
Anak buah Ander terus mengikuti mobil yang membawa Nona mereka. Benar saja tujuannya adalah luar kota. Saat ini mereka baru saja sampai di perbatasan dengan kota lain.
Mereka menguntit dengan hati-hati, Ander sengaja mewanti-wanti mereka supaya tidak menyerang di perjalanan karena takut sang penculik panik dan membahayakan nyawa Ziva.
Tapi anehnya, mobil itu berbelok di kawasan hotel. Bukan di rumah-rumah kosong seperti penculikan pada umumnya. Mereka langsung menghubungi sang Tuan melapor situasi saat ini.
"Hallo ada apa?"
"Tuan, ternyata Nona dibawa ke salah satu hotel"
"Hotel? Untuk apa mereka membawa istriku kesana?"
"Saya tidak tahu Tuan"
"Terus ikuti mereka jangan sampai kehilangan jejak!"
"Baik Tuan"
Rey menambah kecepatan mobilnya saat mendengar kabar kalau Ziva dibawa ke salah satu hotel. Dia jadi memikirkan yang tidak-tidak.
"Kita sudah melewati perbatasan, katakan padaku hotel mana yang dimaksud anak buahmu!"
"Brown Hotel"
Mobil itu melesat menjadi lebih cepat, katakanlah Ziva beruntung karena dicemaskan oleh Rey yang sudah ia anggap kaka dan Ander sang suami yang begitu mencintainya.
__ADS_1
"Dimana istriku?" tanya Ander pada salah satu anak buahnya yang menunggu kedatangannya.
"Nona dibawa ke dalam Tuan dan Roxy sedang mengikuti mereka. Maaf Tuan, sepertinya sang penculik tidak ada niatan untuk menyakiti Nona"
"Bagaimana bisa kau berbicara seperti itu? Istriku ini diculik, mana mungkin dia tidak mempunyai niatan jahat pada istriku"
"Bukan begitu Tuan, saya melihat sendiri. Mereka sampai menyiapkan kursi roda untuk untuk membawa Nona masuk, mereka memperlakukan Nona dengan sangat hati-hati bahkan salah satunya terus mengusap rambut Nona"
"Itu tidak bisa dibiarkan!"
Ander berlari menuju lobby hotel yang tidak terlalu mewah itu, dia menghubungi anak buahnya yang lain untuk menanyakan keberadaan Ziva.
Sementara di dalam sebuah kamar..
Sementara satu orang lagi ternyata adalah seorang wanita, dia menatap pria itu dengan tatapan sendu "Mike, aku sudah membantumu. Tapi kumohon jangan sakiti Ziva, lihatlah dia sedang mengandung" ucap Tara sahabat lama Ziva.
Kalau kalian baca dari bab awal pasti kalian tau siapa Tara dan Mike.
"Tentu saja, mana mungkin aku menyakiti wanita pujaanku" balas Mike menatap Ziva penuh cinta.
"Jadi karena alasan ini kau pergi dan menghilang dariku hm? Kenapa kau tidak bilang dari awal, aku pasti akan menerimanya dengan senang hati" gumamnya seraya mengusap pipi Ziva yang tak lagi tirus itu.
"Sesuai kesepakatan, aku harus pergi Mike. Semoga kau berbahagia" ucapan itu akhirnya keluar dari bibir Tara.
"Ya, kau pergilah aku sudah tidak membutuhkanmu" pria itu mengibaskan tangan mengusir.
__ADS_1
Tara mengangguk mengerti, wanita itu melangkahkan kakinya yang terasa berat. Meninggalkan sang pria yang berhasil membuatnya meninggalkan kehidupannya yang gelap tapi ternyata pria itu tetap mencintai orang lain.
Flashback on.
Sejak Ziva meninggalkannya, Mike berubah menjadi pria tampan dengan tempramen yang benar-benar diluar batas. Atau lebih tepatnya Gila! Mike selalu menyalahkan semua orang atas menghilangnya Ziva. Padahal dia sendiri yang salah.
Orang tuanya sampai tidak peduli, karena Mike yang tidak pernah bisa diarahkan. Hanya ada satu-satunya orang yang peduli terhadapnya, yaitu Tara. Wanita itu memang menyimpan rasa pada Mike sedari dulu.
Tara merawat Mike dengan sukarela, dia sampai meninggalkan pekerjaannya sebagai wanita bayaran karena merawat Mike setiap hari selama 24 jam. Wanita itu bahkan memberikan pengobatan terbaik untuk Mike supaya sembuh dengan uangnya sendiri. Dia mendatangkan psikiater setiap minggu untuk membantu memulihkan kejiwaan Mike.
Meskipun hampir setiap hari pula Tara selalu mendapatkan perlakuan kasar dan menyakitkan dari Mike tapi Tara tidak pernah menyerah dia yakin suatu hari Mike pasti akan sembuh lalu menyadari cinta dan ketulusannya.
6 bulan berlalu, Mike sembuh secara perlahan. Tapi siapa sangka harapannya ternyata akan selalu menjadi harapan. Mike tidak pernah menyadari cinta Tara. Yang pria itu ingat setiap hari hanyalah Ziva Ziva dan Ziva.
Hingga suatu hari, saat Mike berkunjung ke mall dia melihat sang pujaan hati yang selama ini dia cari-cari ternyata bersama seorang pria. Itu membuat darahnya mendidih tidak terima.
Mike menguntit Ziva setiap hari, pria itu sampai meminta Tara untuk membantunya menculik Ziva. Mike mengancam kalau dia akan menghabisi Tara jika wanita itu tidak mau membantunya.
Sebut saja Tara bodoh karena bersedia membantu. Sebenarnya dia juga sudah lelah mengejar seseorang yang tidak pernah menganggapnya ada. Mungkin ini kali terakhir dia membantu cintanya untuk menemukan kebahagiaannya.
"Baiklah, aku akan membantumu. Tapi setelah itu aku akan pergi" selain lelah. Dia juga tidak mau terlibat terlalu jauh karena dia sangat-sangat tahu jika seseorang yang berada di belakang Ziva saat ini bukanlah orang biasa-biasa.
"Tentu saja, lagipula aku tidak akan membutuhkanmu lagi"
Flashback off
__ADS_1