
"Sebenarnya apa yang terjadi Clara? Kenapa kau terlibat masalah dengan pria brengsek itu lagi? " tanya Tuan Robert yang tak lain dan tak bukan adalah ayah dari Clara. Dia begitu terkejut saat mendengar putri semata wayangnya ditahan di kantor polisi dan begitu marah saat mendengar kalau Ander lah yang sudah membuat putri semata wayangnya begini.
"Sungguh aku tidak tahu apa-apa pa"
"Jelaskan padaku sebenarnya ada apa!" tegas Robert.
"Ini semua salahku pa, a-aku aku kembali ke negara ini hanya untuk menganggu mereka. Lebih tepatnya menghancurkan kebahagiaan Ander. Aku merasa malu dan sakit hati saat dia meninggalkanku tepat di hari pernikahan kami. Selama ini aku selalu menganggu mereka, aku berusaha menghasut istrinya dengan memperlihatkan kedekatan kami tapi anehnya wanita itu tidak terganggu sama sekali. Selama hampir satu minggu ini aku menghilang, aku tidak menemui mereka lagi sampai tadi pagi aku melihat Pak Fredi sopir Ander sedang kebingungan di pinggir jalan, aku berhenti disana dan Pak Fredi bilang kalau ban mobilnya bocor. Kebetulan Pak Fredi ingin mengantar Ziva ke GG karena kebetulan arahku searah dengannya akhirnya aku menawari Ziva tumpangan. Tapi tiba-tiba saja aku ingat ada barang yang tertinggal di apartemen. Aku mengajaknya ke apartemen terlebih dahulu dan meninggalkannya di parkiran sebentar tapi saat aku kembali, aku melihat Ziva yang digendong seseorang dengan keadaan tidak sadarkan diri. Aku mencoba melawan, tapi kalah tenaga sampai mereka berhasil membawa Ziva pergi. Tidak sampai disitu aku juga berusaha mengejar tapi kehilangan jejak, akhirnya aku putuskan untuk putar arah menuju GG dan melaporkan kejadian ini pada Ander tapi Ander malah balik menuduhku dia mengira aku yang menculik Ziva. Padahal aku tidak tahu apa-apa pa, sungguh" jelas Clara panjang lebar. Sesuai dengan apa yang ia jelaskan pada pihak kepolisian sebelumnya.
"Brengsek, lihat saja aku akan membalas perbuatannya" ucap Robert berapi-api.
"Tidak pa, jangan. Kumohon cukup sampai disini saja kita mencari masalah dengan mereka. Sekarang yang terpenting adalah tolong bebaskan aku dari sini pa, aku takut"
"Kenapa kau berbicara seperti itu Clara? Pria itu pantas dibalas!"
"Tidak pa, aku mohon. Semua ini memang salahku" Clara teringat ancaman Ander tempo hari, sudah cukup untuknya merasakan dinginnya jeruji besi hingga pikirannya sekarang bisa terbuka dengan lebar. Sungguh dia menyesal.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Aku akan menjelaskannya pada papa, tapi setelah aku keluar dari sini"
Robert menatap putri semata wayangnya dengan tatapan penasaran "Aku pasti akan mengeluarkanmu princess"
"Terima kasih pa"
...---...
"Mau kemana kau?" panggil seorang pria yang sedari tadi mengikutinya saat keluar dari kamar hotel. Dia adalah salah satu anak buah Ander.
Tara menoleh ke belakangnya, wanita itu terkejut saat mendapati seorang pria bertampang sangar sedang menatap tajam ke arahnya "Anda berbicara pada saya Tuan?"
"Tentu saja, bukankah tidak ada siapa-siapa lagi disini?" sahut Ander dari arah belakang. Tara kembali menoleh, bola matanya melebar saat mendapati seseorang yang paling ia takuti ternyata ada disini.
__ADS_1
"Tu-tuan?"
"Rupanya kau masih mengingatku ya"
"Sebenarnya kau mempunyai penyakit hati apa pada istriku hah?" tanya Ander begitu menohok.
"Ampun Tuan, aku tidak tahu apa-apa. Tolong biarkan aku pergi"
"Begitu mudahnya kau meminta pergi wanita murahan!?" geram Ander dengan suara yang dibuat serendah mungkin karena tidak ingin menganggu penghuni hotel. Tapi tetap saja sangat menusuk di hati Tara.
"Aku akan melakukan apapun untuk anda, tapi kumohon biarkan aku pergi"
"Baguslah jika kau mengerti" Ander memberi isyarat mata pada anak buahnya. Orang itu mendekat lalu menahan Tara disana supaya tidak kabur.
"Dengarkan aku baik-baik!"
__ADS_1