Partner Ranjang Sang Cassanova

Partner Ranjang Sang Cassanova
Melancarkan Misi


__ADS_3

Tanpa menghiraukan beberapa pelayan yang menunduk hormat dan menyapanya Ander langsung masuk ke dalam lift. Dia ingin melihat keadaan sang ibu, benar atau tidak wanita yang sudah melahirkannya itu sakit.


Pria tampan berwajah tegas itu memindai seisi mansion di lantai 3 sudah lama dia tidak datang kesini. Saat Ander ingin mengetuk pintu disaat itu pula pintu terbuka dari dalam dan memperlihatkan seorang wanita berbaju suster.


"Selamat sore Tuan Muda, Nyonya Besar ada di dalam"


"Hm"


Pemandangan pertama yang Ander lihat adalah sang ibu yang terbaring lemas diatas tempat tidur dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya. Mata wanita paru baya itu tertutup rapat.


Dan untuk pertama kalinya Ander melihat ibunya seperti ini, Cate memang jarang sekali sakit.


"Kau datang?" tanya Bram dari belakang. Pria paru baya itu baru saja kembali dari lantai bawah.


"Sebenarnya mommy sakit apa?" tanyanya datar.


Bram mengendikkan bahunya "Singkat saja, mommy mu stress"


Tatapan Ander mengintimidasi raut wajah ayahnya melihat ada kebohongan atau tidak. Tapi nihil, Bram kelihatannya sangat terpukul dengan keadaan Cate.

__ADS_1


"Harapannya sangat sederhana. Dia hanya ingin menikmati masa tuanya bersama dengan suami, anak, menantu dan seorang cucu. Tapi ternyata harapannya musnah setelah melihat kelakuan anak kesayangannya yang semakin hari semakin tidak terkendali"


"Sebelumnya aku sudah pernah bilang padanya, aku akan memberinya seorang cucu tapi beri aku waktu"


"Ya, mommy mu memang pernah berbicara padaku. Tapi apa kau tidak berpikir bahwa ucapanmu yang seperti itu justru menambah beban pikirannya. Maksudmu apa? Tidak ingin menikah tapi berjanji akan memberinya seorang cucu? Coba jelaskan padaku!"


Ander bergeming dia tidak ingin menjawab.


"Setiap hari ibumu itu menangis di pundakku. Di dunia ini dia tidak memiliki siapapun selain kau anaknya dan aku suaminya. Kau tentu tau itu, sebelum bertemu denganku dia hidup sebatang kara!"


"Tapi kau dengan mudahnya berbuat semaumu tanpa memikirkan istriku!" ucap Bram berapi-api dia sudah mulai tersulut emosi sekarang.


Cate yang mendengar Bram berbicara tinggi langsung tau kalau suaminya itu sedang benar-benar emosi, bukan berakting. Padahal konsep sebelumnya bukan seperti ini.


"Ya honey?"


"Kau berbicara dengan siapa?"


Kamar besar itu memang terdapat beberapa sekat ruangan, Ander dan Bram kini sedang duduk di ruang santai sementara Cate berada di ruang tidur.

__ADS_1


"Maaf honey, suaraku mengganggu tidurmu ya?"


"Kenapa berbicara sekeras itu. Apa kau sedang memarahi pelayan?"


Tapi bola mata Cate menangkap seseorang berpakaian rapi di belakang suaminya.


"Boy..kau datang?" Cate senang wanita paru baya itu berusaha untuk bangun dari tidurnya. Tapi sedetik kemudian Cate merintih sakit memegangi kepalanya.


Ander yang melihat Cate sangat pucat dan kesakitan membuat hatinya sedikit terusik. Rasa takut mulai menyelimuti relung hatinya.


Cate tersenyum tipis sekali sampai Ander dan Bram pun tidak dapat melihatnya.


"Sepertinya aku berhasil membodohi anak itu. Kenapa tidak dari dulu saja aku berakting seperti ini"


"Duduk disini boy" Cate menepuk ranjang kosong disampingnya dia meminta sang anak untuk mendekat.


"Dia tidak akan pedulu padamu honey, biar aku saja"


"Tidak dad, biarkan aku berdekatan dengan anakku" pinta Cate lemah.

__ADS_1


"Ya sudah, aku keluar saja"


"Biarkan saja, ayo duduk boy mommy sangat merindukanmu"


__ADS_2