
Ander tidak kembali ke apartemennya, pria itu memutuskan untuk tinggal di mansion. Cate dan Bram juga melakukan hal yang sama, mereka akan mengawasi Ander disini.
"Ayo makan yang banyak, supaya junior tetap sehat" ucap Cate pada calon menantu kesayangannya.
"Terima kasih mom" jawab Ziva canggung, Cate terlalu memanjakannya.
Hening. Tidak ada pembicaraan selama acara makan malam dimulai.
"Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Ander sedikit perhatian, dia melihat Ziva yang sedikit kebingungan dengan makanan di depannya.
"Tidak" jawab Ziva ketus.
"Lalu, kenapa makanannya tidak dimakan?"
"Nona mual?" tanya Bi Sumi dari arah belakang. Seketika semua orang menghentikan aktifitas makan mereka.
"Tidak perlu dipaksa kalau nona sudah kenyang" Bi Sumi dengan cekatan mengambil sebuah teh hangat yang telah dia buat sebelumnya.
Ziva menerima teh tersebut dan menengguknya sedikit "Kita ke kamar ya non"
Ziva mengangguk sebagai jawaban. Rasanya semua makanan yang sebelumnya masuk sedang memberontak ingin keluar kembali maka dari itu Ziva lebih memilih menutup mulutnya.
"Biar aku bantu" Ander menawarkan diri. Ziva bergeleng sebagai jawaban tapi Ander tidak menghiraukannya.
__ADS_1
Tubuh tegapnya kembali mengangkat tubuh buncit Ziva dengan cepat "Diamlah, aku tidak akan menyakitimu" ucap Ander pelan sekali, hanya Ziva yang dapat mendengarnya.
Ander membaringkan tubuh Ziva di ranjangnya dengan hati-hati, bi Sumi dengan setia mengekor di belakang.
"Aku ada di kamar sebelah bi, panggil saja kalau ada apa-apa"
"Baik Tuan"
"Aku keluar dulu" pamit Ander.
Bi Sumi menatap langkah tegas milik Ander yang menghilang disaat pintu tertutup. Dia bergegas mengambil sebuah minyak oles untuk menetralkan rasa mual yang dirasakan Ziva.
"Bukankah Tuan Ander berubah menjadi sedikit manis nona?"
"Aku tidak tahu bi"
"Dia hanya mengkhawatirkan anaknya, bukan aku"
"Benarkah? Apa nona tahu sore tadi Tuan Ander begitu marah saat tahu nona tidak ada dirumah dia takut nona kenapa-napa"
"Dia hanya takut aku membawa kabur anaknya"
"Nona terlalu menutup diri, hingga nona tidak sadar dengan perubahan Tuan Ander"
__ADS_1
Ziva terdiam. Apa benar dia terlalu menutup diri? Tapi bukankah dia sudah berusaha untuk melawan egonya sendiri? Bahkan dia dengan terpaksa melupakan semua dendam dan sakit hatinya dengan memaafkan Ander dan juga berdamai dengannya. Apa itu belum cukup? Lalu harus bagaimana lagi?
"Aku ingin istirahat bi"
"Baiklah, panggil bibi seperti biasa jika nona menginginkan sesuatu"
Sudah dini hari, tapi Ander belum bisa tidur sama sekali. Pria itu hanya bisa duduk di balkon kamarnya ditemani oleh sebatang rokok dan sebotol wine untuk menghangatkan malamnya yang dingin ini.
"Apa wanita itu sudah tidur?" gumamnya dalam hati.
Pria itu beranjak dari duduknya tapi sebelum itu dia menengguk wine yang tersisa sedikit di dalam gelas.
Nampaknya semua orang sudah terlelap, saat ini Ander sudah seperti perampok yang mengendap-ngendap. Pria itu menempelkan telinganya di daun pintu kamar milik Ziva.
"Ceroboh sekali, kenapa dia tidak mengunci pintunya" gerutu Ander saat tangannya mencoba membuka pintu tapi ternyata terbuka.
Pria itu kembali mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar Ziva, wanita itu terlelap dengan sangat anggun. Disaat tidur seperti ini wajah juteknya terlihat sangat menenangkan.
Pandangan matanya berhenti di sebuah bulatan perut yang berisi sang buah hati. Ander berjongkok untuk mensejajarkan kepalanya dengan perut buncit Ziva.
Tangannya terangkat dengan hati-hati dan ragu Ander menyentuhnya.
Tes.
__ADS_1
Seperti terdapat sebuah sihir. Satu titik air mata keluar dari sudut matanya. Dia sangat senang bisa menyentuh anaknya untuk yang pertama kalinya.
"Kau senang bertemu daddy nak?"