
Setelah malam panjang yang mereka lewati selama 3 hari di hotel, kini sepasang pengantin baru yang sedang dimabuk cinta itu memutuskan untuk pulang ke hunian mereka yang baru.
Cate dan Bram benar-benar membuktikan ucapan mereka yang akan menghadiahkan menantunya sebuah mansion mewah berlantai dua tapi jauh lebih besar dari mansion yang Ziva huni sebelumnya.
Mobil yang mereka tumpangi kini bergerak perlahan setelah melewati gerbang besar yang menjulang tinggi didepan sana. Ada seorang satpam yang menyambut mereka di pos dan ternyata satpam itu adalah orang yang sama dengan satpam di mansion sebelumnya.
Jarak dari pos satpam menuju ke bangunan utama memerlukan waktu sepuluh menit jika berjalan kaki dan membutuhkan waktu lima menit saja jika menggunakan mobil atau buggy car.
Dan sampailah mereka di bangunan utama yang merupakan sebuah bangunan klasik bergaya eropa dengan banyaknya tiang penyangga yang sangat besar dibeberapa bagian, hanya mempunyai dua lantai tapi tetap menggunakan lift di dalamnya, mengingat keadaan Ziva yang saat ini sedang hamil dan tidak baik jika harus naik turun tangga.
Di lantai satu terdapat beberapa ruangan seperti ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, dapur, kolam renang yang berada tepat di samping ruang keluarga, dan juga sebuah taman kecil lengkap dengan kolam ikan hias. Cocok untuk bersantai.
Sementara di lantai dua terdapat sebuah ruang kerja, ruang gym, pantry dan tidak lupa ada 9 kamar yang terdiri dari 1 kamar utama yang letaknya terpisah dari kamar lain, 1 kamar tamu, dan sisanya adalah kamar kosong atau lebih tepatnya kamar yang Cate siapkan untuk cucu-cucunya nanti.
Ya, Cate sangat berharap kalau Ziva akan melahirkan banyak cucu untuknya.
Semua perabot, pajangan, hiasan dan lainnya adalah barang-barang limited edition yang berharga fantastis. Yqng sengaja Cate pesan untuk menantu limited editionnya juga.
__ADS_1
Sementara dibelakang bangunan utama ada sebuah taman lengkap dengan rumah kaca sama persis seperti yang berada di mansion utama. Dan juga terdapat paviliun tempat dimana para pelayan dan penjaga beristirahat.
Tentu Ziva dibuat tercengang dengan bangunan indah nan mewah itu, rumah masa depan, begitulah dia menyebutnya dalam hati.
"Mulai sekarang kita akan tinggal disini" terang Ander.
"Apa ini tidak terlalu berlebihan An? Aku tidak apa-apa kok tinggal di mansion yang lama"
"Mansion itu terlalu menyimpan banyak luka. Maka dari itu mommy memberikan mansion baru untukmu karena disini kita akan mengukir banyak kebahagiaan"
"Tapi An"
"Seberapa banyakpun kau mengoceh, kita akan tetap tinggal disini Zi"
Ziva mengangguk mengerti. Dia lupa kalau saat ini dirinya adalah seorang menantu dari keluarga Gif yang kekayaannya bahkan tidak akan pernah habis walau sepuluh turunan sekalipun.
"Sepertinya kau kelelahan darling" komentar Ander seraya mengangkat tubuh istrinya ala bridal style.
__ADS_1
"Astaga An, turunkan aku. Aku pasti berat. Kau tau kan berat badanku naik beberapa kilogram?"
"Kau meremehkan tenagaku darling?"
"Bukan begitu An, tapi aku juga masih kuat berjalan sendiri"
"Tapi sepertinya aku tidak menerima komentar apapun" ucap pria tampan itu seraya melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam lift.
-
-
-
"Keterlaluan!"
"Astaga, apa yang kau lakukan nona?" ucap Fani panik karena Rose membanting sebuah gelas yang membuat seisi dapur berantakan dengan pecahan gelas itu.
__ADS_1
"Bilang pada majikanmu itu untuk menemuiku malam ini juga. Jika tidak maka jangan harap aku akan terus menutup mulutku ini!" ancam Rose berapi-api. Wanita itu berlalu ke dalam kamar seraya membanting pintu hingga menimbulkan suara yang keras.
"Semakin hari wanita itu semakin gila saja"