
Suara keras itu terdengar disaat Saoda memukul air sungai dengan kayu yang ia pegang membuat seluruh tubuh Saoda menjadi basah kuyup.
Buaya-buaya lapar yang ingin mendekat kini berlarian seakan ia ketakutan setelah mendengar pukulan dari kayu ke permukaan air tersebut.
"Aaaaa!!!" teriak Saoda seiring tangannya yang terus memegang erat batang kayu yang ia pukulan.
Saoda berlari ke daratan. Kedua bibirnya terlihat terbuka berusaha untuk mengatur nafasnya yang terasa sesak setelah melakukan kegiatan yang cukup melelahkan baginya.
Saoda menghempaskan tubuhnya ke permukaan daratan rerumputan yang terasa sedikit basah. Ia tertunduk dengan dadanya yang terlihat kembang kempis secara beraturan.
Ia meneguk salivanya yang terasa kering. Ia mengusap kepalanya hingga ke leher membuat kulitnya yang basah itu menjadi lembab.
"Kemana aku sekarang harus pergi?"
Saoda menoleh ke arah kiri dan kanan menatap pepohonan yang tumbuh di pinggir sungai dan genangan air sungai yang nampak tenang.
Suara jengkrik yang terdengar itu membuat suasana yang malam penuh keheningan itu terasa lebih sunyi. Saoda mengangkat kayu yang ada di tangannya dan tak berselang lama ia melemparnya ke air sungai membuat kayu itu bergerak terbawa arus.
Saoda Mendengus lelah lalu segera bangkit dari rerumputan. Ia menginjakkan kakinya pada bebatuan yang tak jauh dari sungai hingga tiba di atas puncak sana Saoda menghentikan langkahnya.
Kedua matanya mampu melihat pemandangan desa di dalam sebuah kegelapan. Ada beberapa rumah tua yang terbuat dari kayu yang sempat dilihat oleh Saoda.
Desa ini sepertinya tidak terlalu buruk dibandingkan dengan desa yang ia tempati tinggal tersebut.
Di desa ini terdapat cukup banyak rumah dan jaraknya yang tidak terlalu dekat namun, sepertinya mereka masih bisa dikatakan bertetangga. Ini semua berbeda dengan apa yang terjadi di desanya. Dimana rumah yang ada berjarak cukup jauh dari rumah yang saru ke rumah yang lain.
Saoda menoleh ke kiri dan kanan menatap area desa yang terlihat sunyi. Semoga saja tidak ada hewan peliharaan anjing yang ada di bawah kolom rumah-rumah itu. Jika ada anjing di sana mungkin saja anjing-anjing itu akan menggonggong dan mengejarnya.
Saoda tidak mau jika para anjing-anjing itu menggonggong dan membuat semua warga desa terbangun dari tidurnya lalu membuat para warga desa mengira jika Saoda adalah pencuri yang datang ke desa ini hanya untuk mencuri.
Saoda menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan pelan. Mau tidak mau, aman dan tidak aman Saoda harus tetap melewati desa itu karena tak ada pilihan lain.
__ADS_1
Hanya desa itu yang menjadi jalan satu-satu baginya untuk bida sampai ke hutan belantara. Saoda sudah mengambil keputusan ini dengan susah payah dan Saoda tetap harus siap menerima semua keputusannya.
Saoda mengangguk pelan dan segera melangkah. Menginjakkan kakinya yang tak beralas dan masih basah itu di atas permukaan batu besar meninggalkan jejak kaki basah di sana.
Saoda melangkah pelan melewati rerumputan dan semak-semak yang tumbuh liar. Afa beberapa kotoran hewan ternak di sini, mungkin saja para warga di desa ini mengikat hewan ternaknya di sini.
Langkah kaki Saoda kini terhenti. Kedua matanya melirik ke segala arah berusaha untuk beradaptasi dengan jalanan lurus yang begitu sangat gelap.
Saoda melipat bibirnya yang bergetar itu dan kembali mengelokkan perasannya yang cukup ketakutan pada tubuhnya yang telah bergetar karena takut.
