
Suara kicauan burung-burung terdengar seakan menyambut kedatangan terbitnya matahari yang terbit secara perlahan.
Suara langkah yang bergantian menghasilkan suara yang berhasil membuat Saoda terbangun dari tidurnya. Saoda membuka kedua matanya mendapati tempat tidur yang kini sudah terlihat kosong, tak ada lagi bapak dan Indonya.
Saoda bangkit dari ranjang dan diam terduduk. Mengusap kelopak matanya dan melangkah turun dari ranjang.
Tatapannya kini terfokus pada Indonya yang kini sedang menyimpan beras ke karung putih yang telah liter dengan alat literan yang terbuat dari besi.
Saoda diam sejenak. Indonya terlihat sangat sibuk sambil bibirnya yang bergerak seakan sedang menghitung banyaknya literan beras yang ia masukkan ke dalam karung.
"Indo sedang apa?"
Sambe menoleh.
"Indo sedang meliter beras."
"Indo mau menjualnya?"
Sambe tertawa kecil. Ia menarik mukit karung itu dan mengikatnya dengan tali rapiah.
"Bukan, Nak."
"Lalu untuk apa beras itu?"
"Indo ingin membawa beras ini ke rumah tetangga yang ingin mengadakan sykuran. Ini salah satu ungkapan bahagia kita atas kelahiran anak mereka."
"Siapa yang melahirkan?"
"Istrinya pung Sae."
Saoda terdiam sejenak. Rasanya nama itu tak asing lagi Indra pendengarannya.
"Pung Sae bukannya Indo dari Bakri?"
"Iya, Nak."
Saoda mengangguk.
"Apa aku boleh ikut?"
"Boleh."
Mendengar hal itu membuat Saoda tersenyum bahagia sambil melompat-lompat. Tak ada yang bisa menggambarkan rasa bahagianya jika ia ikut bersama Indonya. Sudah jelas jika di sana ada banyak teman dan juga makanan.
...****************...
Saoda berlari setelah melepaskan genggaman tangannya dari tangan Sambe membuatnya kini bergabung bermain bersama dengan anak-anak seusianya.
"Hati-hati, ya, Nak!" teriak Sambe.
"Iya, Indo!!!" teriak Saoda yang kini berpaling sejenak dan kembali bermain bersama dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Bakri, kau sudah punya adik kecil?" tanya Saoda disela-sela ia bermain.
Anak laki-laki berusia 7 tahun itu bertubuh agak gemuk dengan warna kulit yang nampak berwarna sawo matang itu menoleh. Namanya Bakri, pria tua yang telah dibunuh oleh Saoda.
"Iya. Adikku laki-laki. Dia lahir semalam."
"Wah. Kapan adik kau lahir?"
"Semalam adikku lahir. Kau tahu tidak? Kata Bapakku kemarin ada Parakang."
"Apa? Parakang?"
"Parakang?"
Suara tanya itu terdengar yang berhasil lolos dari anak-anak yang langsung menghentikan kegiatan bermainnya.
"Iya. Dia mau memakan adikku, tapi Bapakku punya baca-baca, jadi Parakang itu tidak bisa masuk ke dalam rumah," jelasnya.
Mendengar hal itu membuat Saoda kini terdiam. Kata Parakang itu membuatnya kini mengingat kalimat yang disampaikan oleh Indonya semalam.
"Apa Parakang itu ada?" tanya Saoda membuat Bakri dan teman-temanya itu menoleh.
"Apa kau tidak percaya?" tanya Bakri.
Saoda mengangguk.
"Indo aku yang mengatakan semalam kalau Parakang itu tidak ada."
Anak-anak yang lain langsung mengangguk sementara di tempat yang sama kini Saoda nampak terdiam. Apa benar yang dikatakan oleh Bakri jika orang tua berbohong dan apakah itu berarti jika Indonya juga berbohong agar ia tidak menjadi anak yang penakut.
Saoda menghela nafas panjang. Ia membuang jauh-jauh pikiran itu dan memilih untuk kembali bermain.
Suara lonceng terdengar membuat Saoda menghentikan mainnya. Ia menoleh menatap pria bernama Tuo itu yang kini terlihat sedang menarik tali yang mengikat kerbau-kerbau bertubuh gemuk dan besar.
