
Tubuh lemas Saoda terhempas ke tanah membuat ember berisi keong itu tumpah berantakan di atas tanah.
Kedua mata Tuo membulat menatap kaget pada sosok gadis kecil yang sudah berbaring di atas tanah.
"Saoda!!!" teriak Tuo yang langsung berlari menghampiri Saoda.
Tuo mengangkat kepala Saoda dan memangkunya. Ia menepuk-nepuk pelan pipi Saoda yang sudah pucat. Tuo benar-benar sangat takut dan cemas.
"Saoda! Ayo bangun! Saoda!" panggil Tuo yang berusaha untuk membangunkan Saoda yang tak kunjung bangun.
Tuo menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut Saoda. Sepertinya gadis kecil ini sedang pingsan dan ini semua karena ia telah melihat pelaku pembakaran yang telah merenggut nyawa Indo dan Bapaknya.
...****************...
Pria tua yang terlihat mengenakan peci hitam itu membaringkan Saoda ke atas tempat tidur disusul Tuo yang meletakkan sarung batik bekas Indo Tuo ke tubuh Saoda untuk menyelimutinya.
"Apa dia sakit?" tanya pria tua itu setelah meletakkan Saoda.
"Tidak puang hanya saja beberapa hari yang lalu dia telah demam."
"Mungkin dia terlalu lelah sampai dia bisa pinsan seperti ini."
"Tuo!" panggil puang Dodi yang kini melangkah masuk ke dalam kamar.
Yah, puang Dodi telah mendengar kabar pinsangnya Saoda setelah mendengar gosip para warga desa yang berlalu melintasinya saat hendak bersantai untuk menjaga kerbau-kerbaunya dari serangan anjing-anjing liar yang bisa saja datang dan menyerang kerbau-kerbau miliknya.
"Pak, Saoda pinsang," adu Tuo.
Puang Dodi meletakkan tangannya ke dahi Saoda yang terasa panas. Gadis kecil ini kembali demam.
"Ambilkan air hangat, Tuo!"
"Baik, pak," jawab Tuo menurut lalu segera melangkah pergi melewati pria tua yang kini sedang menatap serius ke arah Saoda.
Puang Dodi melirik menatap pria tua itu. Ia menatap dari ujung kaki sampai ujung rambut pria itu. Pria ini adalah salah satu petani yang petak sawahnya tidak jauh dari milik puang Dodi.
Pria tua yang menyadari tatapan puang Dodi langsung membuatnya tertawa kecil.
"Aku yang menggendong anak perempuan itu dan membawanya kemari," ujarnya memberitahu tanpa menunggu ditanya oleh puang Dodi.
Puang Dodi mengangguk.
"Terima kasih."
__ADS_1
Tuo melangkah masuk sambil membawa darah berisi air hangat serta handuk kecil yang akan digunakan untuk mengompres dahi Saoda.
Puang Dodi meraihnya. Ia duduk di samping Saoda dan segera memeras kain yang telah basah itu lalu meletakkannya di atas kening Saoda.
"Apa dia anak dari Parakang itu?" tanya pria tua itu membuat Puang Dodi dan Tuo menoleh menatap pria tua itu.
"Dia bukan Parakang," jawab Tuo yang terlihat begitu marah.
Puang Dodi yang awalnya ingin ikut bicara kini terdiam dan kembali menyibukkan dirinya merapikan kain kompres yang berada di kening Saoda yang masih belum sadar juga. Puang Dodi tersenyum kecil sepertinya ia tak perlu untuk menghadapi pria tua itu setelah mengatakan hal yang belum benar kebenarannya karena Tuo yang akan melakukan hal itu.
"Siapa yang mengatakan jika orang tuanya adalah parakang?"
"Aku hanya mendengarnya. Pada warga desa yang mengatakannya."
"Dia bukan Parakang. Warga desa lah yang sudah salah paham dengan ini semua. Mereka yang telah membuat sebuah kesalahan yang benar-benar merugikan seseorang dengan cara memfitnah seseorang," jelasnya.
Pria tua itu kini hanya menghela nafas panjang. Sepertinya ia telah salah bicara sekarang.
