
"Suara apa itu?" tanya Raina.
Suara teriakan itu terdengar diiringi dengan suara pukulan bambu yang begitu nyaring membuat Raina, Puang Tuo dan Erni menoleh menatap ke arah luar rumah ditambah dengan cahaya paparan sinar cahaya dari obor yang terlihat memantulkannya ke bagian rumah.
Cahaya itu semakin mendekat mengenai permukaan papan rumah membuat suara itu semakin mendekat.
"Suara apa itu, Puang?" tanya Raina yang langsung bangkit dari papan dan berdiri menghampiri Puang Tuo.
"Tenang lah! Tunggu di sini!" ujar Puang Tuo lalu ia berlari keluar rumah.
Kedua mata Puang Tuo terbelalak menatap kerumunan para warga yang kini bergotong-royong datang berbondong-bondong melangkah menuju ke arah rumah Erni diringi dengan suara teriakan di sana yang begitu sangat besar.
Dari sini Puang Tuo bisa melihat wajah amarah dari mereka semua. Dari sini ia juga bisa melihat sosok Puang Edi yang begitu marah. Apa mungkin ia berniat untuk datang ke sini dan apakah ia datang untuk menangkap Parakang itu, ini adalah masalah besar.
Melihat hal tersebut membuat Puang Tuo segera berlari masuk ke dalam rumah menghampiri Raina dan Erni.
"Sepertinya mereka telah mengetahui keberadaan Parakang itu," ujar Puang Tuo membuat Raina dan Erni terbelalak kaget, keduanya saling bertatapan beberapa saat lalu kembali menatap Puang Tuo.
Raina yang telah mendengarnya langsung berlari cepat menuju ke arah jendela membuatnya bisa melihat gerombolan para warga yang datang mendekati rumah. Jumlahnya tak terhitung dengan langkah yang begitu sangat cepat serta terburu-buru.
Raina menelan salivanya. Ia mengusap dahinya menuju turun ke lehernya yang telah berkeringat karena takut. Seluruh tubuhnya berkeringat serta seluruh tubuhnya yang terasa ngilu dan lemas membuatnya seakan tak mampu untuk berdiri.
"Ini sangat berbahaya, mereka bisa saja menyakiti Saoda dan bahkan bisa membunuhnya."
"Tapi jika mereka memukulnya dua kali maka dia tidak akan mati, tapi jika mereka semua memukulnya maka tak ada yang bisa mengalahkannya," jelas Puang Tuo.
Mendengar hal itu membuat Raina menutup permukaan pintu dengan rapat. Raina sangat tak mau jika semuanya masuk ke dalam rumah dan menyakiti Saoda. Walaupun sosok Saoda kini berbentuk Parakang tapi tetap saja ia tetap Saoda yang merupakan sosok orang yang telah merawatnya dari kecil sampai ia besar.
Raina berlari menghampiri Puang Tuo sambil sesekali ia menoleh menatap ke arah pintu, takut ada yang masuk dari sana.
"Mengapa mereka bisa datang ke tempat ini?"
Puang Tuo kini terdiam dengan raut wajahnya yang terlihat berpikir.
__ADS_1
"Mungkin saja mereka datang untuk menangkap parakang."
Apa yang dikatakan oleh Puang Tuo membuat kedua mata Raina terbelalak kaget. Bagaimana bisa ia membiarkan orang-orang menyakiti Saoda, tapi ia juga tidak mungkin melarang dan melawan mereka semua.
"Tapi siapa yang telah memberitahu mereka kalau ada Parakang di rumah ini, Puang?"
"Kalau itu aku pun juga tidak tahu bagaimana bisa mereka semua datang ke sini dan bagaimana bisa mereka tahu ada Parakang di rumah ini. Aku benar-benar tidak tahu, Nak."
"Tapi sepertinya mereka sangat marah, aku melihat hal itu dari raut wajah mereka semua."
"Mereka telah berjalan ke tempat ini dan tujuan mereka pasti bertekad untuk menghancurkan apa yang telah menjadi tujuannya."
