
Sejak hari itu Ziva dan Ander tak lagi bertegur sapa. Ander yang mulanya mulai sedikit banyak bicara sekarang menjadi diam kembali.
Ziva sudah meminta pulang, dia ingin menyudahi liburan yang dia rasa sangat membosankan. Dan Ander langsung mengabulkannya. Lagipula dia harus kembali bekerja. Meski sudah ada Rey yang menghandle semuanya.
Mereka akhirnya pulang dengan mobil terpisah tentu saja karena Ziva yang menolak untuk semobil dengan Ander. Pria itu tidak banyak bicara, dia tidak bisa berbuat banyak kecuali mengiyakan keinginan wanita hamil itu.
"Apa anakku akan seperti ibunya?" gumam Ander yang berpikir bahwa anaknya akan sama bencinya dengan ibunya terhadap dia.
"Tidak tidak itu tidak mungkin, dia memiliki ikatan darah denganku bukan? Mana mungkin dia sampai membenciku"
Ander kembali berpikiran positif. Hingga tidak terasa perjalanan yang Ander habiskan dengan bergulat bersama pikirannya sendiri akhirnya selesai. Dia sudah sampai di mansion miliknya, padahal rencananya dia akan kembali ke apartemen saja.
"Kenapa kau tidak bertanya dulu?"
"Maaf Tuan, saya kira anda akan pulang ke sini" ujar sang supir dengan kepala yang menunduk.
"Ah, sudahlah. Cepat antarkan aku ke apartemen sekarang"
__ADS_1
"Ba-baik Tuan"
Ziva yang baru saja turun dari mobil yang dikendarai oleh Dark hanya menatap datar mobil yang ditumpangi oleh Ander. Kini mobil itu semakin menjauh dari halaman mansion.
-
-
"Apa ada kabar lagi?"
"Ya, tapi sepertinya hubungan mereka semakin buruk. Mereka tak pernah terlibat obrolan sedikitpun. Bahkan menurut informasi Ziva sangat menghindari Ander"
"Bahkan jika aku menjadi dia, sudah ku pastikan senjata laras panjang milik anakmu itu terpotong habis" kesal Bram yang mendukung sikap Ziva.
"Kau hanya bisa menambah sakit di kepalaku!"
Beberapa hari berlalu, saat ini Ander sedang dalam perjalanan menuju ke mansion miliknya. Sebelumnya pria itu pergi ke sebuah toko bunga untuk mengambul buket mawar putih pesanannya.
__ADS_1
Dulu, dia akan kemari untuk membeli bunga kesukaan sang kekasih, tulip merah. Tapi hari ini lain dia membeli bunga untuk orang lain dan dengan jenis lain pula.
Dark dan Jack yang berjaga di pintu masuk tersenyum tipis saat melihat Ander masuk dengan sebuket bunga di tangannya.
Seperti biasa, tempat favorit Ziva selama tinggal disini adalah pinggir kolam renang. Wanita itu akan menghabiskan waktunya hanya untuk sekedar menyendiri disana.
Jantung Ander mulai berpacu dengan cepat saat mendapati Ziva yang sedang sibuk dengan sebuah majalah dipangkuannya. Dia sudah seperti seorang pecundang sekarang. Entah apa yang merasukinya kali ini hingga dia berani datang seperti ini.
Waktu seakan berjalan dengan lambat kakinya melangkah dengan berat mendekati seorang wanita yang bahkan dia sendiri tidak mengenalnya tapi sudah sampai mengandung bibitnya.
"Boleh aku duduk?"
Ziva awalnya terkejut tapi dia berusaha untuk biasa saja. Matanya melirik sebuah buket bunga yang Ander pegang sedari tadi.
"Untuk apa kau meminta ijin padaku? Bukankah semua ini adalah milikmu?" jawab Ziva sinis.
Ander akhirnya duduk, dia menyodorkan buket bunga yang sedari tadi dia genggam "Ini untukmu"
__ADS_1
Bukannya menerima. Ziva malah menatap Ander dengan aneh seolah meminta penjelasan dari apa yang Ander maksud.
"Ini adalah simbol permintaan maafku kepadamu, atas semua yang sudah aku lakukan terhadap dirimu, aku minta maaf. Aku sungguh menyesal"