
Ander hanya menatap datar wanita yang sedang menangis pilu di depannya,tepatnya wanita yang memiliki obsesi tinggi padanya.
"Apa kau sudah memeriksanya?" tanya Ander datar.
Rose tersenyum disela-sela tangisnya, sepertinya air matanya sudah meluluhkan kerasnya hati Ander.
"Sudah, karena aku ingin memastikan sendiri waktu itu jadi aku mempunyai foto usg yang dikirim padamu. Sejak saat itu aku tak lagi keluar dari sini" ucapnya penuh dusta.
"Baiklah, esok hari aku akan mengirim orang untuk menemanimu periksa lagi. Jangan khawatir, jika dia memang benar anakku aku pasti akan bertanggung jawab. Tapi jangan harap kalau dengan adanya berita ini kau bisa menghancurkan rencana pernikahanku. Kau mengerti maksudku bukan?"
Rose menatap Ander tidak percaya, tidak apa lah dia dijadikan istri yang kedua. Karena nanti akan mudah untuknya menyingkirkan istri Ander yang pertama. Begitu pikirnya.
"Iya, aku mengerti. Aku sangat mengerti, terima kasih kau sudah menerima kehadiran dia"
"Nanti orang suruhanku akan menghubungimu. Aku harus pulang" Ander membalik badan pria itu harus pulang sekarang juga.
Ya, mungkin dia sekarang sedang bimbang karena tidak mengingat persis kejadian malam itu seperti apa. Tapi dia tidak boleh gegabah untuk mempercayai ucapan Rose begitu saja. Bisa saja ini jebakan. Ya, bisa saja. Mengingat bagaimana gilanya Rose padanya.
Pikiran Ander seketika mengingat pertemuan pertamanya dengan perempuan itu "Jika ini memang ada campur tangan dari Tuan Steve, maka bersiap-siaplah kalian untuk hidup terlunta-lunta!" geram Ander seraya memukul stir mobilnya.
Pria itu langsung menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas. Mobil yang ia tumpangi berbelok menuju ke arah apartemen miliknya. Sejak Ziva tinggal bersama Mommynya Ander juga kembali ke apartemennya.
"Sedikit minum mungkin akan membuatku jauh lebih tenang" gumam Ander seraya mendekati salah satu rak penyimpanan koleksi minuman miliknya. Tanpa membutuhkan gelas, pria itu langsung menenggaknya dari botol secara langsung.
-
__ADS_1
-
-
"Sayang" panggil Cate saat memasuki kamar calon menantunya.
"Dimana anak itu" gumam Cate karena tidak melihat keberadaan Ziva.
"Apa di kamar mandi ya? Ah tidak mungkin, sepertinya di kamar mandi juga sepi"
"Ziva sayang.." panggil Cate lagi. Wanita paru baya itu berjalan menuju balkon. Dan benar saja Ziva sedang duduk termenung disana. Cate pun mendekat.
"Ziva?"
"Tidak baik ibu hamil melamun malam-malam" tegur Cate seraya mendudukkan diri di salah satu kursi kosong disamping Ziva.
Ziva hanya menjawab dengan rentetan giginya.
"Apa yang kau pikirkan hm?"
"Tidak ada mom"
"Apa kau merindukan Ander?"
Deg.
__ADS_1
Ah malunya karena ketahuan. Ziva sudah menduga jika pipinya pasti sudah seperti kepiting rebus sekarang.
"Tidak mom, aku hanya aneh saja dari tadi dia tidak membalas pesanku"
"Mungkin dia lembur, bukankah ini hari terakhir dia masuk kantor?"
"Tapi tadi siang An bilang pekerjaannya sudah beres"
"Coba kau telepon saja"
"Tidak mom, aku takut mengganggu"
"Lalu sekarang kau mau apa? Menemuinya begitu?"
"Memangnya boleh mom?"
"Tentu tidak boleh"
Ziva memonyongkan bibirnya lucu membuat Cate merasa lucu melihatnya "Jangan cemberut begitu. Sudahlah biar mommy saja yang meneleponnya. Kau istirahat saja, nanti mommy beri kabar"
"Terima kasih mom"
"Iya, ya sudah mommy keluar dulu ya. Sepertinya ponsel mommy ada di kamar"
"Iya mom"
__ADS_1