
"Perkembangan janin sangat bagus, pergerakannya juga sangat aktif, secara keseluruhan semuanya terlihat baik-baik saja"
"Apa kau mau melihatnya Der?"
"Memangnya bisa?" tanya Ander bodoh.
"Tentu bisa, apa kau juga belum tahu jenis kelaminnya?"
Ander menggeleng. Karena Ziva maupun mommynya belum pernah memberitahunya.
Dokter Mellani langsung berdiri menghampiri Ziva yang masih terbaring di ranjang pasien, Ander mengekor dibelakangnya. Mata tajam yang sudah terlihat semakin lembut itu terus mengamati apa yang Dokter Mel lakukan.
Dokter itu terlihat menyingkap dress Ziva yang dihalangi oleh sebuah kain supaya Ander tidak melihatnya, dia tau kalau keduanya belum memiliki ikatan yang jelas. Hanya seorang anak yang mengikat mereka.
Dokter Mel mengoles sebuah gel di perut buncit Ziva, lalu sebelah tangannya mengambil sebuah alat yang ditempelkan langsung di perut yang semula dioles gel.
Dan tampaklah penampakan di dalam perut Ziva di layar monitor.
"Astaga, apa itu anakku?"
"Kau senang?"
"Tentu aku senang, aku tidak pernah tahu bahwa bayi di dalam kandungan itu bisa dilihat"
"Astaga, kemana kau selama ini? Seorang presdir GG tidak tahu menahu tentang teknologi USG? Itu sungguh keterlaluan"
"Jelas dia tidak tau, yang dia tau kan cuma tutorial membuat anak saja" gerutu Ziva dalam hati.
"Wah, lihatlah. Itu wajah anakku" ucap Ander antusias, pria dewasa itu sudah seperti anak kecil yang mendapatkan permen.
"Ya, dan lihatlah bukankah dia sangat mirip denganmu?"
"Ya, dia sangat.."
"Tampan" lanjut Dokter Mel.
__ADS_1
"Jadi babyku laki-laki?"
Dokter Mel mengangguk sebagai jawaban. Dia sudah menduganya, Ziva pasti belum mengatakan apa-apa tentang pemeriksaannya bulan lalu.
Dokter Mel akhirnya mengeprint hasil USG tersebut, dan Ander langsung merebutnya. Dia teramat senang bisa melihat anaknya secara langsung.
Setelah menebus beberapa vitamin, Ziva dan Ander memutuskan untuk pulang.
"Apa setiap pemeriksaan kau selalu mendapatkan ini?" tanya Ander seraya menunjukan kertas USG yang sedari tadi digenggam olehnya.
"Tentu saja"
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"
"Kurasa itu tidak penting untukmu" jawab Ziva jujur.
"Pantas saja kau selalu menghindariku, karena pikiranmu tidak pernah baik padaku"
"Bagaimana aku bisa berpikiran baik padamu, tentang semua yang sudah kamu lakukan"
Keduanya berjalan menuju basemen hingga satu suara di depan sana memberhentikan langkahnya.
"Tuan Ander?"
Ander menoleh setelah mendengar seseorang memanggil namanya "Tuan Steve?"
"Apa kabar Tuan?"
"Ya, saya baik. Bagaimana dengan anda?"
"Saya sedang sedikit kurang sehat oleh karena itu saya datang kemari untuk diperiksa. Lalu anda sedang apa disini?" Steve mengalihkan pandangannya pada seorang wanita hamil yang berada di samping Ander.
"Saya baru saja mengecek kandungan.."
"Perkenalkan saya Ziva, saudara sepupu Ander" ucap Ziva sopan.
__ADS_1
Ander memelototkan matanya, apa dia bilang? sepupu?
"Ah iya, saya Steve nona rekan kerja Tuan Ander. Senang bisa berkenalan dengan anda"
Ziva tersenyum sopan sekali.
"Zi..Kau.."
"Baiklah, kami permisi dulu ya Tuan"
"Ya, silahkan Nona"
"An, ayo"
Ziva segera menarik Ander untuk segera pergi.
"Saya permisi Tuan Steve"
"Silahkan Tuan"
Ziva menarik Ander cepat-cepat menuju ke basemen.
"Zi, kenapa kau bilang padanya kalau kita adalah saudara sepupu?"
"Lalu aku harus bilang apa? Tidak mungkin kan aku bilang padanya kalau aku adalah wanita yang tidak sengaja mengandung benihmu?"
"Ya, tidak begitu juga"
"Ya sudah, lebih baik mereka menganggapku ini adalah saudara sepupumu"
"Tapi Zi, Mommy akan marah jika dia tahu tentang hal ini"
"Aku yang akan berbicara pada Mommy" ucap Ziva seraya berlalu dari hadapan Ander.
"Kenapa kau tidak bilang kalau kau itu adalah calon istriku? Bukankah kau sudah sepakat bersama Mommy untuk menikah denganku sebelum Junior lahir? Cepat atau lambat mereka semua akan tahu semuanya" ucap Ander yang sukses membuat Ziva mematung ditempatnya.
__ADS_1