
Bruak
Tubuh Raina terhempas ke permukaan tanah setelah semak-semak yang ia tarik itu berguguran terlepas dari akarnya. Tak semudah itu ia harus naik ke atas sana.
"Aaaaa!!!" ringis Raina saat ia bisa merasakan rasa sakit di bagian belakangnya yang sempat terhempas ke atas bebatuan.
Raina berusaha bangkit dari jatuhnya yang tidak terlalu tinggi. Ia memegang punggungnya yang sakit itu, Raina berharap semoga saja punggungnya tak terluka seperti halnya dengan kedua siku dan lututnya itu yang sampai saat in masih berdarah.
Raina bangkit dari bebatuan itu dan kembali memanjat di tebing yang ditumbuhi semak. Kedua tangannya mencengkram erat semak-semak dan berusaha menarik tubuhnya ke atas sana walau hal ini bisa diakui oleh Raina jika ini sangat tidak mudah.
Raina berteriak berusaha mengumpulkan seluruh kekuatannya agar bisa sampai ke atas sana.
Raina memejamkan kedua matanya dengan erat sambil melipat bibirnya ke dalam berusaha untuk bertahan di tengah-tengah tebing yang curam.
"Aaaaa!!!" teriaknya lagi.
Raina bisa merasakan rasa pegal dan sakit pada kedua lengannya yang rasanya tak mampu untuk menahan beban tubuhnya sendiri.
Kreeeek
"Aaaaa!!!"
Raina meringis saat pegangannya pada sebuah semak-semak itu merosot dan berhasil membuat telapak tangannya bergesekan pada semak-semak.
Tangan Raina yang kanan dengan cepat merabah ke permukaan tebing dan mencari semak-semak untuk dijadikan pegangannya. Raina tak mau jika ia harus jatuh setelah memanjat di tebing yang cukup tinggi ini.
Raina mengangkat kakinya dan menginjakkannya pada sebuah bebatuan kecil yang berhasil menolongnya agar tak terjatuh ke bawah sana.
"Cepat!!!"
"Jangan lari kau Parakang!!!"
"Parakang!!!"
Suara itu terdengar begitu sangat keras membuat Raina yang sempat meringis itu langsung menoleh berusaha mencari sumber suara. Saat ini sepertinya ia sudah tak jauh jauh dari para penduduk desa yang sedang mengejar sosok Parakang.
Raina menghembuskan nafas berat lalu dengan penuh tatapan amarah ia segera memanjat. Bebatuan kecil beserta gumpalan tanah berjatuhan ke permukaan tanah dan bebatuan menghasilkan suara dentingan saat bebatuan kecil itu menghantam permukaan batu lapang.
__ADS_1
Jari-jari tangan Raina nampak merabah ke segala permukaan rerumputan setelah ia berhasil mencapai puncaknya. Tak berselang lama wajah Raina muncul kepermukaan. Ia sekuat tenaga menaikan tubuhnya ke permukaan dataran dan menghempaskan tubuhnya begitu saja setelah ia telah berhasil sampai ke atas.
Raina menghempaskan dan mengelindingkan tubuhnya begitu saja setelah tiba di atas. Membuat tubuhnya yang berbaring itu nampak terlihat kotor dan berdarah.
Kedua bibir Raina bergetar ketika berusaha untuk membukanya dan mencari pasokan udara membuat dadanya kembang kempis begitu kuat.
Kedua bola mata Raina bergerak berusaha untuk mengamati setiap sisi tempat yang ia lihat. Raina berusaha bangkit, ia bertiarap di atas tanah dan merangkak lalu bangkit dengan begitu sangat susah payah.
Raina melangkah sempoyongan seperti orang yang setengah sadar. Kakinya melangkah pincang ketika ia berusaha untuk kembali mengejar para penduduk desa yang entah sudah kemana perginya.
Langkah Raina terhenti ia terdiam dia atas bukit menatap para penduduk desa yang sedang berlarian di bawah sana.
Raina melangkahkan kakinya pelan berusaha untuk mengikuti gerombolan penduduk desa yang masih mengejar sosok Parakang yang berlarian begitu cepat.
