
Raina menoleh menatap Saoda yang kini terlihat tersenyum menatapnya.
"Indo?" Tatap Raina.
Raina kini mengingat tentang sesuatu yang terlintas di pikirannya saat ia melihat sosok Saoda. Para warga penduduk desa itu, kemana dia? Bukan kah mereka mengejar Saoda tapi kemana dia sekarang?
"Indo!"
"Indo, dimana mereka semua?"
"Dimana mereka? Mereka yang mengejar Indo, dimana mereka semua?"
Saoda kini menggelengkan kepalanya dengan pelan membuat Raina terheran.
"Apa maksud Indo?"
"Apa mereka sudah pergi? Atau-"
Raina menoleh menatap ke sekeliling membuat kedua matanya merambah ke segala arah berusaha mencari orang-orang yang cukup ia kenal.
"Atau mereka masih ada di sekitar tempat ini?" tanya Raina lagi.
Saoda kembali menggeleng sambil tersenyum membuat Raina kini terheran. Apa maksud dari gelengan itu?
"Indo-" ujaran Raina terhenti setelah ia berniat untuk melangkah mendekati Saoda yang kini langsung melangkah mundur.
"Ada apa Indo?" tanya Raina.
Saoda hanya tersenyum lalu segera berpaling membelakangi Raina yang semakin terheran. Mau kemana Saoda.
"Indo! Indo mau kemana?" tanya Raina namun Saoda tak kunjung menghentikan langkahnya.
Ia tetap berjalan memberikan jarak antara ia dan juga Raina yang ikut melangkahkan kakinya dengan pelan.
"Indo, Indo mau kemana? Indo!!!" teriak Raina yang kini ikut melangkah mengikuti ke arah mana Saoda pergi.
Raina melangkahkan kakinya yang tak kotor dan sakit seperti apa yang terjadi sebelumnya. Ia terus menatap ke arah mana perginya Saoda yang melangkah dengan langkah yang pelan.
"Indo, Indo mau kemana?"
"Indo!"
"Ayo kita pulang! Raina takut kalau semua penduduk desa datang dan menangkap Indo. Raina tidak mau kalau Indo sampai disakiti oleh mereka semua."
"Raina tidak mau jika itu semua terjadi."
"Indo!"
Tak ada jawaban dari Saoda yang tak kunjung menoleh atau bahkan menghentikan langkahnya.
Ia tetap saja melangkah seakan tak memperdulikan ujaran dan teriakan Raina.
Raina tak tahu mengapa Saoda begitu sangat aneh. Ia menoleh menatap area hutan yang terlihat berasap dengan gelapnya malam. Dari sini ia bisa melihat sosok Saoda yang memakai pakaian serba putih dan terus berjalan.
Mengapa rasanya ada yang aneh di sini.
"Indo!!!" teriak Raina membuat langkah Saoda terhenti.
__ADS_1
Raina ikut menghentikan langkahnya. Entah sudah ada dimana ia sekarang setelah mengikuti Saoda. Raina menatap ke sekeliling menatap pepohonan hutan yang tinggi menjulang.
"Indo!" ujar Raina yang kini telah menatap sosok Saoda yang telah ada di depannya dengan jarak yang agak jauh namun Raina masih bisa melihat dengan jelas wajah Saoda yang terlihat lebih cerah.
"Indo, ayo kita pulang!" ajaknya membuat Saoda tersenyum.
"Indo, Raina mohon!"
Raina menghela nafas berat. Ia memejamkan kedua matanya dengan erat lalu membukanya kembali.
"Raina takut mereka akan datang lagi."
"Siapa yang akan datang?" tanya Saoda dengan nada suaranya yang terdengar pelan dan dingin.
"Pa-pa-para penduduk desa," jawab Raina terbata-bata.
Saoda tersenyum.
"Mereka semua sudah musnah."
Dahi Raina mengernyit heran. Raina tak mengerti dengan apa yang Saoda katakan.
"Apa maksud Indo?"
"Mereka para orang yang tak mengerti apa-apa telah musnah dengan sendirinya."
"Kau harus tahu, Nak! Mereka semua tak mengerti dengan apa yang terjadi pada saat dahulu disaat kau masih kecil."
"Saat Raina masih kecil?"
"Ya, Nak. Sejujurnya mereka semua tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Entah bagaimana caranya agar aku bisa menceritakan semuanya tapi sejujurnya ini sukar untuk aku ceritakan."
