
"Kenapa kalian diam saja?"
Pertanyaan itu berhasil terlontar membuat puang Dodi dan Tuo menoleh menatap Saoda yang kini sedang mendongak menatapnya.
"Ayo makan!"
"Ya, ya. A-a-aku akan makan," jawab Puang Dodi terbata-bata.
"Ayo Tuo!"
Tuo mengangguk lalu dengan cepat ikut melangkah dan duduk di depan meja. Saoda tersenyum lalu segera meletakkan nasi ke atas piring yang berada di depan Puang Dodi dan Tuo secara bergantian.
Puang Dodi dan Tuo kini hanya saling berpandangan dengan tatapan yang penuh tanda tanya seakan sedang menanyakan perubahan drastis Saoda.
"Ayo makan!" ajak Saoda membuat Puang Dodi dan Tuo langsung menoleh.
"Yah, ya, Nak. Aku akan makan," ujar Puang Dodi yang kini langsung mencuci tangan pada wadah berisi air yang telah disediakan di atas meja.
"Tuo, ayo makan!" pintanya sambil menyikut perut Tuo yang langsung mengangguk.
"Ya, aku makan," jawabnya cepat.
Saoda tersenyum menatap dua orang pria yang kini terlihat begitu lahap. Saoda terdiam, ia sepertinya merasa jika dirinya adalah seorang ibu yang memiliki dua orang anak laki-laki. Ini terbilang agak melebih-lebihkan tapi jujur ini yang Saoda rasakan.
Saoda terus terang. Ia berusaha untuk baik-baik saja di hadapan puang Dodi dan Tuo yang kini masih sibuk makan walau sesekali mereka mencuri pandang ke arah Saoda.
"Aku tidak tahu cara memasak, tapi aku sering melihat Indokku memasak di dapur saat ia memasak untuk Bapak dan juga aku."
"Aku minta maaf jika makanannya tidak enak."
"Ah, tidak, Nak! Ini sudah sangat enak. Iya, kan Tuo?"
"Em-em i-i-iya. Ini-ini sangat enak," jawab Tuo dengan rongga mulutnya telah penuh dengan makanan.
Saoda tersenyum. Ia suka dengan jawaban yang Puang Dodi dan Tuo berikan. Yang Saoda rasakan adalah kalimat yang mereka katakan seakan telah menjadi sebuah kalimat pujian untuknya.
...****************...
Saoda memunguti satu persatu pakaian yang telah teraba kering saat ia sentuh. Ia mendongak menatap puang Dodi dan Tuo melangkah turun menuruni anakan tangga.
"Kalian ingin kemana?" tanya Saoda membuat puang Dodi dan Tuo menghentikan langkahnya.
Puang Dodi dan Tuo kini saling menoleh. Keduanya kini saling bertatapan dan tak berselang mereka kembali menatap Saoda.
"Aku ingin ke padang, Nak untuk mengambil kerbau," jawab puang Dodi.
"Apa aku boleh ikut?"
Mendengar hal itu membuat puang Dodi dan Tuo kini saling bertatapan.
"Tidak boleh?" tanya Saoda.
__ADS_1
Puang Dodi langsung menoleh lalu ia tersenyum.
"Boleh, Nak! Ikut saja!" ujarnya.
Mendengar hak itu membuat Saoda segera tersenyum bahagia.
"Tunggu aku! Aku ingin menyimpan pakaian ini di atas."
Tak menunggu waktu lama Saoda segera berlari menaiki anakan tangga dan meletakkan pakaian yang telah ia cuci tadi ke atas kursi dan kembali melangkah turun menuruni anakan tangga.
"Ayo kita pergi!" ajaknya sambil menatap kedua orang yang kini sedang terdiam.
Selama perjalanan Saoda terlihat berlarian kecil melewati beberapa rerumputan tinggi membuat serangga-serangga kecil yang berterbangan saat Saoda melintas.
Saoda memutar sambil merentangkan tangannya merasakan udara sejuk yang membelai lembut jari-jari tangannya.
Tuo menggaruk kepalanya yang tak gatal itu sambil menatap bingung pada Saoda yang terlihat begitu bahagia dengan senyum bibirnya yang terukir indah.
"Apa dia sakit?" tanya Tuo yang begitu kebingungan.
