Parakang

Parakang
48. Makan Malam


__ADS_3

Saoda duduk di atas pangkuan Jambe yang sejak tadi mendorong pelan mainan mobil-mobilan yang terbuat dari tempat oli berwarna merah dengan ban yang dibuat dari sendal yang dibentuk menjadi bulat menyerupai ban mobil.


Saoda sesekali tertawa disaat Jambe memutar mobil mainan itu seolah-olah mobil itu terbalik dan kecelakaan.


Di waktu yang sama kini sosok wanita dengan konde hitam serta rambut berobat itu terlihat sibuk di dapur. Mendorong kayu yang ujungnya telah terbakar itu agar semakin besar apinya.


Asap putih yang membumbung keluar dari celah atap yang sengaja dilubangi itu membuat asap tidak berkumpul di dalam rumah kayu yang begitu sederhana.


Rumah kayu yang tidak terlalu besar, dinding rumah yang terbuat dari pelepah bambu yang dianyam sudah bisa melindungi mereka dari dinginnya malam di luar sana.


Jangan salah jika desa ini memang terkenal dengan suhu dinginnya. Bahkan hawa dingin tetap akan terasa walapun matahari sudah terbit tinggi menggantung di atas langit.


Sambe berjalan menginjakkan kakinya di atas bambu hijau yang telah disatukan menjadi banyak hingga terbentuk menjadi lantai rumah yang berbunyi saat seseorang melangkah.


Sambe meletakkan beberapa piring di bambu, tak ada meja makan di dalam rumah yang sangat sederhana ini bahkan kursi pun tidak ada.


Sambe meletakkan obor kecil yang dijadikan sebagai lilin namun alat penerang ini terbuat dari kaleng cat bekas tetangga sebelah setelah mencat ganggang sabit mereka agar lebih mudah dikenali.


"Ayo makan!"


"Yeee, ikan bakar!!!" teriak Saoda begitu sangat gembira.


Ia berlari kecil menghampiri Indonya dan duduk dengan kaki menyilang tepat di hadapan ikan bakar yang kulitnya terlihat menghitam karena terjatuh ke arang ketika di balik agar matang dengan merata.


Wangi aroma ikan bakar, membumbung semerbak baunya membuat siapa saja yang mencium baunya akan dibuat kelaparan. Tak lupa juga sepiring kecil jeruk kecil yang telah dipotong menjadi empat ditambah dengan garam kasar dan juga air yang menjadi pelarut.


Sambe tersenyum sejenak menatap putrinya yang terlihat tersenyum. Ia menyendok nasi putih yang telah dicampur dengan jagung hancur hasil panen dua balun yang lalu dan meletakkannya di atas piring kaca bermotif bunga.


Begitu sederhana santapan makan malam ini, tapi sudah begitu sangat istimewa rasanya apalagi sesekali Sambe dan Jambe nampak menyuapi daging kecil ikan bakar ke dalam mulut Saoda yang begitu bahagianya.


"Bapak, coba suap Indo juga!" minta Saoda.


"Ah, tidak usah," tolak Sambe yang kemudian tertawa malu.


Ia menutup mulutnya agar giginya tak terlihat saat tertawa.


Jambe ikut tertawa lalu menjulurkan jari-jari tangannya yang sedang memegang cubitan ikan kecil ke arah Sambe yang kini masih tertawa.


"Ah, tidak usah!"


"Ayo makan, Indo. Buka mulutnya!" paksa Saoda yang kini sudah bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Indonya.

__ADS_1


"Ayo, Indo! Sedikit saja!" paksanya sambil menyentuh pelan kedua bahu Sambe.


Sambe menghentikkan tawanya. Menatap sang suami yang terlihat tersenyum penuh tulis dan sedetik kemudian ia sudah melahap ikan yang disuap oleh sang suami.


Saioda bersorak sambil bertepuk tangan memberikan kesan bahagia.


"Sekarang, Bapak lagi!"


Jambe tertawa. Ia mengerakkan kepalanya menatap sang istri yang kini terlihat tersenyum malu-malu.


"Ayo, Indo! Suap Bapak!" ujarnya.