Mungkin ada sekitar tujuh ekor kerbau yang memliki ukuran berbeda-beda serta dua ekor anjing yang terlihat berlari di belakangnya seakan ikut membantu untuk mengembala kerbau.
Saoda berhasil dibuat bingung olehnya. Dari sekian anak-anak yang tinggal dan hidup di desa ini, hanya anak laki-laki itu yang tak pernah ikut bermain dan bergabung bersama dengan yang anak seusianya.
Saoda sudah tiga kali bertemu dengannya. Yabg pertama Tuo terlihat sedang sibuk membantu Bapaknya di sawah, yang kedua dia terlihat sibuk mencari keong di sawah dan sekarang ia terlihat sibuk mengembala kerbau.
Anak laki-laki bernama Tuo itu memang sangat berbeda. Sepertinya dunia bermain pada dirinya sudah habis.
Saoda tak mau pikir panjang membuatnya kembali melanjutkan mainnya dengan teman-temanya.
...****************...
Sambe melangkah menaiki anakan tangga disambut senyuman oleh para tetangga yang sudah berada di dalam rumah. Sudah banyak orang di rumah ini dan sebuah hiasan dari daun kelapa muda yang terpasang di pintu menandakan ada kegiatan atau acara syukuran yang dilaksanakan di rumah itu.
Baru saja Sambe sampai di atas seorang wanita setengah baya nampak meraih beras dari karung yang Sambe letakkan di atas kepalanya.
"Silahkan duduk!" pintahnya mempersilahkan membuat Sambe kini mengangguk.
__ADS_1
Ia melangkah duduk dan bergabung bersama dengan para ibu-ibu yang berdatangan dari desa yang berbeda-beda. Yah, kerabat dari tetangga yang telah melahirkan ini cukup banyak jadi tak heran jika sudah banyak orang di dalam rumah bahkan di luar rumah.
Sambe menghentikan bincangnya ketika tetangganya yang telah melahirkan itu, sebut saja ia Ria, langsung duduk di sampingnya sambil menggendong bayi kecil yang masih merah kulitnya.
"Wah, ini anak kau?" tanya Sambeyang terlihat tersenyum begitu bahagia.
Ria mengangguk. Menatap bayinya sejenak lalu kembali menatap Sambe.
Sambe yang mendengar hal itu langsung mendekatkan jaraknya. Ia menyentuh pipi bayi kecil itu sambil tersenyum.
"Wah, dia sangat mirip dengan kau."
"Benarkah?"
"Iya. Apa ada kesulitan saat melahirkannya?"
Ria menggeleng, "Tidak ada. Alhamdulillah."
"Bagus kalau begitu."
"Kalau kau bagaimana? Saoda, kan sudah besar mungkin dia juga sudah bisa punya adik."
Sambe tertawa kecil.
"Kalau Tuhan memberikannya, ya Alhamdulillah, tapi sepertinya untuk saat ini Tuhan hanya memberikan Saoda saja."
Ria mengangguk lalu tak berselang lama ia kembali menatap Sambe.
"Apa kau ingin menggendongnya?" tawar Ria.
"Aku?"
Ria mengangguk.
"Ah, tidak usah nanti dia menangis. Aku lihat dia sedang tertidur jadi biarkan dia tidur," jelasnya dengan nada suara yang begitu sangat lembut.
"Sambe, gendong saja! Mana tahu setelah ini kau jadi cepat hamil," ujar seseorang yang langsung menepuk bahu Sambe.
"Iya, betul itu. Gending saja! Anaknya Ria itu laki-laki, mana tahu setelah ini kau dapat anak laki-laki," sahut yang satu lagi membuat Sambe kini hanya bisa tersenyum.
"Ria, berikan bayi itu!" pinta seorang wanita membuat Ria segera meletakan bayi itu kepangkuan Sambe.
Sambe tersenyum saat ia bisa menimang bayi mungil berselimut sarung batik.
"Lihat! Dia sepertinya nyaman bersama kau."
Saoda tersenyum setelah mendengar hal itu. Ditatapnya wajah bayi itu dengan penuh kasih sayang. Ia menyentuh pipinya dan lembut lalu menariknya dengan pelan.
Tak berselang lama Saoda tersadar dari lamunannya lalu kembali menjulurkan bayi itu ke pelukan Ria.
"Apa dia menangis?"
__ADS_1