
Sepanjang perjalanan sampai ke mansion, Ziva benar-benar menutup mulutnya. Sementara Ander juga melakukan hal yang sama, bukan apa-apa dia hanya takut salah bicara.
"Aku akan membersihkan diri dulu"
"Hm" jawab Ziva cuek. Wanita itu memilih untuk meneruskan tujuannya ke arah dapur.
"Bi, tolong buatkan aku jus mangga"
"Baik Nona"
"Apa Bibi Marina sudah sampai?"
"Belum Nona, Nyonya Marina mengabari kalau perjalanannya sedikit terhambat karena macet"
"Semoga saja bibi Marina bisa sampai disini dengan selamat"
Seminggu yang lalu, Marina memang meminta ijin untuk pulang ke kampung terlebih dahulu. Dia sedang mengurus penjualan rumahnya di kampung karena memang sudah tidak dihuni lagi.
Setelah menghabiskan segelas jus mangga, kali ini ibu hamil itu mengayunkan kakinya menuju lift. Dia akan ke kamar dan mandi terlebih dahulu, badannya sekarang terasa sangat lengket.
Saat membuka pintu, hal yang Ziva lihat adalah suaminya yang baru saja berpakaian keluar dari walk in closet. Rambut pria itu bahkan masih sedikit basah terlihat lebih segar dan juga lebih tampan.
Ingin rasanya ia bergelayut manja seperti biasa, tapi dia tahan. Dia harus memberi suaminya pelajaran karena menutupi status Clara yang notabene adalah mantan calon istri suaminya.
"Aku sudah menyiapkan air hangat di bath up, berendamlah dulu"
"Terima kasih" tidak ada senyuman atau ekspresi sedikitpun. Ziva tetap memasang wajahnya datar.
Ander menjambak rambutnya frustasi disaat sang istri menghilang dibalik pintu bilik kamar mandi.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa ini? Apa karena hormon kehamilan atau karena masalah lain?"
"Oke, tetap tenang An. Kau tau bukan betapa sulitnya untuk mendapatkan wanita se limited edition Ziva di jaman sekarang?"
Ander memilih untuk menunggu istrinya di balkon saja, sembari menikmati langit yang mulai senja.
Dua puluh lima menit berlalu akhirnya ritual mandi sang istri selesai. Wanita itu menatap keberadaan suaminya sebentar tanpa berniat menghampirinya.
Ander menghembuskan nafasnya kasar, tidak nyaman sekali jika suasananya seperti ini. Apalagi besok siang orang tuanya akan kembali. Jika melihat keadaan mereka seperti ini, Cate pasti akan marah. Lebih tepatnya, marah kepadanya karena membuat masalah dengan menantu kesayangannya.
"Zi"
"Ya?"
"Mau kemana? Lihat mataharinya sebentar lagi akan tenggelam. Kemarilah!"
Tanpa menjawab, Ziva langsung mengayunkan kakinya ke arah balkon kemudian duduk di kursi kosong yang ada disana. Ander terus mencuri pandang pada istrinya yang tak kunjung mengeluarkan suara.
"Zi"
"Hm"
"Menurutmu?"
"Menurutku ini sangat tidak nyaman"
"Aku juga begitu"
"Lalu kenapa kau tiba-tiba seperti ini?"
__ADS_1
"Entahlah"
"Zi, kumohon jangan seperti ini. Jika aku melakukan sebuah kesalahan tolong maafkan aku"
"Coba kau pikir, sebuah kesalahan itu apa"
"Aku tidak merasa melakukan apa-apa. Tapi jika menurutmu aku salah, aku hanya meminta padamu untuk memaafkan aku. Aku mohon Zi"
"Kau saja tidak mengetahui kesalahanmu, jadi bagaimana bisa aku memaafkanmu?"
"Baiklah, sebentar. Coba aku ingat-ingat lagi" Ander mulai menutup matanya untuk mengingat kejadian beberapa jam lalu, dan ingatannya mulai memikirkan satu hal.
"Tentang Clara" ucaonya spontan.
"Apa tentang Clara?" tanya Ziva memancing kejujuran suaminya.
"Tentang wanita itu sebenarnya dia.."
"Stop. Aku sudah tahu semuanya An"
"Hah?"
"Ya, aku mengetahuinya. Rey yang memberitahu semua tentang wanita itu padaku. Dan aku sedikit kecewa padamu yang tidak berkata jujur sejak awal. Padahal jelas-jelas wanita itu bergentayangan diantara kita."
"Maafkan aku Zi. Tapi memang aku tidak peduli dengan kehadirannya. Kemarahanku bahkan selalu memuncak saat melihat wajahnya. Aku tidak pernah macam-macam dengannya Zi, bagiku dia hanya wanita sampah yang datang karena ingin dipungut lagi. Aku bahkan sudah memperingatkannya tapi wanita itu.."
"Kita ikuti saja permainannya" potong Ziva kemudian.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Ya, kita ikuti saja permainannya. Aku akan membalasnya dengan elegan"