Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Pasien Kejiwaan


__ADS_3

Sudah beberapa hari Ander tak lagi mengunjungi Ziva di mansion. Pria itu hilang bak ditelan bumi. Tentu saja Ziva bersyukur karena dia teramat benci pada pria itu.


Pria yang sudah merenggut semuanya dari dirinya, kesuciannya, kebahagiaannya, hidupnya, masa depannya dan satu lagi kewarasannya.


Sungguh, dia tidak bisa membayangkan keadaannya yang hamil dalam keadaan gila. Beruntung Tuhan masih berbaik hati padanya. Ziva masih bisa mengontrol dirinya sebelum ia benar-benar gila.


"Ini susunya non"


"Terima Kasih bi"


Tangan kanannya terulur untuk mengambil segelas susu hamil berperisa coklat itu.


"Duduklah bi, aku ingin bercerita"


"Baiklah, apa yang ingin bumil ceritakan hari ini?"


"Aku bosan bi" keluhnya.


"Nona ingin pergi ke suatu tempat?"


"Tidak bi, aku ingin bekerja. Menurut bibi bagaimana?"


"Nona tolong jangan aneh-aneh"


"Kenapa bi? aku bosan seharian disini"


"Nona bisa pergi kemana saja. Tuan Ander tidak akan membiarkan nona bekerja dalam keadaan hamil begini"


"Ah iya aku lupa pada pria menyebalkan itu" cebik Ziva penuh kesal.


Bi Sumi hanya terkekeh melihatnya "Bagaimana kalau kita liburan saja?"


"Ah rasanya aku sudah seperti ratu saja jika begini. Padahal aku lebih menyukai hidupku yang dulu yang biasa-biasa saja"


"Nona,semuanya sudah terjadi. Tidak usah disesali lagi. Nona ambil sisi baiknya saja"

__ADS_1


"Tentu bi, aku tidak ingin menjadi gila lagi"


"Jadi bagaimana?"


"Baiklah, sepertinya Junior ingin ke pantai. Ayo berkemas!"


-


-


-


-


Satu minggu telah Ander lewati, pria itu sengaja menambah waktunya di luar kota hanya untuk menghindari orang-orang yang berada di sekitarnya.


Bahkan Rey juga dia biarkan pulang sendiri dengan diberi amanat mengurus perusahaan selama beberapa waktu sebelum dia kembali.


Ponselpun ia matikan, Ander mencoba menjalani kehidupan layaknya orang normal biasanya. Tidak ada wanita bayaran, tidak ada klub malam, tidak ada alkohol.


"Menjadi orang normal ternyata tidak buruk" ucapnya. Tentunya pada dirinya sendiri karena tidak ada siapa-siapa disana.


"Apa ini saatnya aku berubah? Apa aku sudah benar-benar melupakanmu Clara?" Pikirannya menerawang jauh keatas sana.


Ya, tentu saja. Clara adalah orang pertama yang berhasil memporak-porandakan hati Ander. Meski kelakuan wanita itu sudah menghancurkan semuanya, tapi untuk menghilangkan cinta tak semudah membalikkan telapak tangan.Apalagi Clara adalah cinta dan wanita pertama bagi Ander.


Sifat Ander yang mulanya anti wanita menjadi penggila wanita bukan tanpa sebab. Itu karena kekecewaannya yang teramat dalam pada Clara. Ander melampiaskan semuanya pada setiap wanita yang menurutnya sama saja dengan sang mantan kekasih, dengan tujuan untuk melupakan semua kenangan pahit yang ia dapat.


Siapa sangka ternyata di balik kegilaannya terhadap wanita, pria itu bahkan menjadi salah satu pasien dokter spesialis kejiwaan.


Ya, dia hampir gila karena pengkhianatan wanita bernama Clara.


Ander akan rutin menjalani pemeriksaan selama dua minggu sekali dengan salah satu dokter yang tentunya menjaga privasinya dengan ketat. Hanya Ander, Rey, dan dokter itu yang tahu.


Miris memang, seorang Anderson Gif hampir gila karena seorang wanita murahan. Tetapi mental setiap orang tentu tidak akan pernah sama.

__ADS_1


Ander mulai mengaktifkan ponselnya beberapa notifikasi masuk beberapa diantaranya adalah pesan dari sang mommy yang waktu itu Ander tinggal dalam keadaan sakit. Tapi pri itu mengabaikannya. Dia harus menghubungi seseorang terlebih dahulu.


"Apa kau sudah sampai?"


"Ya, aku sudah ada di lobi"


"Baguslah. Lantai 9 kamar 176"


"Ok"


Hanya butuh waktu 5 menit saja bagi Ander, saat ini dia sudah mendengar suara bel yang ditekan dari depan pintu.


"Masuklah"


"Are you oke? Seorang Anderson Gif menyewa kamar hotel kelas bawah? Aku benar-benar terkejut. Apa kau sudah bangkrut?"


"Diamlah! Aku sedang mengetes kejiwaanku dengan hidup seperti orang normal lainnya"


"Kau bercanda Dude?" tanyanya tidak percaya.


"Kau terlalu banyak bicara. Seharusnya kau senang karena telah berhasil membuat pasienmu ini sembuh"


Akhirnya Ander menjalani beberapa tes untuk mengecek kesehatan mentalnya, apa benar pria itu telah sembuh atau justru bertambah gila.


"Aku tidak percaya dengan hasilnya, kuharap kau tetap menjaga kewarasanmu ini"


"Akan ku kirim bonus 2 kali lipat untukmu. Terima kasih telah membantuku dan menjaga privasiku selama ini"


Pria yang ternyata merupakan Dokter Spesialis Kejiwaan yang menangani Ander hanya melongo mendengar Ander mengucap kata terima kasih.


"Sekarang aku semakin yakin bahwa kewarasanmu benar-benar telah kembali" ucapnya terharu sembari merentangkan kedua tangannya untuk memeluk pasien sekaligus sahabatnya ini.


"Dan aku semakin yakin bahwa sekarang kau lah yang tidak waras" Ander bergidik ngeri.


"Sialan!"

__ADS_1


__ADS_2