Parakang

Parakang
42. Sapu Lidi


__ADS_3

"Berhenti!!!" teriak seseorang membuat semua orang menoleh.


Gerakan golok yang siap melayang ke kepala Parakang itu juga ikut terrhenti. Dahi Puang Edi mengerut , ia sedikit terkejut setelah mendengar suara dari belakang sana. Entah siapa yang telah berani menghentikan dan mengganggunya disaat-saat yang sangat tidak tepat bagi dirinya.


Kematian Parakang ini adalah keinginannya yang selama ini telah ia nantikan dari waktu dan kesempatan ini malah diganggu oleh seseorang.


Puang Edi menoleh ke arah depan dimana ia bisa melihat para warga penduduk desa yang kini menoleh ke arah belakangnya.


Puang Edi menegakan tubuhnya lalu menoleh menatap seorang pria yang sedang berdiri sambil menyembunyikan kedua tangan di belakang tubuhnya.


Puang Edi menghela nafas setelah melihat sosok pria yang tak lain adalah Puang Tuo yang nampak diam tanpa ekpresi.


"Puang Tuo?" bisik Puang Edi.


"Hentikan!" pinta Puang Tuo.


"Puang Tuo, kali ini aku ingin engkau mengerti dan paham dengan apa yang aku ingin lakukan."


"Sosok mahluk jadi-jadian ini sudah banyak berbuat dosa. Aku mohon untuk tidak menghalangi aku agar balas dendam ini terbalaskan."


"Aku tahu, puang tapi-"


"Tapi apa, puang? Aku tahu kalau kedatangan kau kemari hanya untuk menolong dan menceramahi kita semua."


"Kami tahu kalau kau ini sudah berubah dan telah paham dengan agama serta telah dekat dengan Tuhan hingga kau selalu mengajarkan kebaikan."

__ADS_1


"Tapi kau jangan melupakan masa lalu kau sebelum kau berubah. Kau dulunya juga seorang pemburu Parakang dan kau juga sudah beberapa kali membunuh Parakang dengan tangan kau sendiri-"


"Kau salah, puang," potong Puang Tuo.


"Kau terlalu banyak bicara hingga lupa dengan apa yang sebenarnya menjadi kebenaran."


"Aku memanglah mantan seorang pemburu Parakang tapi aku tidak pernah membunuhnya dengan tangan aku sendiri."


"Sekarang aku ingin bertanya pada engkau puang Edi. Apa yang ingin kau lakukan dengan Parakang itu?" Tunjuk Puang Tuo ke arah sosok Parakang yang kini nampak sedang terbaring lemas di atas tanah sambil kedua tangannya yang terlihat memegang tali yang menjerat lehernya.


Puang Edi menoleh, ia menatap Parakang itu sejenak lalu kembali menatap Puang Tuo.


"Aku ingin menebas lehernya dengan parang ini," jawab puang Edi sambil mengangkat parang yang ada di tangan kanannya.


Pung Edi tersenyum dengan sudut bibirnya yang terangkat.


"Apa lagi yang salah, puang?"


"Kau berniat untuk membunuhnya atau membuatnya jadi tidak terkalahkan?"


kedua alis puang Edi bertaut hampir menjadi satu setelah mendengar apa yang puang Tuo katakan. Ia tidak mengerti dengan apa yang puang Tuo katakan.


"Apa maksud puang?"


"Melumpuhkan Parakang hanya bisa dilakukan dengan satu pukulan dan jika kau memukulnya sebanyak dua kali maka itu membuatnya menjadi kebal dan tidak akan ada yang bisa mengalahkannya."

__ADS_1


"Aku datang ke tempat ini bukan datang untuk menghalangi balas dendam kalian tapi aku datang ke sini untuk menyelamatkan kalian semua."


"Bukan parang yang bisa membunuh Parakang tapi satu benda yang bisa memusanahkannya."


"Jangan membunuhnya dengan senjata tajam tapi musnahkan lah dia dengan sendirinya."


Para warga desa kini saling berbisik membuat puang Edi kini melirik menatap para warga.


"Apa itu yang bisa memusnahkan parakang itu, puang?"


"Hanya ada satu benda."


"Apa itu?"


Puang Tuo menghela nafas lalu segera mengeluarkan sapu lidi dari balik tubuhnya setelah menyembunyikan benda itu dari balik tubuhnya.


Kedua mata parakang yang nyaris tertutup itu langsung terbelalak menatap sapu lidi yang ada di tangan Puang Tuo.


Kedua kaki Parakang itu bergerak dengan jari-jari kakinya yang mencakar pemukaan tanah yang ditumbuhi rerumputan liar.


"Aaaaa!!!" teriak Parakang itu yang menggeliat berusaha untuk lepas dari jeratan tali yang menjerat lehernya.


Semua para warga desa terbelalak kaget setelah mendengar suara teriakan dan berontakan dari sosok Parakang yang terlihat begitu menyeramkan.


Beberapa dari mereka, para warga ada yang langsung memundurkan langkahnya ke belakang berusaha untuk menghindar dari sosok Parakang yang masih menggeliat di atas tanah.

__ADS_1


__ADS_2