
"Siapa orangnya?"
Raina terdiam bahkan bernafas pun ia tak melakukannya. Ia sangat ingin mendengar siapa nama yang akan menjadi mangsa selanjutnya dan sekaligus mangsa terakhir bagi Saoda.
"Namanya Erni, dia adalah cucu dari Bayang."
Begitu terkejutnya Raina setelah mendengarnya. Ia tak menyangka, jika Saoda telah menjadikan Erni sebagai calon mangsa terakhirnya.
Raina kini duduk dengan wajahnya yang masih tak menyangka jika ini semua benar-benar terjadi. Kini apa yang harus ia lakukan sekarang? Raina juga tidak mungkin membiarkan Saoda menjadikan Erni, sahabatnya sendiri sebagai mangsa Saoda.
"kapan kau akan memangsanya?"
"Besok malam," jawabnya membuat Raina menyentuh dadanya dengan wajah syok. secepat itu?
Suara ayam terdengar membuat Raina dengan cepat bangkit dan kembali mengintip menatap ke dalam rumah. Dari celah kecil ini ia bisa melihat seekor ayam hitam itu sudah berada di tangan Puang Sampe.
Raina memejamkan kedua matanya dengan cepat setelah ia melihat Puang Sampe yang mengiris jenger ayam dan meneteskan darahnya ke bara api yang menyala itu.
Puang Sampe kemudian meletakkan telapak tangannya di atas bara api yang telah ia teteskan darah ayam berbulu hitam tanpa merasa kepanasan lalu meletakkan telapak tangannya di atas kepala Saoda dan ia melakukannya sampai tiga kali sambil membaca mantra.
"Kau harus bisa membunuh musuh kau jika kau ingin cucu kau tidak menjadi Parakang."
"Aku tahu kau sangat sayang kepada cucu kau itu dan itu sebabnya kau ingin bertindak cepat sebelum kau mati nantinya."
"Tapi sepertinya kau harus hati-hati karena sepertinya sasaran terakhir kau ini tidak mudah."
"Apa Erni punya ilmu penangkis?" tanya Saoda.
"Dia hanya anak biasa, tapi sepertinya ada yang tidak ingin jika dia mati apalagi kau yang akan membunuhnya."
"Siapa?" tanya Saoda yang begitu sangat penasaran.
__ADS_1
Raina terbelalak lagi. Apa mungkin Puang Sampe tahu isi hatinya?
"Aku juga tidak tahu," jawanya membuat Raina bernafas lega.
"Mari ikut aku!" ajak Puang Sampe yang kemudian bangkit dari duduknya lalu melangkah masuk disusul oleh Saoda yang juga ikut melangkah meninggalkan Raina yang kini terdiam di samping jendela.
Mau kemana Saoda pergi?
Raina kini duduk ke tanah. Ia memeluk lututnya dengan wajah sedihnya. Harus apa ia sekarang. Ia tak mungkin membiarkan Erni menjadi sasaran berikutnya. Erni adalah sahabatnya dari kecil dan ia tak mungkin membiarkan Saoda melakukan hal buruk kepada Erni.
Raina harus berbuat sesuatu, tapi yang harus ia lakukan?
Raina tersentak kaget setelah mendengar suara air yang menyentuh papan membuat Raina menoleh ke samping di bagian belakang rumah tua ini.
Ada apa di sana?
Raina dengan pelan bangkit dan melangkahkan kakinya dengan pelan serta penuh hati-hati mendekati area belakang rumah.
Raina menoleh menatap daun pandang yang berada di dalam baskom beserta air yang terlihat berasap. Apa itu mungkin air panas? Bagamana bisa Saoda tahan dengan air panas itu.
Raina memundurkan langkahnya dengan pelan ke belakang.
krek
Raina menutup mulutnya dengan keras sembari kedua matanya yang membulat kaget setelah ia tanpa sengaja menginjak sebuah ranting dan tubuhnya menabrak tumpukan kayu bakar membuat Puang Sampe dan Saoda langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Siapa itu?!!" teriak Puang Sampe membuat kedua mata Raina membulat.
