
Sesuai dengan apa yang dikatakan Dokter Mery sebelumnya. Mommy baru itu akhirnya siuman setelah 2 jam pingsan. Saat sadar, yang ia cari pertama kali adalah bayinya.
"Bayiku.." lirihnya saat berhasil membuka kedua mata.
Ander yang sedari tadi berjaga disampingnya langsung menerbitkan senyumnya, "Zi" panggilnya begitu lirih.
"An, apa bayiku baik-baik saja?"
Ander mengangkuk dengan mata yang berkaca-kaca, dia mendekatkan wajahnya lalu mendaratkan sebuah ciuman penuh cinta diatas kening sang istri.
"Dia baik-baik saja Zi. Aku tidak tahu harus membalasmu dengan apa, aku hanya bisa mengucapkan ini. Terima kasih karena kau telah berjuang untuk melahirkan keturunanku" ucapnya tulus.
Ziva tersenyum lega, wanita itu membalas tatapan suaminya dengan teduh, "Kau tidak perlu berterima kasih An, itu sudah menjadi takdirku sebagai seorang perempuan. Mengandung, melahirkan, lalu menyusui dan merawat anaknya"
"Aku yakin kau akan menjadi Mommy yang hebat untuknya"
"Begitupun denganmu yang akan menjadi Daddy yang super hebat untuk anakku"
Ander mendekap tubuh lemah istrinya yang terbaring diatas brankar, pria itu tak henti-hentinya meneteskan air mata tanda bahagia.
"Jangan menangis terus, sekarang katakan dimana baby kita?" tanya Ziva menuntut.
"Ah iya, kau pasti sudah tidak sabar bertemu dengannya kan? Dia ada di ruangan khusus bayi bersama Mommy Cate. Kami bingung kalau membawanya kemari sementara Mommynya masih pingsan"
"Kau meledekku ya? Ya sudah ayo antarkan aku kesana"
"Tidak perlu sayang, biar baby yang dibawa kemari saja. Dokter Mery bilang baby kita itu sangat sehat jadi tidak perlu ada penanganan khusus"
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu"
"Wait, aku kesana dulu ya sekalian memanggil Dokter untuk memeriksa keadaanmu"
"Iya sayang"
"Aku lebih suka kau memanggilku seperti itu" balas Ander seraya mencubit hidung istrinya gemas.
-
-
"Mom, Ziva sudah sadar. Apa boleh kita membawa baby sekarang?" lapornya pada Cate yang sedari tadi menjaga cucunya dari luar ruangan bayi.
"Syukurlah, tentu saja boleh. Ayo kita ijin pada perawat dulu"
Rupanya bayi mungil itu tengah terlelap.Pria itu memandangi tubuh mungil sang anak dengan senyuman yang tak luntur sedikitpun, "Ayo kita bertemu Mommy boy"
Ander mendorong roda bayi itu dengan hati-hati diikuti oleh Cate yang berjalan tepat di sampingnya.
"Aunty Cate, Ander?" sapa seorang wanita cantik berjas dokter yang kebetulan baru saja keluar dari sebuah ruangan.
"Lucy, astaga apa kabar? Lama tidak bertemu" tanya Cate antusias.
"Aku baik Aunty, bagaimana dengan kalian?" tanyanya seraya menatap Ander dan Cate bergantian.
"Kami baik sayang"
__ADS_1
"I-ini baby siapa?"
"Ini baby Ander, baru saja lahir 3 jam yang lalu"
"Wah pantas saja dia sangat mirip sekali denganmu. Aku ikut bahagia Der" ucapnya tulus.
"Thanks Lucy" balas Ander dingin.
"Baiklah aku pamit duluan ya Mom, kasihan Ziva menunggu"
"Oke hati-hati Der"
"Yes Mom"
"Lucy, are you oke?" tanya Cate hati-hati.
"Yes Aunty"
"Aku yakin kau akan segera mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari putraku"
"A-apa maksud Aunty?"
"Aku tau, sejak lama kau itu mempunyai rasa pada Ander. Benar begitu bukan?"
Lucy menunduk malu "Aku hanya mengaguminya"
"Kau adalah gadis yang cantik dan baik hati, aku yakin kau akan segera mendapatkan pengganti putraku dan menemukan kebahagiaanmu. Meski Ander sudah menikah, aku tetap menganggapmu sebagai putriku sendiri"
__ADS_1