Puang Dodi yang mendengar hal itu langsung tersenyum.
"Dia tidak sakit, Nak. Dia hanya mencoba untuk menguatkan dirinya."
Saoda menghentikan langkahnya saat dari kejauhan ia bisa melihat gerombolan kerbau yang sedang merumput. Saoda menoleh menatap Puang Dodi dan Tuo yang masih terlihat saling bertatapan.
"Apa itu kerbau-kerbau kalian?" tanya Saoda sambil menunjuk.
"Wah, ada banyak sekali kerbau di sini."
"Tidak banyak, Nak. Hanya ada sekitar dua puluh."
"Dua puluh? Itu sudah banyak. Bahkan Bapakku saat ia hidup tidak punya kerbau walaupun hanya satu ekor."
Suara lonceng terdengar membuat kening Saida mengkerut bingung. Suara itu, berasal dari mana suara itu. Saoda menoleh menatap Tuo yang kini sedang mengelus anak kerbau kecil.
Lonceng kecil berwarna keemasan itu membuat Saoda tahu jika pemilik suara tadi berasal dar lonceng yang ada pada anak kerbau itu.
"Kerbauku," ujar Tuo sambil tersenyum.
Ia mengelus kembali kepala kerbau kecilnya dengan lembut.
"Apa kau pergi ke sungai yang ada di sana, hah?" tanya Tuo sambil menunjuk ke arah sungai membuat Saoda yang sejak tadi diam berdiri sambil memperhatikan Tuo itu menoleh ke arah mana Tuo menunjuk.
"Kau jangan main air, ya!"
"Apa itu kerbau milik kau?" tanya Saoda membuat Tuo menoleh.
Baru kali ini Saoda mengajaknya bicara. Tuo hanya mengangguk sambil kembali mengelus kepala kerbaunya. Melihat anggukan itu membuat Saoda berlari mendekati Tuo. Ia juga ingin mengelus kepala kerbau kecil itu, tapi sayangnya kerbau kecil itu malah berlari pergi membuat Saoda sedikit kecewa.
"Kenapa dia lari?"
__ADS_1
"Karena kau juga lari mendekatinya. Anak kerbau itu pasti terkejut, jadi dia lari."
Saoda menghela nafas panjang.
"Tapi aku hanya ingin mengelus kepalanya. Apa tidak boleh?"
"Em, boleh saja tapi kau jangan terlalu suka berlari karena anak kerbau itu juga akan berlari."
Saoda yang mendengarnya hanya bisa mengangguk dan tak berselang lama wajah kecewanya kembali tersenyum.
"Siapa namanya?"
Tuo melongo.
"Siapa?"
"Anak kerbau itu. Apa dia tidak punya nama?"
"Tidak. Dia kan bukan manusia yang harus punya nama."
"Kucing aku juga punya nama walaupun dia bukan manusia, jadi siapa nama kerbau kecil itu?"
Tuo terdiam dan tak berselang lama ia menggeleng. Seumur hidupnya ia tak pernah memberi nama pada seekor kerbau.
Puang Dodi yang sejak tadi duduk di atas rerumputan dan bersandar di pohon besar itu sambil memperhatikan Saoda dan Tuo hanya bisa tersenyum dan tertawa kecil. Apa seperti ini perempuan? Yang memperhatikan hal kecil. Ia kira anaknya aneh karena selalu bicara dengan kerbau, tapi anak ini lebih aneh.
"Puang Dodi!"
"Iya?"
"Apa kerbau besar itu milik kau?" Tunjuk Saoda ke arah kerbau yang tak jauh dari Puang Dodi.
Puang Dodi menoleh.
"Ini?" tanya puang Dodi yang ikut menunjuk.
"Iya. Siapa namanya?"
"Em, ini namanya Petrox," jawabnya asal-asalan membuat Tuo yang awalnya mengungkapkan itu malah tertawa.
Aneh sekali nama itu.
"Pertox?"
"Iya, bagus, kan?"
"Bagus. Kalau yang ini?" tanyanya lagi sambil menunjuk ke arah kerbau yang sedang berbaring itu
Puang Dodi melongo. Ia tak punya banyak nama untuk menjawab.
"Itu namanya Partox."
__ADS_1