
Saoda melangkahkan kakinya yang tergesah-gesah itu menuju pulang ke rumah. Saoda hanya ingin pulang dengan cepat ke rumah agar tidak membuat Tuo merasa cemas dengan dirinya.
Saoda tak peduli pada beberapa warga desa yang melihatnya dengan tatapan aneh. Kali ini pikiran yang memenuhi otaknya, yaitu tentang puang Banga.
Setuju, kah ia menjadi mahluk bernama parakang dan membalaskan semua dendamnya kepada mereka semua tanpa terkecuali. la juga tidak kuat jika harus melihat mereka semua hidup bahagia.
Mereka semua juga harus merasakan kesedihan seperti apa yang ia rasakan. Entah bagaimana caranya ia melakukannya, tapi yang Saoda inginkan adalah kesedihan dan kepedihan yang ia berikan harus lah seimbang.
Saoda menghentikan langkahnya di bawah anakan tangga dan menyirami kedua kakinya yang agak kotor itu dari air yang berada di dalam kendi.
Saoda yang berniat untuk melangkah menaiki anakan tangga itu kini menghentikan niatnya setelah mendapati Tuo yang kini sedang berdiri di pintu masuk rumah.
Saoda terdiam menanti suaminya yang kini melangkah menuruni anakan tangga untuk mendekatinya.
"Kau dari mana?"
Saoda meneguk salivanya.
"Aku dari makam Indo dan Bapak," jawab Saoda lalu melangkah melintasi Tuo yang langsung menoleh menatap istrinya yang terus melangkah.
"Setelah dari makam, kau kemana?"
Saoda menghentikan langkanya setelah mendengar pertanyaan Tuo. Harus jawab apa sekarang? Saoda tak mungkin menjawab, jika baru saja melihat pernikahan Bakri dan berbicara dengan puang Banga.
"Aku langsung pulang. Mau kemana lagi?"
Tak menunggu jawaban dari suaminya Saoda langsung melangkah meninggalkan suaminya yang kini terlihat diam.
Saoda melangkah masuk ke dalam kamarm Saoda menarik nafas panjang menghembuskannya dengan pelan.
Saoda yang baru saja berniat untuk menenangkan pikirannya membuatnya langsung menoleh menatap Tuo yang berada di bibir pintu dengan tatapannya yang begitu serius.
Saoda menunduk ia berusaha untuk tidak menatap kedua mata suaminya.
Tuo melangkah dan berlutut di hadapan istrinya. Ia mengenggam jari-jari tangan Saoda dan mengelusnya dengan penuh kelembutan. Saoda sempat tertunduk untuk menatap suaminya, tapi tak lama Saoda kembali mengalihkan pandangannya.
"Kau kenapa?"
Saoda menggeleng dan berujar, "Aku tidak apa-apa."
"Lalu apa yang kau sembunyikan dari aku?"
Saoda terkejut. Ia menatap suaminya namun, berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa terkejutnya kepada Tuo. Ia tidak mau membuat Tuo merasa curiga kepadanya.
"Apa maksud kau? Apa yang aku sembuhkan? Aku tidak menyembunyikan apa-apa dari kau."
Tuo menghela nafas. Ia membuang pandang sejenak dan kembali lagi menatap Saoda.
"Kau jangan berbohong, Saoda. Aku sangat mengenal kau karena kita sudah bersama semenjak kau masih kecil, jadi tolong jangan bohongi aku!"
__ADS_1
"Aku tidak berbohong. Apa untuknya aku berbohong kepada kau?"
"Sekarang aku tanya, setelah dari makam kedua orang tua kau, kau kemana?"
Saoda melepas pegangan tangan Tuo dan bangkit dari tempat tidurnya membuat Tuo menoleh.
"Aku kan sudah bilang tadi kalau aku langsung pulang. Mengapa kau tidak mau percaya kepada aku," jelas Saoda yang kini melipat kedua tangannya di dada sambil berdiri di depan jendela.
"Kau berbohong kepada aku Saoda."
Saoda menoleh menatap suaminya yang kini telah bangkit dan berdiri di hadapannya.
"Aku berbohong?"
"Iya."
"Mengapa sekarang kau tidak percaya kepada aku?"