Dengan cepat Raina memundurkan langkahnya. Ia menoleh ke kiri dan kanan berusaha untuk mencari tempat persembunyian, tapi entah dimana. Raina yang masih berusaha mencari tempat persembunyian itu menoleh menatap Puang Sampe yang terlihat melangkah ke arahnya.
Raina dengan cepat duduk dan memeluk lututnya tepat di samping tumpukan kayu bakar sambil memejamkan kedua matanya dengan rapat.
__ADS_1
Dari sini ia bisa mendengar suara langkah Puang Sampe yang terdengar mendekatinya membuat jantungnya berdetak sangat cepat bahkan ia bisa merasakan jika tubuhnya bergetar karena takut.
Raina membuka kedua matanya mendapati Puang Sampe yang kini sedang berdiri tepat di hadapannya sambil menopang pinggang menatap ke sekelilingnya berusaha mencari sesuatu yang telah menggangunya tadi.
Rasanya Raina ingin menangis karena takut membuatnya ingin membungkam mulutnya. Ia menggerakkan tangannya sedikit membuatnya terbelalak kaget saat Puang Sampe menoleh ke arahnya. Seketika gerakan tangan Raina terhenti dengan nafas yang juga ikut terhenti.
Tubuhnya kini menjadi kaku seperti patung yang kini mendingin karena takut. Raina sangat takut jika Puang Sampe sampai melihatnya di sini. Jika Pung Sampe sampai melihatnya maka entah jawaban apa yang akan ia berikan kepada Saoda nantinya.
Puang Sampe kembali melangkah membelakanginya membuat Raina dengan cepat menarik seledang hitamnya untuk menutupi seluruh tubuhnya hingga ia terlihat menyatu dengan kegelapan dengan kain selendang itu.
Puang Sampe menoleh. Ia menatap ke arah kayu bakar membuat Raina meneguk saliva-nya dengan kuat. Ia bisa melihat samar-samar Puang Sampe yang menatap ke arahnya dari seledang hitamnya itu.
Apa puang Sampe melihatnya? Yah, itu yang Raina pikirkan saat Puang Sampe menoleh ke arahnya.
Tak berselang lama Puang Sampe kembali membelakanginya membuat Raina bisa bernafas lega ditambah lagi disaat Puang Sampe melangkah pergi meninggalkan area samping rumah.
"Tidak ada sesuatu di samping rumah."
"Puang sudah melihatnya?"
"Iya, aku sudah mengeceknya, tapi tidak ada apa-apa di sana."
Suara itu terdengar jelas dari indra pendengaran Raina. Itu berarti benar, jika Puang Sampe tidak melihat atau bahkan mencurigai kehadirannya.
Raina bangkit dari duduknya dengan pelan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Kali ini ia tak boleh membuat kesalahan dengan menghasilan suara yang nyaris membuatnya tertangkap basah.
Raina melangkahkan kakinya dengan hati-hati lalu ketika ia sudah cukup jauh dari rumah, ia segara berlari meninggalkan rumah kayu itu dengan perasaan sedihnya.
Di perjalanan tatapan Raina begitu sangat kosong. Ia berjalan dengan perasan hampa tanpa peduli pada seramnya hutan yang ia lewati sekarang. Kini yang ada di pikirannya adalah bagaimana caranya ia bisa menyelamatkan Erni, sahabatnya dari serangan Saoda.
Raina juga tidak mengerti sebenarnya apa yang menjadikan alasan Saoda untuk merenggut nyawa Erni. Apa kesalahan yang telah ia perbuat sehingga namanya juga terdapat pada deretan nama-nama yang kini telah tiada di tangan Saoda dalam bentuknya yang sudah menjadi sosok Parakang.
__ADS_1
Entah apa yang akan Erni katakan kepadanya jika nantinya Erni tahu kalau kematian Neneknya adalah ulah dari Parakang dan Parakang itu adalah Saoda, Nenek dari Raina.