Langkah Raina yang awalnya pelan itu berangsur cepat dan berlari sambil sesekali ia menoleh menatap para gerombolan yang masih berlari.
Di tempat yang sama Erni juga nampak masih berlari dengan cepat. Ia tak boleh sampai ketinggalan dan tak boleh kehilangan jejak. Yap, dia berlari dengan cepat setelah berhasil mendengar suara teriakan dan ringisan Raina. Erni tak bisa melihat sosok Raina yang entah apa yang menyebabkannya sampai berteriak dan meringis sakit seperti itu tapi yang ada di pikiran Erni adalah ia harus cepat menemukan Raina.
Sejujurnya Erni takut jika Raina akan bertindak gegabah dan malah menyakiti dirinya sendiri walaupun dengan alasan untuk menolong sosok Indonya sendiri.
Erni juga juga takut jika para penduduk desa bukan hanya melukai sosok Parakang itu karena telah lama menjadi bulan-bulanan warga tapi Raina juga.
Satu hal yang Erni tahu tentang Parakang adalah, sosok Parakang akan memiliki keturunan Parakang dan keturunan Parakang itu tak lain adalah Raina.
Mungkin saja dan bisa saja para penduduk desa akan berpikir dan beranggapan jika Raina akan menjadi sosok Parakang seperti apa yang terjadi pada sosok Saoda.
Ini sangat berbahaya dan akan mengancam nyawa Raina. Erni tak mau jika hal itu sampai terjadi kepada Raina.
Erni tahu jika sosok Indo Saoda yang telah berubah menjadi sosok Parakang itu telah menyerangnya dan berusaha untuk membunuhnya dengan alasan yang tidak diketahui oleh Erni.
Erni ingin tahu mengapa sosok Parakang itu ingin menyakitinya dan membunuhnya.
Erni masih terus berlari dan tak berselang lama larinya itu perlahan menjadi pelan setelah melihat sosok bayangan hitam yang sedang berlari di atas bukit yang tidak terlalu tinggi.
Erni berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia menyipitkan kedua matanya berusaha menatap sosok orang yang sedang berlari itu.
"Rainaaa!!!" teriak Erni.
__ADS_1
Raina menghentikan larinya setelah ia mendengar seseorang yang meneriaki namanya.
"Raina!!!" teriak Erni lagi.
Raina tersadar. Gadis yang baru saja berteriak itu adalah Erni.
Raina dengan cepat berlari dengan cepat membuat kedua mata Erni mengikuti ke arah mana Raina pergi.
"Raina tunggu!!!" teriak Erni lalu kembali berlari mengejar kepergian Raina.
Raina berlari sekuat mungkin. Ia tak mau jika Erni sampai mendekatinya dan menariknya agar tak kembali mengejarnya. Ia
yakin jika Erni mengejarnya hanya untuk mencegahnya menolong Indonya.
Raina tetap berlari mengabaikan teriakan Erni yang terus berlari mengejarnya, ya Raina bisa melihat dengan jelas sosok Erni yang terus berlari mengejarnya tanpa henti.
"Raina berhenti!!!" teriak Erni yang masih berlari sambil sesekali mendongak menatap ke arah Raina.
"Pergi Erni!!!"
"Tidak!!! Raina berhenti!!!"
"Jangan berusaha mengganggu aku, Erni!!!"
"Raina!!! Aku tidak bermaksud untuk mengganggumu tapi ini demi kepentingan kamu!!!"
"Kamu tidak akan bisa melawan mereka semua!!!"
"Para penduduk desa sangat menyimpan dendam dan amarah kepada sosok Parakang yang selama ini telah meresahkan para warga desa!!!" teriak Erni.
"Tak usah menasehati aku, Erni!!! Ini masalah aku dan ini juga adalah urusan aku!!! Pergi dan jangan ikut campur!!!" jerit Raina.
"Rainna!!! Aku mohon tolong mengerti!!!"
Tak ada jawaban.
"Raina, aku mohon!!!"
__ADS_1