Tak banyak pikir panjang dan niat hatinya yang hanya ingin membahagiakan sosok sang anak yang sangat ia cintai membuatnya kini menyuapi sang suami yang dengan senang hati membuka mulutnya.


Saoda kembali bersorak bahagia dan bertepuk tangan. Tak ada yang lebih bahagia dari pada hal ini. Menurut bocah lima tahun itu, hal yang baru saja terjsmadi adalah hal yang paling indah dalam hidupnya.


Keluarga yang penuh dengan cinta kasih walau tak memiliki sebuah rumah yang besar dan megah, tak bergelimang harta tapi mereka masih bisa tertawa walau dengan hal-hal yang begitu sederhana.


Hal ini yang membuktikan jika kebahagiaan bisa datang dari mana saja dan bagaimana pun bentuknya.


Sebuah keluarga kecil yang kini terlihat tertawa diterangi oleh cahaya api kecil dari sumbu yang terpasang di kaleng cat.


...****************...


"Bapak pergi dulu, ya. Doakan Bapak semoga Bapak banyak dapat keong."


Mendengar suara yang tidak asing itu membuat Saoda menoleh menatap sang Bapak yang kini terlihat memegang obor yang menyala apinya sambil memegang ember.


"Mau kemana, Bapak?" tanya Saoda yang langsung bangkit dari duduknya.


"Mau cari keong."


"Saoda mau ikut!!!" teriak Saida sambil mengangkat satu jarinya ke atas.


Ia tersenyum penuh harap setelah menawarkan dirinya.


"Kau mau ikut?"


"Iya, aku ingin membantu Bapak mencari keong yang banyak untuk Bapak dan Indo."


"Tapi ini sudah malam, Saoda," ujar Jambe yang kemudian mengusap rambut Saoda.

__ADS_1


"Tapi aku ingin menemani Bapak di sawah."


"Lalu kalau kau ikut siapa yang akan menemani Indo kau di sini?"


"Indo tetap saja di dalam rumah karena Indo tentu saja terlindungi tapi Bapak, kan ada di luar rumah jadi aku ingin menemani Bapak," jelasnya.


"Tapi, Saoda."


"Biarlah, Pak. Biarkan dia ikut. Aku tidak apa-apa di rumah sendiri," jelasnya dengan nada lembut membuat Jambe kini menghela nafas sambil menatap Saoda.


"Ya, sudah kalau begitu kau boleh ikut."


"Yeeee!!!" teriak Saoda yang begitu sangat bahagia.


Ia meloncat-loncat saking bahagianya, tak mempedulikan rumah yang sedikit bergoyang karena lompatannya.


...****************...


"Jangan nakal di sawah, ya!"


"Iya, Indo," jawab Saoda saat Indonya memasangkan jaket tua yang sangat ke besaran saat terpasang di tubuh Saoda.


Jaket tua berwarna hitam ini adalah jaket milik Sambe yang yang selalu ia gunakan saat berpergian ke luar jika malam hari.


"Jangan main lumpur!"


"Jangan membuat Bapak marah dan dengar apa yang Bapak bilang."


"Iya, Indo."


"Dan ingat! Jangan jauh-jauh dari Bapak!"


Saoda mengangguk membuat topi yang agak kebesaran itu menutupi nyaris separuh wajahnya.


"Bapak pergi dulu, ya."


Sambe menggangguk. Ia meraih punggung jari tangan suaminya dan mengecupnya dengan pelan disusul Saoda yang ikut mengecup punggung jari sang Indo.


Beberapa detik kemudian Saoda dan Jambe kini telah melangkah pergi diiringi lambaian tangan Sambe yang terlihat melambai membalas lambaian tangan Saoda yang kini berangsur menjauh dari pandangannya dan hilang dari pandagan kedua mata Sambe setelah kedua orang yang sangat ia sayangi itu melintas memasuki area hutan.


Senyum Sambe yang sejak tadi mengembang itu kini perlahan hilang dari bijrnya. Sunyi dan sepi yang hanya temani dengan suara jengkrik yang berbunyi merdu.

__ADS_1


Ia melangkah mundur lalu menutup pintu dengan rapat dengan harapan suami dan anaknya itu segera pulang ke rumah walaupun tak membawa keong untuk dijadikan lauk besok pagi.


__ADS_2