
"Ini semua gara-gara kamu An, kita jadi telat bangun mommy dan daddy pasti sudah menunggu kita di bawah" kesal Ziva seraya turun dari ranjang super empuk yang menjadi saksa ganasnya si cassanova yang sudah insyaf itu.
"Aku sengaja tidak membangunkanmu sayang, kamu pasti sangat lelah semalam"
Pipi Ziva seketika bersemu merah mengingat kejadian diantara dirinya dan juga suaminya.
"Jatah pagi?" ucap Ander mengerling nakal.
Ziva melempar bantal kecil yang ada di dekatnya "Tidak ada!"
Ting..tong..
Baru saja ingin membuka pintu kamar mandi atensi Ziva kini teralihkan oleh suara bel dari luar kamar.
"Biar aku saja" tawar Ander. pria itu turun dari ranjang dengan keadaan telanjang bulat tanpa dosa sama sekali. Membuat istrinya memalingkan wajah karena melihat sesuatu yang gondal-gandul dibawah sana.
"Tidak perlu malu-malu begitu sayang, bukankah kau sudah melihatnya semalam?" bisik Ander menggoda istrinya.
Kini pria itu sudah memakai bajunya kembali meskipun bawahnya hanya celana boxer tapi setidaknya itu sopan.
"Cepatlah, kasihan orangnya menunggu"
"Baik Ibu Ratu"
__ADS_1
Ziva meneruskan langkahnya untuk membersihkan diri, badannya terasa lengket bekas percintaannya semalam dengan sang suami tercinta.
Sementara Ander berjalan menuju pintu depan untuk membukakan pintu, rupanya yang datang adalah pelayan hotel mengantar beberapa menu makanan untuk sepasang pengantin baru yang tengah dimabuk cinta itu.
"Selamat Pagi Tuan Muda, ini sarapan anda"
"Ah baguslah jadi aku tidak perlu keluar kamar, terima kasih" ucap Ander seraya mengambil alih untuk mendorong troli makanan tersebut.
Membuat sang pelayan hampir saja serangan jantung karena seorang Ander mengucap kata terima kasih padanya. Padahal menurut informasi Tuan Mudanya itu terkenal arogan.
Ander menutup kembali pintu kamar hotelnya. Sembari menunggu istrinya yang sedang mandi, Ander pun bermaksud untuk mengaktifkan ponsel miliknya yang sempat dia matikan semalam.
Benar saja, banyaknya notif panggilan tak terjawab dari sang mommy tercinta, pria itu mencscroll kebawah untuk melihat notif lain dan satu notif oun mengambil perhatiannya.
Fani
Ah iya, untuk sejenak Ander melupakan satu masalahnya. Satu masalah yang bisa saja menghancurkan kebahagiaannya yang baru saja dia dapatkan.
Yang hanya bisa dia lakukan sekarang adalah mengawasi wanita yang sedang mengaku mengandung anaknya supaya tidak melakukan hal-hal yang bisa membuat semua orang salah paham. Dia juga akan berusaha menyelidiki semuanya benar atau tidak yang terjadi sesuai dengan yang Rose ceritakan.
Jikapun memang benar, Ander tentu akan bertanggung jawab terhadap anaknya. Tanpa melepas Ziva dan junior tentunya. Karena demi apapun dia tidak ingin hal itu sampai terjadi.
Sebaliknya, jika semua cerita itu hanya untuk menipunya. Maka Ander tidak akan diam saja, akan dia pastikan semua orang yang berusaha mengusik hidupnya maka akan musnah.
__ADS_1
"An" panggil Ziva yang sedari tadi berdiri di depan pria yang sedang melamun itu.
"Ah Zi, maaf aku melamun"
"Memangnya orang kaya suka melamun juga ya?"
"Maksudnya?"
"Bukankah orang kaya itu gak ada yang harus dipikirin?"
"Kata siapa?"
"Kata aku"
"Ck, ada ada saja. Lagian aku melamun bukan mikirin hutang. Aku mikirin kamu, gak nyangka aja kalau kita bisa sampai nikah"
"Oh ya? Nyesel atau bahagia?"
"Tentu aku bahagia sayang" ucap Ander seraya mencubit gemas hidung pengantinnya.
"Sakit tau!"
Ander terkekeh melihatnya "Ayo sarapan. Mommy sudah mengantar makanannya" tunjuk Ander pada troli makanan yang berada di dekat pintu.
__ADS_1
"Aku mau makan di balkon"
"Baiklah Ratu" Ander mengecup kening Ziva dengan sayang. Lalu mendorong troli menuju ke balkon sesuai dengan permintaan istrinya.