Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Istri Kedua


__ADS_3

Setengah jam berlalu, tapi sepasang pengantin baru itu belum juga nampak. Membuat makanan Bram, Cate dan Marina yang menunggu di restoran hotel menjadi dingin.


"Apa anakmu itu tidak berpikir kalau istri dan anaknya itu butuh asupan makanan?" kesal Cate.


"Sudahlah mom, biarkan saja. Nanti kita suruh pihak hotel untuk mengantar makanan ke kamar mereka. Ayo kita sarapan sekarang"


"Tapi dad"


"Sudah diam mom. Daddy akan menghubungi Rey untuk mengurus majikannya"


Benar saja, istirahat Rey pagi ini terganggu karena panggilan dari sang Tuan Besar.


"Selamat Pagi Tuan Besar. Ada yang bisa saya bantu?" sahut Rey yang sedang berusaha membuka lebar-lebar matanya, bagaimana tidak dia baru saja tidur pukul 3 dini hari tentu saja itu karena ulah Sam yang mengajaknya begadang semalaman. Dan sekarang dia harus bangun pagi-pagi sekali.


"Kau sudah bangun?"


"Iya Tuan Besar saya sudah bangun"


"Baguslah. Tolong kau urus sarapan Ander dan Ziva ya, minta pihak hotel untuk mengantar makanannya"


"Baik Tuan, saya laksanakan"


"Kau juga datanglah kesini. Kita sarapan bersama"


Panggilan akhirnya terputus. Rey melempar ponselnya asal.

__ADS_1


"Ck, sampai kapan kau akan terus menyusahkanku Der. Sepertinya aku juga harus cepat menikah" gumam Rey seraya bangkit dari tidurnya dengan malas.


Hanya butuh waktu 10 menit saja untuk Rey membersihkan dirinya. Pria itu kini sedang berjalan menuju lantai khusus dimana restoran hotel berada, pria itu memesan beberapa makanan untuk diantar ke kamar pengantin. Baru setelah itu dia berbelok menuju bilik khusus tempat dimana keluarga Gif berada.


"Permisi" ucapnya seraya membuka pintu.


"Oh, Rey? Ayo cepat masuk" panggil Cate.


"Terima kasih Nyonya"


"Ini bukan jam kerja Rey, jadi panggil aku seperti biasa"


"Iya mom"


"Kau sudah memesan makanannya Rey?"


"Sudah dad. Sebentar lagi mereka akan mengantarkan makanannya"


"Fani, aku ingin pudding" perintah seorang wanita yang sedang hamil 2 bulan itu.


"Tapi Nona, disini tidak ada bahan-bahan untuk membuat pudding"


"Siapa bilang aku menyuruhmu membuatnya? Aku menyuruhmu membelinya! " ucapnya sedikit membentak.


Rasanya Fani ingin menampar wanita yang sudah berani membentaknya. Tapi sekuat tenaga dia menahannya demi tugas seseorang yang sudah membayarnya.

__ADS_1


"Aku akan memesan"


"Kenapa kau tidak membelinya sendiri?"


"Maaf Nona, saya tidak bisa. Saya harus tetap disini untuk memastikan keselamatan anda"


"Huft, aku lupa. Kalau calon suamiku itu sangat overprotektif dia sungguh mengkhawatirkan aku dan juga babynya"


"Sebegitu yakinkah kau wanita ular?" umpat Fani di dalam hati.


"Apa Tuanmu itu tidak mengabarimu?"


"Tidak Nona, Tuan mungkin sedang sibuk bersama istrinya"


"Istri pertama!" ralatnya "Karena selanjutnya aku juga akan menjadi istrinya, yaitu istri kedua"


"Cih, jadi istri kedua saja bangga"


"Kau lebih baik hubungi dia saja. Bilang padanya kalau babynya sedang ingin pudding. Aku yakin dia akan segera datang, aku juga sangat merindukannya"


Ting..tong..


"Sebentar Nona"


Fani berjalan menuju ke pintu apartemen tanpa menjawab ucapan wanita itu, tak lama kemudian dia datang dengan menenteng sebuah paperbag berisi sekotak pudding.

__ADS_1


"Ini pudding anda Nona, tidak perlu menghubungi Tuan Ander karena diluar sana masih banyak kurir"


Wanita itu menggeram kesal karena pelayannya ini sepertinya memang sengaja membuatnya kesal setiap saat. Kalau saja bukan orang kiriman Ander, mana mau dia terus diawasi seperti ini.


__ADS_2