Parakang

Parakang
32. Pertanyaan.


__ADS_3

"Kau tahu kalau Raina dan Erni merupakan seorang sahabat yang sudah cukup lama dimana mereka selalu bersama."


"Dan oleh sebab itu Raina datang ke rumahku untuk meminta bantuan karena Erni yang sedang sakit."


Puang Edi mengernyit heran. Ia melirik menatap Erni yang terlihat pucat dengan bibirnya yang begitu kering. Sejujurnya wajah itu pucat karena rasa takut Erni yang sejak tadi menghantuinya.


"Apa itu benar?" tanya Puang Edi dengan raut wajahnya yang terlihat tak percaya. Tak semudah itu baginya untuk bisa percaya kepada Puang Tuo.


"Perlu kah aku untuk menyuruh kedua anak ini untuk bicara?" tanya Puang Tuo.


Puang Tuo tersenyum sejenak lalu ia menoleh menatap Raina dan Erni secara bergantian lalu ia kembali tersenyum dan menatap kembali kepada Puang Edi yang kini terlihat terdiam dengan wajah yang terlihat datarnya.


Tak berselang lama Puang Edi tersenyum lalu tak berselang lama ia kembali bicara.


"Bagaimana bisa aku percaya dengan apa yang engkau katakan, Puang?"


"Aku tidak semudah itu bisa percaya dengan ucapan seseorang, apalagi jika ucapan itu tidak memiliki bukti yang banyak."


"Apa lagi yang perlu aku jelaskan dan apalagi yang perlu kau dengar?" tanya Puang Tuo dengan wajah datar dan suaranya yang terdengar sangat tenang seakan tidak ada ketenangan di sini.


"Puang Tuo. Aku minta maaf tapi aku tetap saja merasa bingung."


"Kebingungan apakah itu?"


"Boleh aku bertanya?" tanya Puang Edi dengan wajahnya yang terlihat masih merasa curiga.


"Ya, tentu saja. Aku tidak melarang kau dan sejujurnya tak ada yang melarang kau untuk bicara di sini."

__ADS_1


Puang Edi tersenyum lalu mengangguk. Ia menoleh menatap semua warga yang kini nampak terlihat masih sangat serius dengan situasi ini.


Puang Edi menghela nafas lalu ia kembali menoleh menatap Puang Tuo yang masih berdiri membelakangi Raina dan Erni.


"Baiklah. Bagaimana bisa engkau mengenal Erni dan Raina sementara aku sangat tahu jika kalian tidak pernah berbicara dan dekat sebelumnya," jelas Pang Edi.


Puang Tuo kini terdiam, tak ada jawaban yang keluar dari bibirnya membuat Puang Edi tersenyum penuh bangga, sepertinya Puang Tuo tak mampu untuk menjawab pertanyaannya.


"Aku-"


"Kami memang tidak begitu dekat," potong Raina membuat Pang Edi dan Erni menoleh menatap Raina sementara wajah Puang Tuo terlihat datar tanpa ekpresi.


Kedua mata Erni membulat serelah mendengar jawaban dari Raina.


"Apa yang kau katakan, Raina?" bisik Erni dengan nada suaranya yang dibuat tertekan sementara Puang Edi kini mengernyit heran membuat semua warga saling berbisik mengumpulkan beberapa pendapat.


Raina melangkah satu langkah ke depan.


Dahi Puang Edi mengernyit bingung, ia tak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Raina yang terlihat begitu sangat gugup. Jika boleh jujur, sejak tadi detak jantung Raina telah berdetak sangat cepat sejak tadi karena takut. Berbicara di hadapan orang banyak membuatnya tak mampu untuk berpikir dengan jernih.


"Bertemu?"


Raina menelan salivanya. Apa ia salah bicara. Raina terdiam berusaha untuk mencerna kata-katanya sendiri.


"Bagaimana bisa Puan Tuo dan Erni bisa saling bertemu?" Hubungan apa kah itu?"


"Yang aku tahu mereka tidak saling mengenal lalu bagaimana mereka bisa bertemu dan apa yang membuat kalian bisa berada di dalam rumah ini?"

__ADS_1


Raina menelan salivanya dengan paksa diiringi detak jantungnya yang berdetak sangat cepat. Ia bahkan belum mempunyai jawaban untuk pertanyaan itu. Rasanya ia telah menyesal telah memberi jawaban tersebut.


Dengan pelan Raina melirik menatap Puang Tuo yang terlihat menghelan nafas berat. Ya, mungkin saja jawabannya itu membuat Puang Tuo sedikit merasa kesal.


"Apa yang kau katakan?" tanya Erni dengan nada berisiknya menatap Raina.


"Mengapa aku merasa jika ini tidak benar," ujar Puang Edi.


"Kami bertemu di dalam masjid karena Erni ingin belajar untuk mengaji, bukankah seperti itu Erni?" tanya Pang Tuo yang menoleh menatap Erni.


Kedua mata Erni membulat ketika semua tatapan para warga sekaligus puang Edi tertuju kepadanya.


Kedua mata Erni membulat lalu menelan salivanya dengan keras dan ia mulai menjawab "Iya, aku belajar mengaji," jawab Erni.


"Kedua orang tuaku telah lama tiada dan karena meninggalnya Indo dan nenekku sehingga tidak ada yang bisa mengajari aku untuk mengaji."


"Aku tahu kalian semua tahu bagaimana dengan nasibku sekarang dan aku mengerti dengan apa yang kalian ketahui tentang aku."


"Sejujurnya aku merasa tenang jika aku mengaji sehingga hal itu membuat Aku memberanikan diri untuk meminta Puang Tuo mengajari aku mengaji."


"Aku tidak punya keluarga lagi tapi aku punya seorang sahabat yang selalu ada untuk menemaniku dan itu yang membuat aku meninta Raina untuk menginap di rumah, seperti itu kan Raina?"


Raina mengangguk cepat.


"Tidak ada yang menemani Erni untuk tidur di rumahnya sehingga aku memutuskan untuk menemani Erni di rumah tapi karena Erni yang sakit keras sehingga aku mengajak Puang Tuo untuk mengobati Erni."


"Aku yakin setelah Puang Tuo membacakan ayat suci al-quran rasa sakit Erni akan berkurang-"

__ADS_1


"Tapi tunggu dulu!" potong Puang Edi membuat kedua mata Raina dan Erni dengan kompak membulat.


"Sepertinya ada yang ganjal di sini," ujar Puang Edi.


__ADS_2