Tuo menghela nafas panjang.
"Baiklah, sekarang aku tanya sekali lagi. Setelah dari makan kau ke mana?"
"Aku sudah bilang, kan kalau aku kembali ke rumah."
"Kau berbohong, Saoda."
"Lalu apa yang harus aku-"
Kedua mata Saoda membulat setelah mendengar apa yang Tuo katakan. Apa itu berarti Tuo melihat ia mendatangi acara pernikahan Bahri dan melihat ia bersama dengan puang Banga saling berbincang.
"Apa?" tanya Saoda yang sudah tidak tahu lagi harus berkata apa.
Saoda tidak menyangka jika suaminya itu akan mengikutinya.
"Iya, Saoda. Aku mengikuti kau."
"Untuk apa kau mengikuti aku?"
"Aku ini seorang suami, Saoda. Tugas aku adalah melindungi dan menjaga kau. Aku khawatir akan kembali suatu yang terjadi yang buruk kepada kau."
"Aku sangat takut. Maka dari itu aku memutuskan untuk mengikuti kau."
Seketika jantung Saoda kini berdetak sangat cepat. Rasa takut dan khawatir berhasil membuatnya gemetar.
"Apa saja yang kau lihat?" tanya Saoda yang begitu takut.
Saoda takut jika Tuo sampai mendengar percakapannya dengan puang Banga.
"Aku melihat semuanya."
__ADS_1
Nafas Saoda seketika tertahan di dadanya. Rasanya ia tak sanggup lagi untuk bernafas.
"Apa kau melihat aku berbicara dengan makam kedua orang tua aku?"
"Iya, aku melihatnya, tapi aku tidak bisa mendengar apa yang kau katakan karena aku hanya bisa melihat kau dari jauh saja."
"Aku takut kalah kau sampai melihat aku di sana dan tanpa seisin dari kau."
Saoda menghela nafas lega. Untung saja Tuo tidak mendengar apa ia katakan kepada kedua makan kedua orang tuanya.
"Tapi aku juga melihat kau sedang berbicara dengan seorang pria tua yang berpakaian serba hitam."
Kedua mata Saoda membulat karena sangat terkejut dengan apa yang Tuo katakan. Hal yang paling ia takutkan sejak tadi kini terdengar juga. Kali ini Tuo sedang membahas tentang Puang Banga.
"Aku tidak pernah melihat pria itu sebelumnya. Siapa dia dan apa yang menyebabkan dia bisa bicara dengan kau?"
Saoda mengernyitkan dahinya. Apa itu berarti Tuo juga tidak mendengar percakapan mereka?
"Apa kau tidak mendengar percakapan kami?" tanya Saoda begitu hati-hati.
"Iya, aku tidak mendengar percakapan kalian karena aku hanya bersembunyi cukup jauh dari kau."
Mendengar hal itu membuat Saoda lagi-lagi menghembuskan nafas lega.
"Apa yang kau bicarakan dengan pria itu dan apa hubungan kau besama pria tua it?"
Saoda tersenyum. Sepertinya ada yang sedang cemburu di sini.
Saoda melangkah dan mengaitkan kedua tangannya di leher Tuo.
"Apa kau cemburu?"
"Tentu saja aku cemburu. Bagaimana bisa aku tidak cemburu jika melihat dengan mata kepala aku sendiri istriku sedang berbicara dengan seorang pria."
Saoda tertawa kecil dan mengusap pipi suaminya.
"Apa kau cemburu hanya karena aku bicara dengan seorang pria tua dengan jangutnya yang sangat panjang seperti itu?"
"Tapi aku melihat kau sepertinya sangat serius bicara bersamanya."
"Yang kau lihat sesuai dengan apa yang terjadi suamiku."
"Lalu apa yang kalian bahas?"
"Baiklah. Dia adalah salah satu tamu dari pernikahan Bakri dan karena dia sudah tua dan tidak tahu dimana rumah Bahri karena dua berasal dari desa tetangga maka dari itu dia bertanya kepada aku."
"Apa aku salah jika aku membantunya?"
Mendengar hal itu membuat Tuo kini tersenyum. Ia memeluk tubuh istrinya. Rasanya ia telah salah karena telah salah paham kepada istrinya.
__ADS_1
.