"Anda sekarang boleh pulang, Puang. Terima kasih karena telah membantu aku membawa Saoda ke rumah," ujar Tuo lalu melangkah mendekati Saoda dan ikut duduk di sampingnya.
Pria tua itu terlihat mengangguk dan tak berselang lama ia melangkah pergi meninggalkan rumah.
Tuo yang telah mendengar suara langkah kaki itu segara menolah. Ia bangkit dari kasur dan melangkah ke arah pintu keluar untuk memastikan jika pria tua itu benar-benar telah pergi meninggalkan rumah.
Tuo diam berdiri di pintu masuk menatap kepergian pria tua itu yang semakin menjauh. Tuo tak mengerti mengapa para warga desa begitu sangat percaya dengan keberadaan sosok Parakang dan dengan mudahnya bisa percaya dengan gosip para warga mengenai Sambe, Indo dari Saoda yang merupakan sosok mahluk jadi-jadian yang bernama Parakang itu.
Tak ada respon dari Saoda membuat puang Dodi segera melangkah pergi melewati Tuo yang langsung menoleh.
"Bapak mau kemana?"
"Saoda belum sadar dari pingsannya. Aku ingin pergi mengambil daun sarikaya agar Saoda bisa mencium baunya dan Saoda bia segera sadar."
Tuo mengangguk membuat Puang Dodi yang sedang melangkah menuruni anakan tangga itu mendongak.
"Kau temani Saoda di dalam!"
"Baik, Pak," jawabnya lalu segera melangkah masuk ke dalam kamar.
Tuo duduk di samping Saoda yang terlihat masih tertidur.
"Saoda!" panggil Tuo yang kini masih menepuk pipi dan mengguncang tubuh Saoda dengan pelan.
"Menyingkir, Nak!" pinta Puang Dodi membuat Tuo bangkit dan membiarkan Puang Dodi untuk duduk di samping Saoda.
__ADS_1
Puang Dodi meremas daun tua sarikaya itu dan menciumkan aroma menyengat itu ke hidung Saoda.
"Saoda, bangun lah, Nak!"
"Saoda!"
Kedua alis Saoda saling bertaut. Akhirnya Saoda sadar dari pinsangnya setelah dicium kan aroma daun sarikaya yang telah ia ambil.
"Saoda! Apa kau tidak apa-apa, Nak?"
"Indo!" ujar Saoda membuat Puang Dodi dan Tuo menoleh saling bertatapan.
"Saoda!" panggil puang Dodi yang kembali menepuk pipi Saoda yang masih memangil nama Indonya itu.
"Indo!"
"Saoda! Bangun lah, Nak!"
"Indooo!!!!" teriak Saoda yang langsung bangkit dari tempat tidurnya dengan kedua matanya yang membulat.
"Tolong Indo dan Bapakkuuuu!!!" teriak Saoda yang berusaha untuk berdiri dari tempat tidurnya namun, dengan cepat ditahan oleh puang Dodi.
"Tolong jangan bakar mereka!!!" teriak Saoda yang sudah menangis sesegukan.
"Ada apa, Nak?" tanya Puang Dodi yang langsung memeluk Saoda yang masih meronta-ronta.
Puang Dodi bisa merasakan jika tubuh Saoda gemetar. Yah, Puang Dodi telah menebak bahwa Saoda kembali mengalami mimpi buruk dan kembali membawanya pada kenangan yang begitu sangat mengerikan.
"Sadar lah, Nak!"
Saoda mendongak menatap Puang Dodi yang begitu sangat peduli kepadanya.
"Ada apa, Nak?" tanya puang Dodi sambil mengusap pipi Saoda yang basah itu.
"Toloooong Indo dan Bapakku, puang!" ujarnya begitu memohon.
Puang Dodi tersenyum lalu membelai lembut kepala Saoda yang masih menangis sesegukan.
"Tidak usah menangis, Nak! Kedua orang tua kau telah tenang di sana dan itu semua hanya mimpi."
"Kau tenang, Nak! Kau harus tenang!"
"Kau harus melawan semua itu, Nak! Itu hanya sebuah mimpi yang berusaha untuk membawa kau di dalam kesedihan.".
__ADS_1
"Kau harus kuat!"
Saoda kini terdiam dengan pipinya yang masih basah.