"Ini bukan sebuah terbuang kejahatan tapi ini sebuah balas dendam."
"Apa maksud Indo? Dan ada apa dengan maksud kata belas dendam itu? Jelaskan pada Raina! Raina ingin tahu semuanya."
"Kau tidak akan pernah bisa mengerti."
"Kenapa tidak? Ceritakan kisah itu lalu biar Raina yang menceritakan semuanya pada mereka."
"Sudah aku katakan, Nak, mereka semua telah lenyap."
"Lenyap?"
Saoda mengembangkan senyum dengan wajah datar serta tatapan kosong. Raina tak pernah melihat sorot mata yang seperti itu sebelumnya.
"Apa maksud Indo?"
"Mereka semua sudah lenyap dari dunia ini."
"Kalau begitu mari kita pulang, Indo! Ayo kita pulang!" ajak Raina sambil merentangkan sebelah tangannya ke arah Saoda.
"Aku akan pulang."
"Sekarang, Indo!"
Saoda kembali mengangguk.
__ADS_1
"Ayo kita pulang!"
"Aku akan pulang."
"Kalau begitu ayo ikut dengan Raina!" ajaknya yang melangkah selangkah ke depan membuat Saoda melangkah mundur.
Langkah Raina terhenti. Entah mengapa Saoda malah memundurkan langkahnya seakan berusaha untuk menjauhinya.
"Ada apa Indo? Kenapa Indo melangkah mundur? Raina mau Indo mengenggam tangan Raina dan pergi dari tempat ini"
Saoda nampak menggeleng.
"Langkah maju kau adalah langkah mundur aku. Disaat kau mendekati aku maka otomatis posisi aku akan menjauh dari kau."
"Apa maksud, Indo?"
"Raina, percaya lah bukan hanya aku yang akan disakiti oleh mereka semua tapi kau juga."
"Parakang bukanlah sosok yang bisa menyakiti semua orang. Dia bisa memilah siapa yang ingin dia sakiti dan siapa yang akan ia jauhi."
"Agama adalah jalan satu-satunya jembatan yang membawa seseorang terlepas dari belenggu kesesatan seperti apa yang sedang aku jalani."
Saoda terlihat melangkah ke belakang dengan langkah yang begitu sangat pelan.
"Jika aku telah tiada entah ditangan mereka atau karena usia aku maka jangan lah mengikuti jalan aku yang penuh penderitaan."
"Balas dendam memanglah bukan merupakan jalan yang tepat tapi ini merupakan ketengan batin setelah aku sedang tidur untuk selama-lamanya."
"Apa maksud Indo?" tanya Raina.
"Menjadi sosok Parakang bukanlah sebuah penyesalan bagi diri aku, Nak. Ini adalah sebuah kesyukuran bagi diri aku. Karena aku telah membalaskan dendam aku pada mereka semua."
"Tatapi sayangnya tersisa satu lagi orang yang belum sempat aku balaskan dendam aku."
"Kau adalah cucu satu-satuku, Nak!"
"Orang mengatakan keturunan Parakang akan menjadi sosok Parakang jika balas dendam ini belum habis."
"Batin dan jiwa raga ini tidak akan bisa tenang jika belum terpenuhi keinginannya."
Raina yang awalnya kini terdiam kini membulat kedua matanya menatap Saoda yang terlihat melangkah mundur mendekati sebuah jurang yang begitu dalam.
"Keinginan Indo cuman satu-"
"Indo lihat ke belakang! Ada jurang, Info!"
"Dengar, kan aku, Nak! Keinginan Indo cuman satu yaitu balaskan dendam Indo jika Indo tidak mampu membalaskan dendam itu kepada satu orang itu, yakni Erni."
"Gadis itu yang harus dimusnahkan!"
"Indo, jangan melangkah!!!" teriak Raina dengan nada suaranya yang begitu sangat keras.
"Balaskan dendam Indo, Nak!"
"Indo!!!" teriak Raina saat kaki Saoda yang semakin mendekati pinggiran jurang.
"Balaskan dendam Indo!" ujarnya lalu ia tersenyum dan merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
Ia memejamkan kedua matanya sambil merentangkan kedua tangannya ke kiri dan kanan lalu....
"Indoooo!!!" teriak Raina.