Tak berselang lama Saoda melepas sarung yang ia gunakan dan menaikkannya di atas kepala membuat sarung itu kini beralih fungsi menjadi kerudung.
Ia juga memegang pinggiran sarung itu untuk menutup bagian bibir hingga ke area dagunya. Saoda melangkahkan kakinya itu dengan lamglah yang cepat bahkan langkah itu sudah seperti berlari.
Saoda berhasil melewati beberapa rumah diiringi dengan rasa ketakutan yang begitu menyelimutinya. Saoda takut kalau ada yang melihatnya di sini.
Siapa yang tidak akan berpikir negatif jika melihat sosok wanita yang hanya kelihatan matanya saja sedang berjalan di tengah malam tanpa ada seorang pun yang menemaninya.
Gong!!!
Gong!!!
Langkah kaki Saoda yang sejak tadi berjalan dengan cepat itu langsung terhenti dengan nafas yang rasanya juga ikut tertahan di dadanya. Suara gonggongan anjing itu terdengar membuat Saoda yang gemetar itu menoleh dengan gerakan pelan kepalanya yang menoleh menatap ke arah dua ekor anjing yang kini nampak sedang menatapnya.
Dua ekor anjing itu berada di bawah kolom rumah kayu. Saoda begitu ketakutan. Hal yang ia takutkan kini telah terjadi. Anjing itu menggonggong dengan suaranya yang cukup besar.
"Hust!" Usir Saoda sambil menggerakkan tangannya dan kembali menutup separuh wajahnya dengan pinggiran kain sarung itu.
Gong!!!
Gong!!!
__ADS_1
Gong!!!!
Bukan malah pergi, tapi anjing itu malah tambah menggonggong dengan nada suaranya yang lebih keras daripada sebelumnya membuat Saoda semakin panik dan ketakutan.
"Kenapa anjing itu menggonggong?"
"Coba kau periksa! Apa mungkin dia melihat babi yang masuk ke dalam desa lagi?"
Suara percakapan dari dalam rumah itu bisa Saoda dengar dari bawah sini.
Suara jendela yang sedang dibuka itu terdengar membuat Saoda yang kedua matanya membulat kaget itu mendongak ke arah jendela rumah yang juga terlihat bergerak.
Mau tak mau hal ini membuat Saoda dengan cepat berlari meninggalkan rumah tersebut membuat dua ekor anjing itu berlari mengejar Saoda yang rasanya ingin berteriak dan menangis.
Saoda jujur saja ingin melakukannya, tapi ia juga takut jika para warga di desa ini malah mendengar teriakannya dan terbangun dari tidur. Hal ini hanya akan menambah masalah baru untuknya.
Saoda bukan orang yang tinggal di desa ini, jadi tentu saja mereka semua akan heran melihat Saoda ada di dalam desa ini.
Entah bagaimana lagi cara Saoda berlari untuk menghindar dari dua ekor anjing yang masih mengejarnya tanpa henti.
Rasanya detak jantungnya berbunyi sangat keras membuat ia gemetar. Kakinya terasa lemas dan tak mampu lagi untuk berlari.
Ia sudah cukup lelah untuk bisa melakukannya. Ia tak sanggup lagi untuk berlari menghindar dari kejaran anjing yang begitu menakutkan baginya.
Saoda sesekali menoleh menatap anjing-anjing yang masih mengejarnya tanpa henti.
"Hah! Hah! Hah!" Saoda mengerang keras. Ia berusaha untuk mengumpulkan dan bertahan untuk tetap bertahan agar tidak diterkam oleh anjing-anjinh yang nampaknya begitu sangat marah.
Bruak!!!
"Aaaw!"
__ADS_1
Saoda menjerit kecil saat tubuhnya terhemas kepermukaan tanah yang berkerikil dan kasar. Saoda meringis kesakitan saat lututnya terasa sangat sakit.
Saoda yakin jika lututnya pasti sudah berdarah. Rasanya berdenyut tanpa henti. Saoda menoleh menatap anjing-anjing yang masih berlari di belakang sana dan mulai mendekatinya.