Raina menoleh menatap sosok Parakang yang kini masih terdiam dengan wajahnya yang terlihat menyeramkan Raina kembali menatap Pang Tuo yang kini masih terdiam dengan wajah khawatirnya.
Sepertinya bukan hanya Raina yang merasa khawatir tapi Puang Tuo dan begitu pula juga dengan Erni. Bagi mereka sosok Parakang ini bukanlah mahluk yang jahat lagi tapi dibalik Parakang ini adalah Saoda yang dulunya adalah orang yang sangat baik.
"Lalu kita harus bagaimana lagi? Aku tidak ingin ada yang menyakiti Indo aku, Puang Tuo."
"Aku tidak ingin Indo sampai dibunuh oleh semua warga."
Edi menghentikan langkahnya ketika ia telah berada di depan rumah Erni yang terlihat begitu sangat sepi dan dengan disengaja telah ditutup pintu rumah itu dengan rapat seakan tidak ada orang di dalam rumah.
Raina berharap jika semuanya akan mengira seolah-olah tak terjadi apa-apa di dalam rumah dan sang empunya sedang tertidur.
"Aku yakin dia ada di dalam sini!!!" teriak Puang Edi sambil menatap para warga satu persatu yang kini sedang berbisik dan beberapa mereka ada yang menggangguk tanda mengerti.
"Kita harus serang dia dan jangan biarkan dia lolos!!!" teriak Puang Edi membuat semua warga berteriak tanda setuju membuat Raina mengerang takut sambil memeluk Erni.
"Keluar kamu wahai Parakang!!!" teriak Edi.
"Ya, keluar!!!"
"Keluar!!!"
__ADS_1
"Keluar kau!!!" teriak mereka.
Raina menelan salivanya lalu ia menoleh menatap Puang Tuo yang kini ikut menatap Raina.
"Puang, bagaimana bisa mereka tahu jika ada Parakang di sini?" tanya Raina membuat Puang Tup menghela nafas.
"Ada apa Puang Tuo?" tanya Raina.
"Sepertinya ada yang telah memberitahu keberadaan Parakang di tempat ini."
"Tapi siapa yang telah memberitahu hal itu, Puang?"
"Aku juga tidak tahu tapi sepertinya dia adalah orang pintar."
Salah satu warga kini mendekati rumah dan menatap permukaan pintu yang terlihat tertutup rapat membuatnya kini menoleh menatap Puang Edi.
"Sepertinya tidak ada orang," ujar pria itu.
"Tidak mungkin, dia pasti ada di dalam sana.. Aku yakin. Puang Sampe yang merupakan dukun tetangga sebelah yang telah memberitahu aku jika Parakan itu ada di rumah ini!!!" teriak Pang Edi membuat membuat semua mengangguk.
"Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus pulang dengan tangan kosong?"
"Tidak, kita tidak boleh pulang sebelum kita membunuh Parakang itu," bantah Puang Edi.
"Lalu apa yang harus kita lakukan? Apakah kita hanya tinggal diam saja seperti ini?" sahut salah satu dari mereka.
"Hei kau makhluk jahanam!!! Keluar engkau dari rumah ini, jika tidak aku akan membakar rumah ini beserta dengan isi-isinya maka kau akan mati terbakar di dalam sana!!!" teriak Puang Edi.
Mendengar hal itu membuat Raina menterbelalakkan matanya ia menatap Puang Tuo yang kini terlihat kebingungan dan tak berselang lama ia kembali menoleh menatap Erni yang kini menggeleng berusaha untuk memberitahu Raina Jika ia tidak ingin rumah ini dibakar.
"Raina, aku mohon, Raina. Tolong jangan biarkan mereka membakar rumah ini."
"Aku tidak punya tempat tinggal lagi selain rumah ini. Rumah ini adalah rumah warisan dari keluargaku hanya inilah kenang-kenangan yang aku punya untuk mengingatkan aku tentang keberadaan Bapak Indoku serta Nenekku," ujar Erni membuat Raina kini terdiam.
__ADS_1
Raina menghela nafas lalu ia menoleh menatap Puang Tup.
"Bagaimana ini, Puang?"