
"Kita mau pulang sekarang?"
"Iya, Nak. Apa kau masih ingin bermain air?" tanya Sambe membuat Saoda kini mengangguk.
"Hari sudah ingin gelap dan sebaiknya kita pulang."
Satu elusan dari tangan lembut itu berhasil mendarat di rambut sebahu Saoda membuat gadis kecil itu tersenyum.
Keluarga kecil ini kini melangkah melintasi sungai kecil yang tidak dalam. Ada beberapa batu lapang yang menjadi jembatan untuk bisa sampai ke seberang.
"Banyak ikan hari ini, puang Jambe?" tanya salah satu pria yang ia temui di pinggir jalan lebih tepatnya di pinggiran sawah.
Pria itu terlihat mengibaskan pelindung kepala yang terbuat dari pelepah bambu yang diiris dengan tipis lalu dirajut sedemikan rupa.
"Iya, puang," ujar Jambe.
Pria itu mengangguk, menatap Saoda sejenak.
"Sudah besar anak kau, puang."
Jambe menunduk menatap Saoda yang mendongak menatapnya.
"Iya, Alhamdulillah."
"Baru satu, puang anak kau?"
"Iya, baru satu mungkin Tuhan hanya memberi satu saja. Ini pun sudah cukup yang penting bahagia," jelasnya.
Pria itu mengangguk.
"Bapak!!!"
Suara teriakan bocah laki-laki terdengar membuat mereka yang sedang asik berbincang itu menoleh menatap bocah yang hanya memakai celana coklat berlumpur itu sedang berlari melewati tanah berlumpur.
"Anak kau itu, puang Dodi?"
Puang Dodi tersenyum sejenak. Ia yang tengah duduk di pinggir sawah itu kini mendongak menatap puang Jambe.
"Iya dia anakku," jawabnya.
"Lalu mengapa dia berlari?"
Puang Dodi bangkit dari pinggiran sawah, menopang pinggang sambil menatap anaknya yang kini berlarian dengan wajah setengah menangis.
Saoda mengernyitkan dahinya. Aneh sekali pria itu. Bagaimana bisa ada anak laki-laki yang menangis, seperti anak perempuan saja.
Anak laki-laki itu menangis menghampiri puang Dodi sambil melompat-lompat.
"Kau kenapa?"
"Ada linta, Pak," adunya sambil menunjukkan kaki kananya dengan kedua mata yang ia tutup.
Pria itu menghela nafas.
"Kau ini mencari belut atau mencari linta."
__ADS_1
"Aku mencari belut, tapi lintanya juga ikut, Bapak," jawabnya sambil menangis sesenggukan.
Jambe dan Sambe tertawa. Lucu sekali jawaban anak laki-laki ini ditambah lagi dengan ekspresi wajahnya yang begitu sangat lucu.
"Hanya dia gigit linta kau menangis? Kenapa kau cengeng sekali?" tanya Saoda yang membuat kedua orang tuanya ikut terkejut.
"Saoda, tidak boleh bicara seperti itu!" tegur Sambe sambil mengelus bahu Saoda dengan lembut.
Puang Dodi yang mendengar hal itu langsung ikut tertawa sementara anak laki-laki itu langsung membuka kedua matanya. Tangisannya terhenti. Ia menatap gadis dengan rambut sebahu itu sedang menatapnya.
"Kau benar, Nak. Anak puang ini memang sangat cengeng dan suka menangis, iya, kan, Nak?" tanya Puang Dodi sambil menepuk bahu anaknya itu.
"Tidak, aku tidak cengeng."
"Tapi kau menangis," sahut Saoda.
"Aku anak laki-laki jadi anak laki-laki tidak akan menangis dan kau anak perempuan. Anak perempuan lah yang suka menangis."
"Lalu mengapa kau menangis?" Tunjuk Saoda.
"Aku tidak menangis."
"Tapi pipi kau basah."
Mendengar hal itu membuat anak laki-lki itu langsung meraba pipinya.
"Ini air lumpur."
"Oh, aku baru tahu kalau mata bisa mengeluarkan air lumpur. Mengaku saja kalau kau itu memang telah menangis."
"Memangnya kenapa kalau aku menangis? Kau juga akan menangis sepeti aku jika kau yang digigit oleh linta dan mungkin saja kau akan menangis dengan suara yang paling kencang."
