Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Periksa


__ADS_3

"Mom..dad.." panggil Ziva disaat matanya menangkap sepasang suami istri yang sedang asik menyantap sarapan buatan Bi Sumi.


"Ah menantuku, apa kabarmu sayang?" pekik Cate senang. Wanita itu berdiri dan mulai cepika-cepiki.


"Aku baik mom"


"Syukurlah nak. Dan bagaimana kabar cucuku?" tambah Bram.


"Junior baik, dia tidak pernah aneh-aneh lagi dad" jawab Ziva yang ikut duduk bersama mereka.


"Sudah diperiksa lagi?"


"Belum mom, belum sempat"


"Kenapa begitu? Ya sudah setelah makan kita pergi ke rumah sakit ya"


"Sepertinya gak perlu mom, aku bisa pergi sendiri"


"No!" tolak Cate "Kali ini biar mommy yang mengantarmu periksa. Aku juga ingin bertemu dengan cucuku"


"Tapi mom.."


"Mommy tidak menerima penolakan. Jadi ayo cepat habiskan makananmu. Mommy akan daftar dulu supaya tidak lama menunggu" wanita paru baya itu beranjak dari duduknya untuk mengambil ponsel yang berada di dalam kamarnya.


Ziva hanya pasrah melihatnya, wanita itu merasa tidak enak dengan Cate. Apalagi Cate sampai meninggalkan makanannnya saking antusiasnya dia ingin mengantar Ziva untuk periksa.

__ADS_1


"Biar saja, pantas kalau dia seperti ini. Anak yang kamu kandung adalah cucu yang selama ini kami tunggu-tunggu" ucap Bram seakan mengerti tentang keresahan calon menantunya.


"Terima kasih sudah menyayangi kami dad. Padahal aku hanya orang biasa yang tidak sengaja mengandung benih anak kalian"


Bram hanya tersenyum menanggapinya.


Selesai dengan acara sarapan, sesuai dengan permintaan Cate. Saat ini keduanya sudah bersiap untuk pergi memeriksakan kandungan.


"Ayo sayang" ajak Cate setelah mobil yang dikendarai supir sudah berada di hadapannya.


"Iya mom"


Mobil mewah berharga fantastis itu mulai berjalan menyusuri jalanan yang terlihat lebih lenggang. Karena jam masuk kantor dan sekolah sudah terlewat.


Butuh waktu sekitar 35 menit untuk sampai di rumah sakit terdekat. Sang supir akhirnya menurunkan mereka di lobi rumah sakit.


"Untung saja mommy sudah daftar, jadi kita tidak perlu menunggu lama" ucap Cate yang baru saja menanyakan nomor antrian "Ayo masuk"


Di dalam sana sudah ada seorang wanita paru baya dengan jas dokter yang menunggu kedatangan mereka.


"Cate? Hai apa kabar?" sapa dokter tersebut dengan cepika cepiki.


"I'm fine Mel. Bagaimana denganmu?"


"Aku juga baik. Lama tidak bertemu dan kau masih awet muda"

__ADS_1


"Kau terlalu berlebihan. Ah aku sampai lupa, perkenalkan dia calon menantuku"


"Nona Ziva? Jadi baby yang dikandungnya itu cucumu Cat?"


Cate tersenyum bangga sebagai jawaban.


"Wah ternyata kau akan menjadi hot granma"


Ziva yang baru saja tau jika keduanya saling mengenal hanya tersenyum canggung. Padahal kakinya sudah pegal karena kelamaan berdiri.


"Hei, kenapa kita jadi asik mengobrol?"


"Astaga, aku sampai lupa kalau pasien lain pasti sedang menunggu diluar. Mari Nona kita periksa dulu"


"Ayo sayang, berbaring dulu. Maaf ya, pasti kakimu pegal karena kelamaan berdiri"


"Tidak mom, aku baik-baik saja"


"Kita usg dulu ya"


"Iya dok"


Dokter wanita bername tag Mellani itu mengoles sebuah gel di perut buncit Ziva. Dia mengarahkan sebuah alat supaya keadaan di dalam sana bisa terlihat jelas.


"Wah, babynya sehat dan sangat aktif. Lihatlah, dia sangat tampan seperti daddynya."

__ADS_1


"Benarkah? Ah aku sudah menduganya pasti cucu pertamaku adalah laki-laki" ujar Cate antusias.


Sementara Ziva sedang menangis terharu setelah melihat dan mendengar detak jantung anaknya. Tidak masalah baginya jika bayinya laki-laki atau perempuan, yang terpenting untuknya anaknya itu sehat dan baik-baik saja.


__ADS_2