
"Kalau begitu kita bakar saja rumah ini."
"Ya, bakar saja rumah ini!!!"
"Bakar saja!!!"
"Bakar!!!" teriak salah satu pria berbaju hitam yang kini sedang mengangkat obor yang ada di tangannya.
Puang Edi yang kini merasa sangat geram karena tai kunjung mendapat respon dari sosok Parakang yang kata Puang Sampe berada di rumah ini. Dengan geram ia meraih jarken berisi minyak tanah yang telah ia bawa dari rumah lalu segera meraih obor yang dipegang oleh salah satu warga yang berada di sampingnya hingga tak berselang lama ia melangkah mendekati rumah tersebut dan menatapnya dengan tetapan tajam.
"Jika kau tidak ingin keluar maka aku akan benar-benar membakarmu hidup-hidup seperti ini dasar kau mahluk b*jingan!!!" teriaknya.
Hening dan sunyi, tak ada pergerakan dari rumah itu membuat kedua rahang Puang Edi bergetar karena marah.
"Sepertinya kau sedang bermain-main dengan aku, Parakang!!!"
"Sepertinya kau telah benar-benar menantangku Parakang!!!"
"Ingat! Kau tidak akan aku lepaskan lagi kali ini!!!"
"Kau telah menghancurkan kehidupanku!!!"
"Kau yang telah merenggut anak pertamaku hingga kau jadikan aku sebagai orang yang paling terpedih di dunia ini!!!"
"Hari ini aku bersumpah untuk tidak akan pernah melepaskan kau apapun itu!!!"
"Hari ini adalah hari pembalasan dendam aku. Aku benar-benar akan menghancurkan kau dan kau akan mati!!!"
"Kau akan terbakar di dalam sana dan pergi ke Nereka!!!"
Edi menjulurkan obor itu ke arah pria yang ada di sampingnya membuat pria itu dengan cepat menggengam obor itu membuatnya dengan perlahan membuka penutup jercam berisi minyak tanah itu lalu menatap permukaan pintu rumah yang tak terbuka juga.
"Hei kau Parakang!!!"
"Jika hitungan ketiga kau tidak keluar maka aku benar-benar akan membunuh kau disaat ini juga!!!" teriak Puang Edi.
Puang Edi mulai menarik nafas panjang dan menahannya di dada membuat dadanya terlihat membesar bersedia untuk menghitung.
"Aku akan menghitung satu sampai tiga, jika kau tidak keluar maka aku, Edi akan benar-benar membakar rumah ini."
Puang Edi kembali terdiam menanti pergerakan dari pintu rumah yang tak kunjung terbuka.
Hening dan sepi membuat tubuh Puang Edi gemetar karena marah.
__ADS_1
"Kau benar-benar menguji aku, Parakang!!!"
"Baiklah, berarti ini yang kaku minta!!!"
"Satu."
Tak ada respon.
"Dua."
Tetap sama. Puang Edi kini melirik menatap ke arah kiri dan kanannya ketika para warga saling berbisik.
"Tiga," teriaknya.
Suara Pang Edi mengerang kesal. Sepertinya Parakang itu benar-benar sangat menguji kesabarannya membuatnya dengan penuh amarah membuka penutup jerigen itu dan berniat untuk menumpahkannya di permukaan tanah yang berada di depan rumah tersebut baru gerakan tangan Puang Edi yang berniat menumpahkan minyak tanah tiba-tiba gerakan tangannya tertahan ketika suara pintu tua itu terdengar terbuka membuat Puang Edi mendongak menatap langkah kaki pria yang begitu ia kenal.
Puang Edi terkejut Bukan main menatap sosok yang kini sudah ada di hadapannya, bahkan bukan hanya Puang Edi yang terkejut tapi para warga juga.
Mereka terkejut menatap tiga sosok yang kini ada di depannya membuat Puang Edi bisa melihat dengan jelas sosok Pang Tuo yang kini sedang melangkah menuruni anakan tangga kayu bersama dengan Raina dan Erni.
Para warga desa kini saling berbisik. Entah bagaimana bisa Puang Tuo bida ada di dalam rumah ini Erni dan bagaimana bisa Raina juga bisa ada di dalam rumah ini?
"Apa yang mereka lakukan di dalam sana?"
"Bukankah itu Puang Tuo?"
"Sedang apa dia di sana?"
"Bagaimana bisa mereka bersama dengan dua anak gadis itu?"
"Apa mereka saling kenal?"
"Di jam seperti ini dia ada di rumah ini?"
"Dia kan si marbot masjid."
"Apa yang dia lakukan di sana?" tanya mereka yang kini saling berbisik.
Hal buruk yang mungkin bisa saja mereka pikirkan saat melihat hal tersebut.
Puang Tuo menghentikan langkahnya ketika ia telah berada di hadapan Puang Edi dan seluruh warga desa yang kini saling bertatapan.
Puang Tuo menghala nafas ia menoleh ke arah belakang menatap Raina dan Erni yang kini terlihat sangat pucat. Ya, Puang Tuo tahu jika kedua gadis ini begitu ketakutan terlebih lagi sosok Saoda yang masih berwujud berupa sosok Parakang masih berada di dalam rumah.
Mereka semua pasti takut jika Puang Edi bisa sampai melihat Parakang di dalam rumah dan itu bisa saja membuat Puang Edi marah dan benar-benar akan membunuh Parakang tersebut beramai-ramai dengan warga desa yang ada di sini.
"Ada apa ini?" tanya Puang Tuo yang kini sedang menatap Puang Edi beserta para warga desa lainnya.
__ADS_1