Anak laki-laki itu tertawa membuat Saoda cemberut dengan wajah yang nampak ditekuk.
"Aku tidak takut," jawab Saoda lalu segera melangkah maju dan berlutut di hadapan anak laki-laki yang telah meremehkannya.
Ia menarik sangat keras linta yang menempel di permukaan kulit membuat anak laki-laki itu berteriak.
Saoda bangkit lalu melangkah mundur.
"Lihat kau menangis lagi!"
Anak laki-laki itu menghentikan tangisannya. Ia terkejut menatap linta hitam yang menggeliat geli di jari tangan Saoda.
"Lihat kaki kau!"
Tunjuk Saoda membuat pria itu segera menunduk dan menatap terkuat pada darah yang mengalir dari betisnya. Lihatlah sekarang betisnya telah berdarah.
"Kau membuat kaki aku berdarah."
"Aku hanya membantu kau, dasar cengeng."
"Aku tidak cengeng," belanya.
Sambe, Jambe dan Dodi kini tertawa setelah melihat dan mendengar perdebatan anak mereka.
__ADS_1
"Lucu sekali anak kau, Puang Dodi."
"Hahaha, lucu apanya, puang? Putri kau ini yang lucu dan pemberani."
"Aku tidak menyangka jika putra kau sudah sebesar ini."
Puang Dodi tersenyum. Ia meraih bahu anak laki-lakinya dan merangkulnya.
"Ya, dia putra aku. Satu-satunya. Namanya Tuo."
Mendengar hal itu puang Jambe langsung tertawa.
"Apa-apaan ini kau puang? Kau menertawai aku karena aku hanya punya satu anak tapi ternyata kau juga hanya punya satu anak."
"Ya, mau bagaimana lagi, Puang Jambe. Seperti yang kau katakan tadi kalau Tuhan hanya memberi satu rezeki saja dan yah aku hanya punya satu anak laki-laki saja."
Puang Jambe mengangguk.
"Oh iya kalau putri kau ini bagaimana."
Puang Jambe mengelus rambut Saoda yang nampak memasang wajah sok sangar di depan Tuo yang kini terlihat tak suka melihatnya.
"Ini putri aku. Namanya Saoda dan usianya baru memasuki umur lima tahun."
"Wah, gadis yang cantik. Mungkin putra aku ini, Tuo bisa kita jodohkan, hahaha," ujarnya lalu tertawa.
Puang jambe juga ikut tertawa. Ia melirik menatap Saoda yang terlihat mengangkat tinju kecilnya seakan siap untuk memukul Tuo yang kini terlihat menjulurkan lidahnya.
"Hahaha, lihat saja bahkan anak kota sepertinya saling membenci."
Mendengar hal itu membuat Dodi langsung menoleh menatap Tuo dan Saoda secara bergantian.
"Saat kecil mungkin mereka akan saling membenci tapi kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepannya."
"Yah, kita mungkin tidak bisa menentukan takdir Tuhan tapi setidaknya kita pernah berencana. Urusan jadi tidaknya itukan urusan Tuhan."
Puang Jambe mengangguk.
"Benar juga dan kita tunggu saja sampai usianya 17 tahun dan setelah itu mungkin kita akan membahas tentang hal ini."
"Iya, Puang. Kau benar."
"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu dan kau pulanglah hari sudah ingin gelap."
"Ya, setelah ini aku juga akan pulang," jawab Puang Dodi.
"Aku permisi dulu."
"Yah, hati-hati!"
Puang Jambe kini melangkah sambil menggenggam jari-jari tangan Saoda yang jari-jari tangan kirinya juga di genggam oleg Sambe.
Saoda menoleh menatap Puang Dodi yang kini kembali mencangkul lumpur di sawahnya. Tak berselang lama ia menoleh menatap sosok anak laki-laki yang sejak tadi telah membuatnya kesal dengan ujarannya.
Tak berselang lama pria bernama Tuo itu menoleh lalu menjulurkan lidahnya ke arah Saoda membuat kedua mata Saoda membulat karena terkrejut. Anak laki-laki itu memang menyebalkan.
__ADS_1
Lihat saja, Saoda tidak akan melepaskan anak laki-laki itu sebelum memukulnya.